DINIKAHI BRONDONG

DINIKAHI BRONDONG
Restu


__ADS_3

"I Love you L," ucap Sean kemudian mengecup bibir wanita itu


Seketika L membelakakan matanya saat Sean tiba-tiba menciumnya.


*Plaakkk!!


Laila yang terkejut reflek langsung menamparnya.


"Ups!!"


"Oh!!"


Semua orang seketika berseru kaget saat melihat L yang langsung menampar wajah Sean.


Sean terlihat memegangi pipinya, sementara L langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ia segera menghentikan sebuah taksi


Sean segera berlari mengejarnya.


"L, tunggu," Sean menarik lengan gadis itu untuk menghentikannya, namun Laila segera menepisnya dan segera masuk kedalam taksi dan melesat meninggalkan tempat itu.


*plok, plok, plok!!


Terdengar suara seorang wanita bertepuk tangan sembari menghampiri Sean.


"Wah sepertinya ada yang menjilat ludahnya sendiri," cibir mawar menghampiri Sean


"Kau bilang tidak akan pernah jatuh cinta lagi dan tidak akan pernah percaya dengan wanita, tapi malam ini kau mengingkari kata-kata mu sendiri, dasar munafik!" seru Mawar


"Memangnya kenapa, apa urusanmu jika aku berubah pikiran. Jangan bilang kau jelous dan ingin kembali padaku, cih jangan mimpi!" sahut Sean kemudian segera meninggalkan tempat itu


Ia segera mengambil mobilnya dan meluncur mengejar L.


*Ciiitt!!


Sean segera menghentikan mobilnya di depan taksi yang membawa L pergi. Lelaki itu segera meminta sang sopir untuk membuka pintu mobilnya.


"Kita harus bicara L," ucap Sean menghampiri L


"Ayolah L kita selesaikan urusan kita, jangan buat aku semakin merasa bersalah dengan terus mendiamkan aku," pinta lelaki itu


L kemudian turun membuat Sean sedikit merasa lega. Ia kemudian membayar ongkos taksi dan mengajak L masuk kedalam mobilnya.


Lelaki itu kemudian membawa L ke sebuah kafe yang tak begitu ramai.


Ia mengajak L turun dan mengajaknya kesebuah ruang VIP.


"Sebelumnya aku benar-benar minta maaf jika telah membuat mu merasa tak nyaman. Sungguh tidak ada niat melecehkan atau apapun. Aku hanya reflek karena aku tak bisa mendengar Hera terus merendahkan mu," ujar Sean memberikan penjelasan


"Terimakasih atas kepedulian mu, tapi tidak begitu juga caranya Sean," jawab L


"Maafkan aku yang terlalu gegabah dan tidak memikirkan akibatnya bagi dirimu, aku memang sembrono dan tak bisa berpikir panjang saat melihat seseorang menyakiti mu," imbuhnya


L hanya menghela nafas mendengar alasan pria itu.


"Sudahlah jangan di bahas lagi, aku mengerti maksudmu tapi tidak semua orang bisa mengerti apa maksud tindakan kita. Bisa saja ada seseorang yang sengaja menggunakan momen ini untuk hal-hal tertentu yang bisa menjatuhkan mu," jawab L


"Aku harap kau bisa menjelaskan kejadian ini kepada Ibumu, aku takut ia akan salah sangka padaku, saat mendengar kejadian ini dari orang lain," imbuh L


"Ok, aku pastikan ibuku tidak salah sangka denganmu," sahut Sean


"Sepertinya masalah kita sudah selesai, kalau begitu aku pulang dulu,"

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang,"


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri,"


"Jangan begitu L, anggap saja ini sebagai permintaan maaf aku padamu," tegas Sean


"Tidak perlu, tanpa mengantar ku pulang pun aku sudah memaafkan mu," jawab L kemudian bergegas pergi


Sean segera menyusul wanita itu, "Kau tidak akan bisa menemukan angkutan umum di sini," ujar Sean


"Kalau begitu biar aku pesan ojek online saja,"


"Kenapa tidak bareng denganku saja," ucap Sean


Laila hanya tersenyum kemudian berlalu pergi. Tiba-tiba L merasakan kepalanya terasa begitu sakit hingga ia hampir jatuh, beruntung Sean langsung menangkapnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sean


"Kepalaku sakit banget!" ucap L memegangi kepalanya yang terasa pening


"Kalau begitu ayo kita ke klinik untuk berobat?"


"Tidak perlu, antarkan saja aku ke apotek, biasanya setelah minum obat sakit kepala langsung sembuh," jawab L


Sean langsung mengangguk dan memapahnya masuk kedalam mobil.


Sean kemudian menghentikan mobilnya didepan sebuah apotek.


Ia kemudian menanyakan kepada L obat apa yang biasa dikonsumsinya.


"Kamu tunggu di sini saja biar aku yang membelikannya," tutur Sean kemudian segera bergegas menuju apotek


Tidak lama ia kembali dengan membawa obat dan sebotol air mineral.


L segera meminum obat itu, "Terimakasih Sean,"


"Sama-sama L," Sean langsung meluncurkan mobilnya mengantar L pulang.


Malam itu jalanan ibukota begitu macet membuat perjalanan menuju ke rumah L memakan waktu lebih lama. Karena pengaruh obat L pun tertidur dalam mobil.


Setibanya di rumah Laila, Sean tak tega untuk membangunkan L yang terlihat begitu pulas. Ia terus memperhatikan L yang tertidur di bahunya.


Cukup lama Sean menunggu hingga L terbangun dengan sendirinya.


