
Pagi itu adalah hari pertama Bagas bersekolah, namun siapa sangka anak itu masih mendengkur keras di kamar tidurnya padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Sayang bangun dong, ayo kita siap-siap pergi ke sekolah," ucap L berusaha membangunkannya
"Gak mau sekolah," jawab Bagas dengan mata yang masih terpejam
"Kenapa?" tanya L
"Karena papah gak mau anterin Bagas," jawabnnya lesu
"Jangan merajuk dong, masa karena papah gak mau anter sekolah kamu jadi gak mau sekolah. Bagas kan tahu kalau papah masih sakit, dia juga belum bisa jalan jadi belum bisa antar kamu ke sekolah. Nanti kalau Papah sudah sehat dan bisa jalan lagi pasti papah akan anter kamu ke sekolah tiap hari. Jadi hari ini biar mamah aja ya yang anter Bagas ie sekolah," L berusaha memberikan penjelasan kepada anaknya
Tidak lama Bagas pun mulai membuka matanya, "Gendong," rengekannya membuat L langsung menggendongnya ke kamar mandi
Selesai mandi, dab berganti pakaian L mengajak Bagas untuk sarapan bersama. Sementara itu, Andru buru-buru bergegas pergi kantor.
"Kamu tidak sarapan dulu sayang," ucap L menghampiri Andru
"Aku tidak sempat, hari ini aku ingin menemui Lexi sebelum sidang di mulai jadi buru-buru, maaf ya,"
"Kalau begitu biar aku bikinin bekal,"
"Gak usah, aku bisa makan di kantin nanti, sebaiknya kamu fokus saja jaga Bagas,"
"Ok, tapi kalau kamu mau makan masakan ku tinggal telpon saja ya, nanti aku pasti anterin," jawab L
"Iya," Andru kemudian menghampiri Bagas dan menciumnya
"Papah berangkat ya sayang, jangan nakal dan harus nurut sama mamah,"
"Iya pah," jawab Bagas kemudian melambaikan tangannya kepadanya
********
Semua orang tampak cemas saat menunggu saksi kunci yang akan dihadirkan oleh Lexi.
Diantara orang-orang yang hadir disana, tampak Barri beserta assistant pribadinya duduk di deretan paling belakang.
"Kira-kira siapa yang akan dihadirkan Lexi?" tanya Barri
"Aku sudah menyingkirkan semua orang yang terkait dengan pembelian barang-barang itu, jadi anda tidak perlu khawatir. Meskipun ia berusaha mencari mereka tetap saja dia takan bisa menemukannya," jawab assisten Barri
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kita lihat saja, siapa yang akan membantunya kali ini," ujar Barri
Semua orang tampak menatap kearah Andru yang memasuki ruangan itu.
"Apa yang dia lakukan disini, apa dia akan menjadi saksi untuk Lexi?" ujar Barri merasa gemetar
Namun seketika ia merasa lega saat melihat seseorang berjalan masuk di belakang Andru.
"Siapa pria itu?" tanya Barri
"Aku belum pernah melihatnya," jawab Assistennya
"Apa dia saksi untuk Lexi," Barri terus mengikuti kemana lelaki itu pergi. Jantungnya seketika berdetak kencang saat melihat lelaki itu melewati kursi saksi.
__ADS_1
"Kalau bukan dia saksinya berarti, Andru??" Barri kemudian menoleh kearah Andru yang sudah duduk di depan sang hakim untuk bersaksi.
Barri kembali dibuat tercengang saat Andru mengatakan jika Lexi bukan pelaku penggelapan uang perusahaan.
Namun kesaksian Andru langsung dibantah oleh pihak jaksa.
"Bagaimana mungkin seorang yang sedang mengalami amnesia boleh bersaksi," ucap Sang Jaksa
"Kata siapa aku mengidap amnesia?" jawab Andru dengan lantang
"Kalau yang mulia hakim ingin mengetahui apa saya menderita amnesia atau tidak silakan tanya kepada dokter yang merawat saya," ucap Andru kemudian mempersilakan seorang dokter memasuki ruang persidangan
Sang Dokter kemudian membenarkan ucapan Andru dan menjelaskan hasil diagnosa selama ia merawatnya.
"Sekarang apa yang mulia masih meragukan ingatanku?"
"Tentu saja tidak," jawab sang hakim
Tidak lupa Andru memberikan buku catatan pribadi Lexi sang hakim.
