
Hari yang dinanti pun tiba, L memutuskan untuk pergi ke Semarang dengan menggunakan kereta api.
L menolak tawaran Guntur yang menawarkan diri memberi tumpangan padanya . Ia lebih memilih pergi sendiri untuk menghindari hal-hal yang diinginkan. Mengingat statusnya sebagai Janda.
"Terimakasih atas perhatiannya, tapi aku lebih nyaman jika jalan sendiri ke sana. Kita ketemuan di sana saja untuk menghindari kata-kata netizen yang kadang suka bikin telinga mau pecah," tolak L dengan halus
"Baiklah kalau begitu, kabari aku jika sudah sampai," jawab Guntur
"Ok,"
"Btw kamu berangkat jam berapa?" tanya Guntur
"Kebetulan aku dapat jam sembilan malam,"
"Kalau begitu biar aku antar kamu ke stasiun,"
"Gak usah repot-repot, aku bisa jalan sendiri kok, sans aja," jawab L
"Kasih mentahnya aja Om!" celetuk Andru dari atas balkon
"Ish, dasar usil, jangan dengerin dia Gun biasalah ABG suka usil!" ucap L
"Baiklah, tapi bukankah lebih aman jika aku yang mengantarmu ke stasiun, lagian itu sudah malam rawan juga kalau naik ojek online atau angkot,"
"Yaudah lihat nanti aja ya, nanti aku kabari lagi," jawab L
"Ok aku tunggu!" Guntur kemudian pamit pulang
Sementara itu L langsung mengacungkan sapu kearah Gandrung yang masih memperhatikannya dari atas balkon.
Sore itu L mendatangi kediaman keluarga Harun untuk memberikan les privat perdananya kepada Devan.
Silvia begitu senang saat melihat wanita itu tiba di kediamannya.
"Terimakasih Miss sudah mau menerima tawaran saya untuk menjadi guru les Devan, Alhamdulillah kemarin Devan cerita kalau dia suka sama Miss, katanya Miss itu orangnya baik lembut terus gak galak," ucap wanita itu mengajak L berbincang sebelum memulai mengajar Devan
"Alhamdulillah kalau dia suka,"
"Sebelum mulai mengajar Devan sebaiknya Miss tanda tangani dulu surat kontrak kerjanya,"
Silvia segera memberikan selembar kertas berisi perjanjian kerja kepada Laila.
Laila membaca surat itu dengan teliti, namun ia tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat melihat besarnya nominal gaji yang akan diterimanya.
"Apa ini gak salah angkanya?" tanya L
"Memangnya kenapa, apa masih kurang?" sahut Silvia
"Oh tidak, ini sudah lebih dari cukup bahkan terlalu banyak, makanya aku gak percaya, jika aku akan mendapatkan gaji sebesar itu,"
"Aku rasa itu sesuai, semoga kau bisa sabar menjaga Devan. Aku janji akan menambah gaji mu jika Devan ada kemajuan,"
"Aamiin,"
Silvi kemudian mempersilakan L menemui Devan di ruang belajarnya.
Bocah berusia tujuh tahun itu terlihat murung saat ia datang. L kemudian menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
"Ada apa sih, kok miss datang kamu sedih. Boleh gak miss tahu kamu kenapa?" tanya L dengan lembut
Namun Devan tetap diam tak mau menjawab.
"Yaudah kalau gak mau cerita, sekarang Devan mau belajar atau main??" tanya L
lagi-lagi anak itu tetap diam dan mengacuhkan kedatangannya. Ia lebih asyik memainkan mainannya.
L kemudian menemaninya dan tetap mengajaknya berbicara meskipun anak itu tidak mau berbicara dengannya. Laila yang bingung harus melakukan apa lagi kemudian menyanyikan lagu yang suka is nyanyikan untuk menenangkan putranya saat sedang tantrum.
Saat Laila selesai bernyanyi tiba-tiba Devan menatapnya dengan tatapan sendu.
"Kenapa sayang?" tanya L mengusap air matanya
"Aku kangen ibu," jawab anak itu berkaca-kaca
__ADS_1
L kemudian teringat dengan kata-kata Andru saat Bagas berkata hal serupa. Ia langsung memeluk erat anak itu dan membelai lembut rambutnya.
"Kalau kau kangen dengan ibumu kenapa tidak menghubunginya?" tanya L
"Tidak boleh, ayah dan nenek melarang ku menelpon ataupun menemuinya," jawab anak itu getir
"Apa ibumu masih suka menemui mu atau menelpon mu?" .
