DINIKAHI BRONDONG

DINIKAHI BRONDONG
Papah untuk Sifa


__ADS_3

Siang itu Sifa tampak lesu, gadis kecil itu berjalan kaki dengan menunjukkan wajah sedihnya.


Masih teringat jelas ejekan teman-temannya yang membullinya karena tidak memiliki ayah.


Gadis itu memilih duduk di taman sebelum dan terlihat enggan pulang.


Sore harinya L begitu kebingungan, karena Sifa tak kunjung pulang. Ia kemudian menghubunginya wali kelasnya. Laila tercengang saat tahu ternyata Sifa sudah pulang dari sekolah.


"Kemana dia??" Laila sudah berkali-kali menghubunginya namun anak itu tidak mau mengangkat ponselnya.


"Apa aku juha harus lapor polisi?" Laila pun menghubungi sahabat dekat Sifa dan menanyakan apa yang terjadi dengan putrinya.


Laila terkejut saat mendengar penuturan sahabat Sifa.


Ia segera berganti pakaian dan mencari putrinya di taman dekat rumah, namun ia tak bertemu dengan Sifa juga.


"Dimana sih kamu nak, ayolah angkat telpon mamah, jangan bikin mamah panik," L kemudian duduk di bangku taman sambil untuk menenangkan dirinya


Ia juga menelpon Krisna, menanyakan apa anak itu ada bersamanya atau tidak.Namun Krisna menjawab tidak ada.


Alternatif terakhir dia menghubungi Andru, ada kemungkinan Sifa menemui Andru atau menghubunginya.


"Sifa, tidak bersama ku L," ucap Andru


"Memangnya kenapa dia?" tanya Andru


"Dia hilang Ndru," ucap L terisak


Andru kemudian meminta L untuk menunggunya, tak lama Pemuda itu datang menghampirinya di taman.


L langsung memeluk Andru dan menangis tersedu-sedu.


"Jangan sedih dong sayang, aku yakin kita pasti bisa menemukan Sifa," ujar Andru


Lelaki itu kemudian mengajak L untuk mencari Sifa.


Ia juga menanyakan tempat apa yang biasa di kunjungi oleh Sifa.


Setelah mendengar jawaban L, Andru kemudian mendatangi tempat tersebut satu demi satu. Meskipun hasilnya nihil tetap saja pemuda itu berusaha mencarinya tanpa lelah.


Ia kemudian menghentikan motornya dan mencoba menghubungi gadis itu.


"Halo Sifa, kamu dimana nak?" tanya Andru


"Aku ada di rumah Om Sean," jawab Sifa


Mendengar jawaban Sifa, Andru segera melesat menuju kediaman Sean.


Setibanya di rumah Sean Laila segera memeluknya putrinya erat.


"Kenapa kamu gak pulang sayang, kalau ada masalah cerita dong sama mamah, biar mamah tahu apa yang kamu rasakan. Jadi mamah bisa bantu Sifa. Kalau gini kan mamah gak tahu apa yang Sifa rasakan dan gak bisa bantu selesaikan masalah Sifa," ucap L mengusap lembut rambutnya


"Maafin Sifa mah, aku cuma gak mau bikin mamah sedih," jawab Sifa berkaca-kaca


"Mamah gak akan sedih nak, justru mamah senang kalau kamu mau cerita. Setidaknya dengan kamu bercerita bisa mengurangi beban kamu, dan kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama,"


"Iya mah, nanti Sifa pasti cerita kok,"


"Ok, kalau gitu kita pulang yuk," ajak L


Sifa kemudian mengangguk dan mengambil tasnya.


L kemudian mengajak gadis itu untuk berpamitan kepada Silvia dan juga Sean.

__ADS_1


"Terimakasih Sean sudah menolong Sifa dan mengajaknya ke sini," ucap L


"Sama-sama L, tapi maaf aku gak bisa menenangkan Sifa, maklum saja aku tidak punya anak perempuan jadi aki bingung bagaimana cara mendekatinya. Maaf juga aku tidak mengantarnya pulang ke rumah kamu atau menghubungi kamu karena Sifa gak mau kamu tahu kalau dia ada masalah," jawab Sean


"Iya aku mengerti, thanks ya sudah ngertiin Sifa,"


"Miss!!" seru Devan berlari menghampirinya


"Apa sayang?" tanya Sifa langsung menyambut Devan yang membawa dua buah eskrim ditangannya


"Sepertinya kak Sifa butuh es krim biar gak sedih lagi," jawab Devan kemudian memberikan sebuah eskrim padanya


"Makasih dek," jawab Sifa tersenyum padanya


"Kaka jangan sedih lagi, nanti kalau ada yang nakal lagi beritahu Dev, biar aku gigit orang yang udah bikin kakak nangis," tutur bocah tujuh tahun itu dengan wajah geram membuat Sifa langsung mengangguk.


"Terimakasih ya sayang, sekarang Miss sama Kaka sifa pulang dulu ya," ucap L berpamitan


Saat mereka berjalan meninggalkan ruang tamu Dev berlari mengejar mereka.


"Kaka kalau sedih karena gak punya papah, kamu boleh kok anggap papah Dev sebagai papah kamu," ucap Devan membuat semua orang tercengang mendengarnya


"Boleh kan Pah?" tanya Devan menarik lengan Sean


Lelaki itu terdiam sejenak mendengar ucapan putranya, namun ia segera mengiyakan permintaan putranya saat anak itu terus merajuk padanya.


