DINIKAHI BRONDONG

DINIKAHI BRONDONG
Harapan hampa


__ADS_3

"Wah keren sekali!" seru salah seorang siswa langsung memberikan tepuk tangan meriah untuk hasil karya Bagas.


Semua wali murid menganga tak percaya saat melihat hasil prakarya Bagas, tidak terkecuali dengan Hera yang tak percaya melihat semua itu.


Bagaimana bisa dia seperti itu, apa dia anak genius?, mustahil?


Setelah kejadian hari itu semua wali murid mulai sedikit melunak dengan Bagas. Mereka tak lagi menggunjingkannya ataupun mengucilkannya di dalam kelas.


Namun tetap saja masih ada wali murid ataupun siswa yang memandang sebelah mata padanya.


Mereka menganggap jika hasil karya Bagas adalah kebetulan atau dibuatkan oleh L atau suaminya.


"Bisa sajakan itu hasil pekerjaan ibu, kakak, atau ayahnya, secara ibunya dulu guru kan?" ucap Hera mencoba memprovokasi yang lainnya


Hari itu ada ulangan lisan matematika semua siswa menjawab lisan pertanyaan dari Miss Cynthia.


"Jika ada 10 coklat batang di dalam keranjang ibu, kemudian di bagikan kepada lima orang anaknya, maka masing-masing anak akan mendapatkan berapa Bagas?" tanya Cynthia


"42 bar," jawab Bagas singkat


Semua siswa langsung tertawa mendengar jawaban Bagas, tidak terkecuali para wali murid yang ikut menertawakannya.


"Lihat saja pertanyaan mudah seperti itu aja dia tidak bisa, aku yakin ibunya pasti tidak mengajarinya di rumah,"


"Sebagai Orang Kaya Baru, aku yakin dia pasti banyak menghabiskan waktu mereka dengan jalan-jalan di mall atau tempat rekreasi, maklumlah kan dulu mereka orang gak mampu," timpal yang lain menambahi


Mereka seketika diam saat melihat L menghampiri mereka.


Bagaimana mungkin kamu tidak bisa menjawab pertanyaan itu Gas,


Laila begitu gemas melihat putra bungsunya itu karena salah menjawab. Ia bahkan lebih gemas lagi saat ia kembali berkeliling kelas dan dan tidak jarang mengganggu temannya yang sedang mengerjakan tugas dari Cynthia.


Saat Bagas menoleh kearahnya, ia segera memberikan isyarat agar anak itu menghentikan berhenti mengganggu temannya dan juga tutup Dian tidak berkeliling keatas lagi.

__ADS_1


Namun anak itu tak kunjung berhenti, malah semakin asyik bermain sehingga membuat L semakin kesal dibuatnya.


L yang begitu malu saat mendengar, gunjingan para wali murid hanya bisa menahannya tanpa berbuat apapun.


"Kamu kenapa sih dek, hari ini kok nyebelin banget, mamah bukannya melarang kamu main tapi main juga ada tempatnya dong. Nanti kalau kamu seperti ini terus mamah bisa terus dipermalukan di sekolah, memangnya kamu mau mamah dipermalukan?" tanya L


Bagas hanya menggelengkan kepalanya.


"Maafin Bagas mah, aku hanya kesal," jawab anak itu


"Memangnya kenapa tadi kamu jawab 42 bukan 2!" tanya L dengan suara lantang


"Karena satu coklat batang itu kan terdiri dari 21 bar coklat kalau di kali dua jadi 42 bar, sebenarnya jawabannya beda-beda tergantung jumlah bar dalam setiap coklat. Aku hanya menggunakan jumlah coklat yang sering aku makan saja," jawab Bagas


Seketika L terdiam di buatnya. Selesai makan siang, L mengajak Bagas ke seorang psikolog sesuai saran wali kelas sore itu. Ia sengaja mengikuti tes IQ untuk mengetahui kemampuan intelegensi putranya


"Tunggu hasilnya seminggu lagi ya Bunda," ucap sang psikolog setelah melakukan tes IQ


Sepulang dari rumah sakit, L terlihat memeriksa buku-buku pelajaran Bagas.


