
"Sekarang Miss sudah datang sayang, apa kamu tidak mau menyapa ku?" tanya L menggenggam jemari anak itu
Perlahan Devan membuka matanya dan tersenyum menatapnya.
"Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga sayang," ucap L begitu bahagia
"Miss, aku kangen sama Miss," ucap anak itu dengan suara lirih
"Iya sayang, Miss juga kangen sama Devan. Jadi cepat sembuh ya agar Dev bisa belajar lagi sama Miss," jawab L
"Jadi Miss tetap mau jadi guru Dev?" tanya anak itu.
"Tentu saja sayang, meskipun Miss sudah berhenti mengajar Miss akan selalu jadi guru les kamu,"
"Terimakasih Miss," jawab Devan kemudian menunjuk ke sebuah gambar yang ada di mejanya
"Apa itu?" tanya L mengikuti arah telunjuk anak itu
L tersenyum menatap sebuah gambar hasil karya Devan yang dipajang di atas meja.
"Apa kamu yang membuatnya?" tanya L
Devan mengangguk pelan, dan meminta L mengambil gambar itu untuknya.
"Aku sangat berharap suatu saat Miss bisa jadi ibuku, agar kita bisa menjadi keluarga yang bahagia seperti dalam gambar ini," ucap Devan menunjuk gambar itu
"Maafkan Miss ya sayang karena tak bisa memenuhi keinginan kamu," jawab L mencoba menghiburnya
"Meskipun Miss tidak bisa menjadi orang tuaku tapi aku bahagia karena kamu selalu ada untukku, terimakasih Miss," jawab Devan
"Iya sayang, kamu bisa cerita apapun sama miss kalau ada masalah miss janji akan selalu mendengarkan semua ceritamu dan menjadi penasihat mu,"
"Kalau begitu maukah kamu mewujudkan satu mimpiku?" tanya Dev
"Katakanlah?" jawab L
"Aku ingin berfoto seperti gambar ini," ucap Dev berkaca-kaca
"Tentu saja kalau cuma foto saja aku bisa mengabulkannya. Tapi sebentar ya sayang, kita harus menjemput Kaka sifa dulu, kebetulan dia kan belum pulang," jawab L
"Kalau begitu biar aku yang akan menjemputnya L," jawab Sean
"Baiklah, aku akan menunggu Dev selama kamu pergi," jawab L
Sean kemudian bergegas menjemput Sifa di sekolahnya.
Selama Sean menjemput Sifa, L sengaja mengajak Dev untuk jalan-jalan keluar ruangannya untuk menikmati udara segar.
Devan terlihat begitu senang saat L membawanya ke taman rumah sakit.
"Kakak, apa kamu mau es krim?" tanya Bagas menghampiri mereka bersama Silvia
"Kaka Dev belum boleh makan eskrim sayang, jadi buat bagas saja ya nak," jawab L melarangnya
"Nenek, apa aku boleh mencoba eskrim untuk terakhir kalinya, aku janji setelah ini aku tidak akan makan eskrim lagi," ujar Devan
"Yaudah, kalau begitu boleh tapi sedikit saja ya sayang," jawab Silvia
Devan mengangguk setuju.
Bagas kemudian memberikan eskrimnya kepada Devan agar ia mencobanya.
"Gimana rasanya?" tanya Bagas
"Enak," jawab Dev sumringah
"Ini eskrim kesukaan Bagas, tentu saja enak," ucap Bagas
"Sekarang sudah lengkap semua, ayo kita foto sebentar," ucap Sean
Laila kemudian segera duduk di samping Devan dan memeluknya.
"Satu, dua, tiga, cheese!" seru Sean segera mengambil gambar mereka
Tidak lupa ia memperlihatkan gambar itu kepada Devan.
"Gimana, apa kamu suka?" tanya Sean
"Suka, aku mau ayah mencetaknya dan memasang foto ini di kamar Dev," jawab Devan
"Iya sayang, ayah pasti akan memasangnya di kamar kamu,"
"Sekarang Dev ngantuk pah, aku mau tidur,"
Sean kemudian mengantar Devan ke ruang perawatannya.