Anak itu mengangguk pelan.
"Apa hari ini dia menelepon mu?"
Kembali Devan mengangguk, " Tapi aku mengabaikannya,"
"Kenapa??"
"Karena ia menjemput ku ke sekolah dengan seorang lelaki, aku tidak suka," jawab anak itu dengan wajah kecewa
"Oh jadi itu alasannya kamu tidak mengangkat telpon ibumu, lalu kalau kau tidak suka dengannya kenapa kangen?"
"Aku mau dengar suara ibu, aku kangen ibu!" seru anak itu kemudian melemparkan mainannya ke wajah L. Entah kenapa ia tiba-tiba begitu marah dan mulai menghancurkan benda-benda disekitarnya satu persatu sambil menangis tersedu-sedu.
L mencoba menenangkan anak itu, dia tidak banyak kata-kata karena tahu anak seperti Devan tidak suka mendengarkan penjelasan dari siapapun.
Ia kemudian memeluknya dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Tenang ya sayang, tenang, anggap saja aku ibumu dan kau boleh melakukan apapun yang ingin kau lakukan pada ibumu," bisik L
Sean yang tidak sengaja melihat L sedang menenangkan Devan merasa terharu melihat ketulusan wanita itu.
"Kau sudah pulang nak?" tanya Silvia mengejutkan Sean
"Iya bu," jawab Sean langsung menghampiri ibunya
"Maaf ibu tidak sempat meminta ijin padamu saat mengganti guru les Devan,"
"Tidak apa-apa ibu, lagian kenapa juga harus ijin padaku jika semua itu demi kebaikan putraku," jawab Sean
Tidak lama L keluar dari ruang belajar Devan dan menghampiri mereka.
"Sepertinya hari ini mood Devan sedang tidak bagus, jadi saya tidak memberikan materi pelajaran padanya, semoga dipertemuan berikutnya mood sudah kembali normal hingga ia bisa belajar lagi,"
"Baik Miss, lakukan saja yang terbaik menurutmu," jawab Silvia
"Kalau begitu saya pamit Bu, Pak," ucap L
"Kalau gitu biar Sean aja yang antar kamu pulang, lagian jalan depan gang itu agak serem kalau jam segini, bahaya kalau perempuan jalan sendirian, bisa-bisa digodain sama preman-preman yang nongkrong di sana,"
Tiba-tiba mereka terkejut saat mendengar seseorang masuk kedalam rumah sambil membanting pintu.
*Brakkk!!!
"Astagfirullah Mawar bisa gak sih kalau masuk gak banting pintu, apa kau sengaja ingin membuat aku jantungan!" hardik Silvia saat melihat mantan menantunya datang
"Aku tidak akan begini kalau kalian tidak mempengaruhi Dev untuk mengabaikan panggilan ku, dia bahkan tak mau menemui ku saat aku menjemputnya di sekolah. Aku tahu ini pasti ulah kalian, aku sangat paham jika kalian sangat membenciku, tapi kalian tidak boleh melarang ku menemui anakku sendiri!" seru Mawar dengan suara tinggi
"Jangan asal menuduh, sebaiknya kau introspeksi diri kenapa Devan melakukan itu padamu!" sahut Sean membela diri
"Jangan berkilah, Devan masih terlalu kecil jadi mustahil dia mengerti masalah orang dewasa, kalau bukan karena hasutan mu ia pasti mau menemui ku dan juga mengangkat telepon ku seperti sebelumnya,"
"Terserah kau sajalah, percuma saja aku menjelaskannya panjang lebar tetap saja otak bebal seperti dirimu tidak akan mengerti,"
Seketika mawar mengambil air minum yang tergelatak di meja tamu dan menyiramkannya ke wajah Sean membuat lelaki itu begitu geram hingga hampir menamparnya jika saja Silvia tak menghalanginya.
Mendengar pertengkaran antara ibu dan ayahnya membuat Devan seketika berteriak-teriak di kamarnya dan memaparkan barang-barangnya keluar kamar.
Mawar segera berlari menuju kamar Devan, namun L langsung melarangnya saat wanita itu hendak masuk kedalam kamarnya.