"Boleh ya pah, boleh ya!"


"Tentu saja boleh," jawab Sean


"Yeay!!" seru Devan segera berlari menghampiri Sifa


"Sekarang papah aku sudah jadi papah kamu juga, jadi jangan sedih lagi ya," ucap Dev


Dev melambaikan tangannya saat melihat kepergian Laila dan Sifa.


Setibanya di rumah Sifa langsung bergegas menuju ke kamarnya.


Laila yang merasa tidak enak dengan Andru karena masalah Sean kemudian mendekatinya.


"Kamu jangan salah sangka ya dengan Sean, aku sama dia gak ada apa-apa. Kami hanya sebatas rekan kerja saja," ucap L mencoba menjelaskan semuanya


"Iya aku tahu kok L, santai saja. Aku mengerti kenapa Dev bilang seperti itu," jawab Andru


"Beneran kamu gak marah kan?" tanya L lagi


"Iya dong sayang, kenapa aku marah sama kamu, kan yang manggil papah Sean itu Sifa bukan kamu, kalau kamu yang manggil Sean papah baru aku marah,"


"Thanks ya Ndru udah ngertiin keadaan kami," jawab L


"Iya sayang, btw Bagas dimana kok belum kelihatan?" tanya Andru


"Tadi aku titipkan ke tempat penitipan anak saat aku mencari Sifa," jawab L


"Memangnya belum tutup ya tempat penitipan anaknya,"


"Belum, mereka tutup jam sembilan malam," jawab L


"Yaudah kalau gitu aku jemput Bagas dulu ya, kamu di rumah aja jaga Sifa," tutur Andru


L langsung mengangguk dan bergegas masuk ke dalam.


Ia kemudian menghampiri Sifa di kamarnya .

__ADS_1


"Gimana apa kamu mau cerita?" tanya Laila


Sifa hanya diam tak menjawabnya.


"Yaudah kalau kamu belum mau cerita, sekarang lebih baik kamu mandi nanti mamah masakin makanan kesukaan kamu ya,"


Syifa langsung mengangguk dan bergegas menuju ke kamar mandi.


melihat putrinya sudah masuk ke kamar mandi Laila kemudian sekarang menuju ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.


Tidak lama Andru pulang bersama Bagas, keduanya tampak begitu senang hingga terus bercengkrama di ruang tamu.


melihat kedekatan Bagas dan Andru membuat L merasa bahagia.


Semoga kali ini aku tidak salah pilih.


"Makan malam sudah siap, ayo kita makan!" seru L membuat Andru langsung menggendong Bagas menuju meja makan


Sifa yang sudah selesai mandi juga langsung menuju ke meja makan.


"Kenapa aku merasa seperti sudah menjadi bagian keluarga ini," ucap Andru menatap L dan kedua buah hatinya


L hanya tersenyum menanggapi ucapan Andru.


"Semoga saja hubungan kita berjalan mulus kaya jalan tol ya Ndru," ucap L penuh harap


"Aamiin, semoga saja ya L. Aku juga berharap bisa terus makan di meja ini bersama kalian sebagai kepala rumah tangga keluarga ini. Aku mau menjadi ayah Sifa agar dia tidak di bully lagi di sekolah," ucap Andru membuat Sifa langsung terharu mendengarnya.


"Makasih papah Andru," ucap Sifa langsung berlari memeluk pemuda itu.


"Iya sayang, jangan sedih lagi ya. Mulai besok papah janji akan antar jemput kamu kesekolah, sekalian papah juga mau ketemu sama anak yang suka bully kamu," ucap Andru mengusap air mata Sifa


"Iya papah, terimakasih,"


"Jangan sedih lagi ya sekarang kita makan dulu yuk," jawab Andru


Sifa mengangguk dan langsung duduk di kursinya.


Sementara itu Bagas terus diam sambil menatap tajam kearah Andru.


"Kamu kenapa lagi Baby?" tanya Andru mencubit gemas pipi Bagas


"Aku juga mau di antar jemput sama papah," jawab Bagas


"Tentu saja sayang, bukan hanya kamu, tapi mamah juga pasti akan papah antar jemput tiap hari," jawab Andru


"Yeay!" seru Bagas kegirangan


"Emangnya kamu gak kerja apa sampai mau antar jemput kita tiap hari?" tanya L


"Gak, sementara ini aku masih jadi pengangguran L," jawab Andru menggaruk-garuk kepalanya


"Kalau kamu mau jadi kepala rumah tangga minimal kamu harus punya pekerjaan agar keluarga kamu tidak kelaparan," sahut L


"Baik Sayang, rencananya aku juga aku mau kerja,"


"Memangnya kamu gak kuliah apa?"


"Oh soal itu, aku sementara cuti karena sakit kemarin. Nanti kan aku bisa kuliah sambil kerja L, kamu gak keberatan kan punya cowok miskin kaya aku,"


"Tentu saja tidak, asalkan kamu tidak miskin hati, gak masalah," jawab L


"Eaaa," jawab Andru tertawa mendengar jawaban L

__ADS_1


"Jangan khawatir L, meskipun aku miskin harta tapi aku kaya cinta," jawab Andru membuat semuanya tertawa Mendengarnya


__ADS_2