"Ya ampun bagaimana ini, kenapa tidak ada satupun catatannya?" ucapnya dengan nada kecewa


"Sepertinya dia benar-benar malas kalau di dalam kelas deh, masa semua bukunya isinya cuma gambar doang," keluhnya


"Apa aku harus membayar seorang guru les untuk mendampingi Bagas belajar?. Tapi dia kan masih kelas satu jadi wajar saja kalau masih banyak bermain di kelas?, tapi kalau terus menerus seperti ini dia tidak bisa bersaing dengan anak-anak lainnya. Dia bisa ketinggalan di kelas??" ucap L sedikit dilema dengan keadaan Bagas


Saat ia keluar sejenak untuk mencari udara segar, ia melihat Hera mengajak kedua anaknya keluar dari rumahnya.


"Hari ini kalian harus les pelajaran tambahan dan juga les musik!" seru Hera


"Apa aku juga harus seperti Hera, yang mengekang anak-anak ku dengan berbagai Les??. Tapi aku takut Bagas akan tertekan jika ia terlalu banyak mengikuti les, lagipula anak seumuran dia memang masih suka bermain. Tapi kalau aku tidak melakukannya, Bagas akan terus berulah di sekolah,"


Setelah bergelut dengan nalurinya L akhirnya memutuskan untuk menjadi guru les privat untuk Bagas. Ia merasa jika kemampuannya dalam mengajar bisa membantu Bagas memahami pelajaran lebih bagus.

__ADS_1


Malam itu L mulai mengulang penjelasan tentang materi yang sudah Bagas terima di sekolah. Saat ia mengajari anak itu, L merasa jika Bagas tidak sebodoh yang ia kira. Ia bahkan mampu mengerjakan semua tugas yang ia berikan tanpa melihat buku ataupun bertanya cara mengerjakannya.


"Kamu itu sebenarnya pintar sayang, tapi kenapa kamu sering tidak mengerjakan tugas di sekolah??" tanya L


"Karena aku gak suka, alu hanya mengerjakan tugas yang aku suka saja," jawab Bagas


"Kalau seperti ini terus nanti kamu bisa gak naik kelas sayang, jadi dengarkan ucapan ibu!" seru L


"Kerjakan semua tugas yang diberikan oleh Ibu guru, jangan berkeliling di kelas saat jam pelajaran ataupun mengganggu temanmu saat jam pelajaran, apa kamu bisa melakukannya?" tanya L


Bagas mengangguk, "Baik bu,"


"Ya sudah, ibu ingin lihat besok pagi, kalau kamu mendengarkan semua ucapan ibu nanti ibu akan kasih hadiah tapi sebaliknya kalau kamu gak nurut sama ibu maka aku akan menghukum mu," tutur L


Beberapa hari berikutnya, Bagas terlihat lebih tenang di kelas, ia tidak lagi jalan-jalan di kelas saat guru sedang menjelaskan. Ia juga mulai mau mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru kelasnya.


"Sebentar lagi ujian semester, aku yakin anakku akan menjadi juara kelas, apalagi sekarang nilai-nilainya sangat bagus setelah ia mengikuti bimbel di terbaik di Jakarta!" celetuk Hera dengan begitu bangganya


"Memang di kelas hanya ada dua kandidat juara kelas yaitu Shieren dengan Nada, memangnya kalian ikut bimbel dimana sih kok bisa pinter-pinter banget anaknya?" tanya wali murid lain


"Itu sebenarnya rahasia, tapi karena kamu tuh temen terbaik aku jadi aku akan memberitahukan dimana aku mendapatkan anakku les," jawab Hera


Ia kemudian merekomendasikan salah satu bimbel ternama di Jakarta.


"Terima kasih banyak Jeng atas informasinya," jawab Wanita itu


Hari itu sekolah kedatangan Seorang praktisi pendidikan. Ia sengaja datang untuk melakukan tes kepada semua siswa untuk mencari anak-anak berbakat.


Semua siswa tampak antusias saat mengerjakan semua soal-soal yang diberikan oleh sang tutor agar bisa mengikuti program anak berprestasi dengan hadiah beasiswa dan juga bimbingan belajar agar bisa masuk ke sekolah favorit di Jakarta.


L begitu pesimis saat melihat Bagas yang hanya membolak-balikkan lembar soal tanpa menjawabnya.


Ia bahkan segera mengumpulkan jawaban di saat siswa lain baru mulai mengerjakan.

__ADS_1


"Sudahlah L, jangan marah-marah, sabar ini ujian," ucapnya mencoba meredam emosinya


Saat Jam pulang berdering semua orang berkerumun di papan pengumuman untuk melihat hasil tes, namun tidak dengan L. Ia mengira jika Bagas tidak akan mungkin lolos jadi memilih pulang tanpa melihat papan pengumuman


__ADS_2