"Terimakasih L, sudah datang menemui Dev hari ini," ujar Sean
__ADS_1
"Sama-sama Sean, aku harap Dev segera sembuh ya sayang agar kita bisa liburan bareng lagi," ujar L menghampiri anak itu
"Terimakasih Miss," ucap Dev kemudian memejamkan matanya
Tidak lama Silvia memasuki ruangan itu, wanita itu datang membawa resep obat yang baru saja di tebusnya.
"Sayang kita minum obat dulu yuk," ucap L mengusap keningnya
"Dev, bangun nak, Dev, Dev!" ucap L sambil menepuk-nepuk pipinya
Laila begitu terkejut saat tidak merasakan hembusan nafas anak itu. Ia kemudian mengecek denyut nadi anak itu, Laila segera menoleh kearah Sean saat tak mendeteksi denyut nadi Devan.
"Sebaiknya kamu segera panggil dokter Sean," ucap L
"Memangnya Dev kenapa?" tanya Sean
"Dia sudah tak bernapas," jawab L gusar
Sean buru-buru menghampiri putranya dan memeriksa denyut nadinya. Seketika tubuhnya lemah saat mendapati putra tunggalnya sudah tak bernapas lagi. Ia kemudian mengecup kening putra sulungnya itu, "Inna Lillahi wa inna ilaihi Raji'un," ucap Sean kemudian terisak di sampingnya.
Silvia langsung menangis sejadi-jadinya membuat Semua yang ada di sana ikut larut dalam kesedihan.
Melihat semuanya bersedih membuat L berinisiatif untuk memanggil dokter untuk memberitahukan keadaan Devan.
Tak lama L kembali dengan seorang dokter bersamanya.
"Hari minggu pukul 17.00 waktu Indonesia bagian barat, ananda Devan Harun telah meninggal dunia," ucap Sang dokter kemudian segera mencabuti semua peralatan infus yang menempel di tubuhnya.
Sementara itu, Sean begitu terpukul dengan kepergian putra semata wayangnya. Lelaki itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya hingga menangis tersedu-sedu di samping jenazah Devan.
L yang tak tega melihatnya mencoba menenangkannya.
"Sabar ya Sean, aku yakin ini mungkin yang terbaik untuk Dev, dia Sudah bahagia dan terbebas dari rasa sakitnya, jadi ikhlaskan dia dan jangan menangis lagi karena itu hanya akan memperberat jalan Dev menemui sang Khaliq," ucap L kemudian mengusap air mata Sean dan kemudian memeluknya.
"Aku tahu ini pasti sangat berat, tapi yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah memberikan cobaan kepada_. semua hambanya dia hanya akan memberikan jawaban sesuai dengan kemampuannya," ujar L
*********"**
Gedung Aditama Group, sementara itu Barri tampak gugup saat menunggu kedatangan Nirmala.
Sampai pukul setengah satu siang wanita itu belum juga menampakkan batang hidungnya membuat Barri semakin panik.
"Jangan buat aku menunggu lebih lama lagi Nirmala!" pekiknya sambil merasa lemas.
"Apa gadis itu sudah menyerahkan buku itu kepada Andru, ah sial!" serunya kemudian segera bergegas keluar dari ruangannya.
"Maaf saya terlambat," ujar seorang wanita menghentikan langkahnya.
Ia kemudian menarik wanita itu masuk.
"Mana bukunya!" seru Barri tanpa basa basi
Nirmala segera memberikan sebuah buku laporan keuangan kepadanya.
"Kalau begitu cepat pergi dari sini!" ujar Barri membuat Nirmala buru-buru meninggalkan tempat itu.
Setelah gadis itu pergi, Barri langsung mengunci ruangannya dan mencari memeriksa satu persatu tumpukan kwitansi yang terlampir di laporan keuangan tersebut.
Matanya langsung berbinar-binar saat menemukan benda yang dicarinya.
"Akhirnya aku menemukannya juga,"
Barri segera membakar kwitansi itu dan mengembalikan buku besar itu di ruang kerja Lexi.
Pagi harinya William sendiri yang menemui Lexi dan menginterogasinya di kantor polisi.