"Sebaiknya Ibu jangan masuk dulu, hari ini mood Devan sedang tidak bagus, meskipun ia sangat merindukanmu tapi rasa bencinya melebihi rasa rindunya hingga mungkin akan membuat semakin tantrum saat melihat Ibu, jadi biar aku saja yang mencoba menenangkannya," ucap L
Mawar segera mendorong tubuh L hingga wanita itu terjerembab ke lantai.
"Memangnya siapa dirimu beraninya mengajariku, jika ada orang yang lebih tahu tentang keadaan putraku itu adalah aku bukan kamu!" serunya kemudian masuk kedalam kamar Devan.
__ADS_1
Baru saja ia masuk ke kamar Devan tiba-tiba mawar langsung keluar, setelah terdengar suara teriakannya.
"Ah sial, bagaimana anakku bisa berubah menjadi monster seperti itu!" celoteh mawar sambil memegangi tangannya yang digigit oleh putranya
"Kalian pasti yang sudah merubahnya seperti ini. Aku tidak mau tahu, aku akan menghubungi pengacaraku jika Devan masih mengabaikan panggilan dariku!" seru Mawar kemudian pergi meninggalkan kediaman keluarga Harun.
Mendengar suara Devan berteriak-teriak membuat L segera bergegas masuk dan menenangkan anak itu. Saat Devan mencoba memukulinya ia segera memiting anak itu sambil terus menenangkannya.
"Tenang, tenang, tenang," ucapnya mencoba menurunkan emosi Devan
Setelah melihat emosinya reda ia kemudian melepaskan pitingannya dan memeluk anak itu.
"Kalau Devan sudah tenang sekarang kita minum dulu yuk," ucap L melepaskan pelukannya
Ia kemudian memberikan segelas air putih padanya agar ia lebih tenang, "Kalau sudah enakan Devan istirahat saja ya,"
Devan mengangguk dan kemudian berbaring di ranjangnya. L segera menyelimuti tubuh anak itu dan mengecup keningnya.
"Selamat istirahat ya sayang, semoga mimpi indah,"
Devan mengangguk dan tersenyum menatapnya.
"Kalau begitu Miss pamit ya sayang, sampai ketemu besok,"
L kemudian pergi meninggalkan kamar Devan, dan kembali berpamitan dengan Silvia.
"Sepertinya Sean ada urusan jadi tidak bisa mengantarmu,"
"Iya tidak apa-apa Bu, aku bisa pulang sendiri kok," jawab L kemudian bergegas pergi
Karena hari sudah mulai malam, angkot tidak ada yang melintas di depan komplek. Hal itu tentu saja membuat L harus berjalan jauh ke jalan besar untuk mendapatkan bus.
Ia menghentikan langkahnya saat hendak melewati jalanan yang dipenuhi oleh preman.
Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Guntur.
"Tolong jemput aku,"
"Ok, share lokasi dan tunggu aku," jawab Guntur kemudian mematikan ponselnya
Ia segera melesatkan sepeda motornya menuju ke tempat Laila berada.
"Sendirian aja Neng," ucap seorang pria berjambang menghampirinya.
Laila segera menghindar saat lelaki itu terus mendekatinya.
"Jangan jual mahal gitu dong neng," ucap lelaki itu mencoba menyentuh wajah Laila. Ia segera menepisnya dan segera berlari meninggalkan lelaki itu.
"Mau kemana sih buru-buru amat!" tiba-tiba L terkejut saat muncul pria menyeramkan lainnya di hadapannya.
Ia segera mundur dan membalikkan badannya. Pada saat ia akan berlari tiba-tiba seseorang langsung menarik lengannya hingga membuatnya seketika langsung berteriak minta tolong.
"Tolong, tolong!!" seru L begitu panik
"Lepasin, gak atau aku teriak!" imbuh Laila
Pria-pria itu menertawakannya, "Teriaklah sekeras-kerasnya, karena di sini tidak akan ada orang yang akan peduli denganmu!!"
Benar saja, meskipun banyak orang berlalu lalang mereka terlihat acuh dan tak peduli saat melihat teriakan Laila.
Sebuah mobil sedan mewah berhenti tak jauh dari tempat itu.
Seorang lelaki tampan segera keluar dari mobil tersebut.
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria menghampiri Laila.
"Lepaskan dia!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang pria mencoba menghentikan mereka saat akan membawa Laila pergi.
Mereka segera menoleh kearah sumber suara itu,
"Guntur!" seru Laila langsung melepaskan diri dari lelaki itu dan berlari kearah Guntur.
__ADS_1