"Sudah sampai rupanya," L langsung melirik kearah jam tangannya


"Astaghfirullah, aku pasti ketiduran, kenapa kau tak membangunkan aku," tukas L begitu panik saat mengetahui ia pulang larut malam


"Maaf L aku tak berani membangunkan mu, karena sepertinya kau begitu kelelahan hari ini," jawab Sean


"Yaudah gak papa, sekali lagi terimakasih Sean," Laila kemudian turun dan langsung masuk kedalam rumahnya.


Setibanya di rumah Sean langsung memberitahu Silvia perihal kejadian saat ia menghadiri undangan dari kementerian.


"Aku yakin kau pasti melakukannya dengan sepenuh hati," ucap Silvia seakan tahu apa yang dipikirkan oleh putranya


"Maafkan aku Bu, meskipun aku berusaha untuk mengacuhkannya namun entah kenapa aku tidak bisa," jawab Sean


"Kau sudah berubah Sean, kau berubah setelah mengenal L. Meskipun kau coba menyembunyikannya dariku tetap saja aku bisa mengetahui bagaimana perasaan mu kepada wanita itu," jawab Silvia


"Maafkan aku jika sudah mengecewakan mu ibu, tapi kali ini aku benar-benar merasakan hal yang berbeda saat bersama L, biasanya aku tertarik dengan wanita karena ***, namun tidak dengan L. Ia benar-benar membuatku terpesona dengan kepribadiannya yang lembut, tegas dan berkharisma," ucap Sean menerawang

__ADS_1


"Sekarang ibu tak bisa melarang-larang mu lagi nak. Bagiku sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan Dev, aku juga sadar jika anak itu selalu bahagia saat bersama L, kalau kau memang mencintainya maka kejarlah dia," tutur Silvia


Sean begitu terkejut saat mendengar penuturan Ibunya. Ia tak menyangka jika ibunya akan luluh secepat itu. Namun tak bisa dipungkiri ia begitu bahagia saat mendapatkan restu dari ibunya itu.


Pagi harinya di Citra Buana International School.


Semua orang tampak berbisik-bisik saat melihat kedatangan L memasuki ruang guru. Mereka tampaknya masih membicarakan tentang Perlakuan Sean kepadanya di pesta.


L tampak acuh dan tidak menghiraukan ucapan mereka.


Sean yang datang tak lama setelah Langsung menggebrak meja membuat semua orang seketika berhenti bergosip tentangnya.


Saat semua orang diam tiba-tiba seorang datang ke ruang guru melaporkan bahwa ada salah satu siswa yang terluka karena jatuh dari tangga.


Sean segera meminta L untuk mengantar anak itu ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit seorang dokter mengenalinya.


"Bukankah kau wanita kemarin yang datang bersama Pak Sean dan melakukan tes darah?"


"Benar, memangnya ada apa?" tanya L


"Hasilnya sudah keluar Bu, kamu bisa mengambilnya di ruangan ku," jawab dokter itu


Laila kemudian mengikuti wanita itu untuk mengetahui hasil tes darahnya.


Sang dokter kemudian memberikan hasil tes darahnya kepada L.


"Menurut hasil tes, anda dideteksi mengidap kanker serviks," ucap sang dokter membuat L seketika terkejut mendengarnya


"Kanker?"


"Benar, beruntung anda bisa mendeteksinya lebih dini sehingga bisa melakukan pengobatan lebih awal untuk mencegah kanker ini berkembang menjadi ganas,"


"Apa saya akan mati karena penyakit ini?" tanya L begitu gusar


"Tentu saja anda bisa sembuh jika melakukan pengobatan secara rutin, Meskipun kemungkinan hidup anda kecil, tapi dengan pengobatan sejak dini aku yakin bisa menyembuhkan penyakit ini,"


Seketika L merasakan tubuhnya lemas setelah mendengar penjelasan sang dokter, bagaimana tidak, kedua anaknya masih kecil dan masih membutuhkan kasih sayangnya hingga dewasa. Ia tak bisa membayangkan jika harus mati muda dan meninggalkan anak-anaknya saat mereka masih membutuhkan kasih sayang darinya.


Hari itu L sengaja meminta ijin untuk pulang lebih cepat.


Ia buru-buru menjemput Bagas di tempat penitipan anak dan membawanya pulang.


"Anak mamah gimana sekolahnya hari ini?" tanya L mencoba terlihat ceria didepan putranya


"Senang," jawab anak itu sambil melompat riang,


"Senang kenapa sayang?" tanya L lagi sambil menciumi putra bungsunya itu


"Senang mamah pulang," jawab Bagas dengan polosnya


Hari itu L sengaja mengajak Bagas bermain di arena bermain anak di sebuah Mall, ia juga menyempatkan diri menjemput Sifa dan mengajaknya makan diluar untuk menyenangkan hati anak sulungnya itu.


"Mama kenapa sih hari ini tumben-tumbennya ngajak kita makan diluar, terus ngemall juga. Memangnya mamah dapat bonus ya," goda Sifa


"Bukan sayang, hanya saja mamah ingin lebih dekat dengan kalian. Mamah sadar jika selama ini mamah lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja dan lebih sering meninggalkan kalian,"


"Oklah kalau begitu, sering-sering aja kaya gini mah!" celetuk Sifa


Malam itu L tak bisa tidur karena terus memikirkan ucapan sang dokter, ia kemudian menatap sendu wajah kedua buah hatinya yang sudah terlelap.

__ADS_1


Ia mengusap lembut mereka satu persatu dan mencium keningnya.


Seketika tangisnya pecah saat membayangkan jika ia benar-benar tiada dan meninggalkan kedua buah hatinya yang masih kecil itu.


__ADS_2