Sekarang tamatlah riwayatku,
Andru kemudian memberikan sebuah buku agenda kepada sang hakim.
"Di dalam. buku itu tertulis semua transaksi yang dilakukan oleh Divisi perbekalan. Silakan bandingkan semua transaksi di laporan keuangan dengan catatan di buku itu." tutur Andru
"Aku hampir saja tertipu denganmu," ucap Barri begitu geram
Setelah memeriksa semua transaksi pembelian dalam laporan keuangan yang diberikan oleh Andru
"Setalah membandingkan semua transaksi pembelian dalam buku catatan harian Lexi dengan buku besar keuangan perusahaan, maka dengan ini saya memutuskan bahwa saudara Lexi Aditama tidak bersalah dan akan seger dibebaskan dari semua tuduhan. Dan untuk kelanjutan kasus ini akan dibuka lagi setelah pihak penyidik menemukan siapa pelaku sebenarnya,"
"Terimakasih sudah membantuku, aku yakin setelah aku bebas, aku akan menemukan siapa pelaku sebenarnya," ucap Lexi menemui Andru
"Kembalikan bekerja dan segera bawa keluar pelakunya dari gedung Aditama Group,"
"Tentu saja," jawab Lexi kemudian meninggalkan Andru
********"
Sementara itu Bagas terlihat begitu senang di sekolah barunya yang memiliki banyak benda-benda yang bisa ia mainkan di ruang kelasnya.
Bocah itu bahkan tak bisa duduk diam seperti teman-temannya yang lain. Ia lebih asyik memainkan alat peraga yang dibawa oleh sang guru daripada mendengarkan saat ia menjelaskan.
Tentu saja hal itu membuat sang guru beberapa kali memperingatkannya.
L yang juga menunggunya di sana beberapa kali terlihat menegur putra bungsunya itu, namun ia tetap saja tak berhenti bermain dan berputar-putar di kelas.
Dihari pertama belajar guru tidak masih memaklumi tindakan Bagas yang dianggap masih beradaptasi dengan lingkungan barunya, namun di hari kedua dan ketiga ia masih tetap sama yaitu tidak bisa duduk tenang di dalam kelas. Meskipun ia tak mengganggu teman-temannya tetap saja, orang tua siswa lainnya merasa terganggu dengan Bagas yang membuat suasana belajar di kelas tidak kondusif.
Para orang tua murid mulai menggunjing tentang Bagas, mereka bahkan menyebutnya anak tidak normal.
"Sepertinya dia itu tidak normal, lihat saja dia selalu bermain lampu saat belajar, belum lagi selalu berkeliling di dalam kelas. Kan menganggu banget, bahkan anak gue bilang dia itu gak pernah mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru. Bukankah itu sangat meresahkan. Jika anak seperti ini dibiarkan tetap bersekolah di tempat ini maka anak kita bisa terpengaruh dengannya, bagaimana kalau kita laporkan hal ini kepada kepala sekolah," ucap salah seorang wali murid
"Setuju, sebagai sekolah elite harusnya anak seperti dia tidak boleh bersekolah di tempat sekolah ini meskipun ayahnya seorang CEO. Aku rasa ia lebih tetap belajar di sekolah luar biasa daripada di sekolah umum seperti ini," sahut yang lainnya
__ADS_1
Siang itu sepulang sekolah Laila di panggil oleh kepala sekolah perihal laporan dari wali kelas Bagas.
Kepala sekolah bahkan menunjukkan lembar kerja Bagas yang selalu kosong tanpa isi.
"Maaf ibu, sejak kapan bagas bertingkah seperti ini?" tanya kepala sekolah
"Sepertinya sejak masuk sekolah ini Bu, karena setahu saya selama ini dia tidak ada masalah, bahkan saat ia di tempat penitipan anak hingga sekolah TK juga tidak ada keluhan dari guru-gurunya," jawab L
"Melihat sikap Bagas yang tak bisa diam di dalam kelas aku menyarankan kepada Ibu untuk membawa putra ibu ke psikolog agar bisa tahu ada apa dengan putra ibu. Sebagai kepala sekolah saya tidak bisa mengeluarkan putra ibu dari sekolah ini meskipun banyak permintaan dari wali murid yang terganggu dengan keberadaan Bagas, karena pihak pemerintah mengizinkan anak-anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah umum, jadi saran saya ibu lakukan pemeriksaan agar kami bisa melakukan tindakan yang benar dalam menghadapi Bagas. Jangan sedih apalagi minder dengan kondisi putra ibu, karena dia bukan satu-satunya di sekolah ini," ucap sang kepala sekolah begitu bijak
"Terimakasih bu atas informasinya, terimakasih juga karena sudah mengerti kondisi anak saya," jawab L kemudian mengajak Bagas pulang ke rumah
Setibanya di rumah ia segera memberikan pengertian kepada putra bungsunya itu agar bersikap tenang saat di dalam kelas.