Lelaki itu sengaja menanyakan benda apa saja yang sudah dibeli oleh pemuda itu yang tidak pernah ia laporkan dalam buku besar.
Lexi tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya kepada sang kakek.
"Jika kamu hanya membeli barang-barang itu mustahil kamu bisa menghabiskan uang sebesar seratus miliar. kalau hanya untuk membeli benda-benda itu. Lalu bagaimana dengan sisanya dan di mana kamu mendepositokan uang itu?" Tanya William memastikan
Aku
Namun Lexi tetap bersih keras bahwa ia tidak membeli barang-barang selain yang sudah disebutkannya.
"Aku tidak bohong kakek, kalau kakek tidak ada yang akan percaya silahkan lihat sendiri ke kamar ku, kalau kakek lebih mempercayainya daripada cucumu sendiri," seru Lexi
"Aku ingin sekali percaya dengan mu, tapi melihat semua bukti-bukti dalam buku besar itu membuat ku tak bisa mempercayai mu," jawab William
"Kalau boleh tahu siapa yang sudah memberitahu mu tentang buku besar itu?" tanya Lexi
"Barri," jawab William membuat Lexi benar-benar terkejut mendengar jawaban William.
Rasanya ia tak percaya mendengar ucapan sang kakek. Bagiamana pun juga ia tak mengerti Kenapa Barri memberikan buku itu kepada William. Apa ia sengaja ingin menjatuhkan semua kesalahan kepadanya??.
Lexi benar-benar tidak menduga jika Barri akan melakukan hal itu padanya.
__ADS_1
"Apa maksud semua ini Bar?"
Lexi baru sadar setelah pihak kepolisian meningkatkan kasusnya menjadi P 21 dan akan membawanya ke pengadilan.
Belakangan Leci baru menyadari kebodohannya memberikan buku laporan keuangan itu kepadanya.
"Sekarang aku tahu kenapa kamu melakukan semua ini padaku, rupanya kamu ingin menumpahkan semua kesalahanmu padaku," ucap Lexi
Di hari persidangan yang pertama Lexi benar-benar membuat semua orang terkejut dengan pernyataannya yang menyatakan bahwa semua laporan keuangan yang ada adalah fiktif . Lexi kemudian memberitahukan kepada hakim keberadaan buku besar yang asli.
Mendengar penuturan Lexi membuat Barri kebakaran jenggot dan berusaha mencari buku itu do ruangannya.
Ia tahu kali ini mungkin Lexi menyembunyikan bukunya kepada Lexi.
"Ayolah L, berikan buku itu padaku?" bujuk Barri menemui Lexi di lapas.
"Mana mungkin aku aka. memberikan bukti itu pada pengkhianat seperti dirimu. Bagaimana mungkin kamu tega membiarkan aku membusuk disini sementara diri kamu bersenang-senang di luar," sahut Lexi
"Jangan salah sangka, aku melakukan semua ini untuk mengulur waktu, aku ingin tahu apa reaksi mereka saat tidak berhasil menemukan buku besar tersebut," jawab Barri
"Kau pikir aku ini anak kecil bodoh yang akan menuruti perintah mu apa, kau salah Bar, justru kau harus waspada karena aku akan segera menjebloskan mu ke penjara menggantikan diriku." jawab Lexi kemudian bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali kedalam sel tahanannya.
Sementara itu Lexi sudah yang mulai jengah segera keluar dari ruang kerjanya untuk menari udara segar.
"Dimana aku bisa menemukan buku itu, bagaimanapun juga Andru tidak boleh menemukan buku itu, aku yakin kakek pasti akan menghukum ku saat ia tahu apa yang sudah aku lakukan," Barri kemudian berpikir untuk mencegah Andru menemukan buku itu bagaimanapun caranya.
Ia tidak mau jika William mengetahui kesalahannya dan mengusirnya dari keluarga Aditama.
Diam-diam ia mulai memata-matai gerak - gerik Andru mulai hari itu.
Bukan hanya Andru, ia bahkan mengawasi semua orang yang membantunya menginvestasi kasus Lexi.
"Sepertinya ada yang salah," ucap Sang akuntan saat melihat perbedaan transaksi di buku besar milik Lexi dengan transaksi keuangan di buku besar milik perusahaan.
"Benar, transaksi ini di buku besar perusahaan tidak ada tapi di buku besar Lexi ada," jawab Andru
"Tapi aku tidak bisa menemukan kwitansi pembelian barang-barang tersebut," jawab sang akuntan
"Sepertinya ada seseorang yang lebih dulu menemukan buku ini dan membuang bukti-bukti penting dalam buku ini," tukas Andru
"Lalu bagaimana kita bisa membuktikan transaksi ini ilegal?" tanya sang akuntan
"Kita harus mendatangi tempat mereka membeli barang-barang tersebut,"
"bagaimana jika toko tersebut adalah fiktif," jawab sang akuntan
"Jika itu benar maka transaksi ini secara otomatis langsung masuk kedalam transaksi illegal. Meskipun kita tidak tahu siapa yang membelanjakannya, pasti Lexi tahu. Aku yakin dia pasti hafal transaksi yang sudah dilakukannya dan juga transaksi yang tidak pernah ia lakukan," jawab Andru
"Kalau begitu biar aku yang menemui Lexi dan menanyakan tentang transaksi ini,"
"Baiklah, aku serahkan semuanya sama kamu," jawab Andru
Barri yang sudah menunggu Andru kemudian mengikuti lelaki itu saat ia hendak pulang.
Andru yang merasa diikuti oleh seseorang sengaja memutar mobilnya menuju jalur ramai agar Barri tak bisa mengejarnya.
Aksi kejar-kejaran antara keduanya terjadi di jalan raya. Barri yang notabene mantan seorang pembalap tidak susah untuk mengejar Andru meskipun lelaki itu berusaha mengecohnya.
*Ciittt!!
Barri sangat terkejut saat Andru tiba-tiba menghentikan mobilnya dan segera turun menghampirinya.
Ia kemudian menggedor-gedor kaca mobil Barri dan meminta pemuda itu untuk turun.
"Cepat turun, atau aku akan menelpon polisi karena kau berusaha membuntuti ku!" ancam Andru
Barri kemudian segera turun dari mobilnya dan menemui Andru.
"Melihat caramu memata-matai aku, sepertinya kamu memiliki niat yang tidak baik padaku. Apa kau sengaja mengikuti ku agar bisa membunuhku?" tanya Andru membuat Barri membelakakan matanya
"Jangan suudzon,"
"Kalau bukan untuk membunuhku, lalu untuk apa kamu terus mengikuti aku sampai rela merusak mobil mahal mu?"
"Jangan bilang kau terlibat dalam kasus Lexi dan berniat mengambil barang bukti yang aku bawa??" imbuh Andru memperlihatkan sebuah buku Agenda milik Lexi.
"Kau tahu apa yang ada dalam buku ini??" tanya Andru
Barri seketika menggelengkan kepalanya menatap nanar kearah Andru.
"Disini tercantum semua transaksi gelap yang dilakukan oleh kepala divisi keuangan yang mengatasnamakan sebagai kepala divisi pengadaan barang, kau tahu jika buku ini aku berikan kepada pihak pengadilan maka kamu akan segera mendekam dalam jeruji besi menggantikan Lexi," ucap Andru kemudian bergegas meninggalkan pemuda itu dan masuk kedalam mobilnya
Barri mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Andru.
"Bagaimana caranya aku tidak boleh membiarkan dia untuk memberikan buku itu kepada pengadilan," Barri segera masuk kedalam mobilnya dan berputar ke arah yang berbeda dengan Andru
Ia sengaja mencari jalan yang berlawanan dengan Andru agar pemuda itu tak mencurigainya jika ia masih mengejarnya.
__ADS_1
Saat melihat Andru mulai memperlambat mobilnya di sebuah tikungan, Barri sengaja mempercepat laju kendaraannya dan menabrak mobil Andru hingga mobil itu terpental menabrak mobil di depannya.
Sebuah kecelakaan beruntun tak bisa dihindarkan. Barri segera memutar mobilnya meninggalkan lokasi kejadian.