"Bagas sayang, dengerin mamah ya, kamu gak boleh jalan-jalan saat jam pelajaran. Kamu kan bisa lari-lari saat jam istirahat, jadi pas lagi belajar kamu bisakan duduk tenang?"
"Iya Bu, tapi aku bosan," jawab Bagas
"Bosan kenapa, aku bosan jika seharian terus belajar, aku juga ingin bermain sama seperti saat aku TK,"
"Sekarang kamu sudah SD sayang jadi presentase belajar lebih banyak daripada bermain, berbeda dengan di TK yang masih banyak bermain daripada belajar. Kamu gak mau kan mamah dipanggil kepala sekolah lagi karena kamu gak nurut sama Bu Guru?" ucap L memegang jemari putranya
"Yaudah, besok aku coba," jawab Bagas kemudian segera memainkan puzzle di kamarnya .
Sore itu juga L membawa Bagas menemui seorang psikolog.
Bagas terlihat begitu senang saat sang psikolog memintanya menggambar sesuatu.
"Gambarnya bagus," ucap Psikolog menatap gambar yang dibuat oleh Bagas
Wanita itu kemudian mengajak L berbincang sejenak sambil mengamati kegiatan Bagas.
"Apa anak ibu suka menggambar?"
"Iya dia memang suka sekali menggambar meskipun gak jelas apa yang di gambarnya," jawab L
"Dilihat dari jenis gambarnya, dia memiliki imajinasi yang bagus, tidak semua orang mampu menggambar sesuatu yang rumit seperti itu. Dari caranya dia membuat gambar ada kemungkinan anak anda autis, tapi ini baru diagnosa belum tentu benar karena tanda-tanda anak autis itu muncul sebelum usia tiga tahun. Jadi kalau sudah lebih berarti bukan autis. Nah karena usia putra ibu sudah tujuh tahun bisa jadi ia mengidap ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder), tapi ini juga belum pasti karena anak ibu masih bisa diajak komunikasi. Jadi saran saya periksakan putra ibu ke dokter anak untuk lebih jelasnya,"
L merasa lega saat keluar dari ruang pemeriksaan, setidaknya anaknya masih normal, meskipun psikolog menyatakan ada kemungkinan jika Bagas mengidap autis dan ADHD.
"Mamah yakin kamu itu anak yang normal dek, jadi jaga sikap kamu saat di kelas ya, jangan suka jalan-jalan saat jam pelajaran dan jawab semua tugas yang diberikan oleh Bu guru, kalau kamu gak bisa kan bisa tanya caranya sama bu guru, ok?"
"Ok," jawab Bagas dengan entengnya
Setibanya di rumah L terkejut saat melihat terjatuh saat ia sedang belajar berjalan di dalam kamar.
"Sayang hati-hati dong, kalau gak ada aku jangan latihan sendirian ya bahaya, nanti kalau kenapa-kenapa gimana?" tanya L langsung membantunya berdiri
"Coba lihat sini apa ada yang terluka apa tidak," imbuhnya sambil mencoba memeriksa kaki Andru
"Kenapa sih kamu khawatir banget, lagian cuma jatuh doang, aku gak papa kok," jawab Andru
"Tetap saja aku khawatir, cukup kecelakaan kemarin membuat aku hampir mati dan aku gak mau kehilangan kamu lagi," ucap L menatapnya sendu
"Iya sayang aku percaya sama kamu, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, sekalian aku mau minta maaf karena aku sudah membuat mu khawatir," ucap Andru kemudian mengajak L berjalan keluar.
__ADS_1
Melihat Andru bisa berjalan membuat L benar-benar ternganga dibuatnya.
"Sayang sejak kapan kamu bisa berjalan??" tanya L tak percaya