
POV Andru
Hari itu aku benar-benar menemukannya. Ini pertama kalinya aku bisa melihatnya dari dekat. Tak salah lagi itu dia, wanita yang dulu menyelamatkan Sofia dan membelanya saat orang-orang memakinya karena kenakalannya.
Aku masih ingat bagaimana ia memeluk Sofia dan menenangkannya saat ia sedang tantrum dan mencoba melukai teman-teman bermainnya. Ia seakan tahu apa yang diinginkan Sofia hingga membuat gadis kecil itu langsung tenang dalam dekapannya.
"Maaf ya ibu, dia hanya ingin meminjam mainan anak ibu, hanya saja ia belum tahu bagaimana cara menyampaikannya, makanya ia memukul putri ibu. Anak spesial sepertinya memang cenderung melakukan kekerasan karena kemampuan verbalnya belum berkembang, saya mohon ibu mau mengerti keadaannya, terimakasih."
Kata-katanya yang bijak dan sangat santun membuat Sofia langsung menyukainya. Sejak hari itu ia bahkan selalu mengajak ke taman hanya untuk bertemu dengannya. Namun kami tak menemukannya lagi sejak hari itu hingga membuat Sofia sakit.
Nur Laila... entah kenapa wanita itu begitu istimewa hingga aku bertekad untuk mempertemukannya dengan Sofia jika kami bertemu nanti. Sialnya aku juga menjanjikan kepada Sofia untuk menjadikan L ibunya untuk memancingnya agar ia kembali sehat lagi.
Alhamdulillah dengan janji itu, Sofia langsung pulih dan bisa beraktivitas lagi seperti sedia kala.
Entah kenapa hari itu ia terlihat begitu gusar. Tidak seperti biasanya kali ini aku melihatnya menangis diatas JPO.
Sepertinya ia sedang mengalami masalah yang berat hingga begitu tertekan dan sangat sedih. Aku bahkan sempat khawatir saat ia akan mencoba melompat dari JPO.
Aku segera menarik lengannya saat ia akan melompat dari Jembatan Penyeberangan Orang.
"Kalau bunuh diri jangan di sini, ini daerah kekuasaan gue, bisa kena ciduk gue kalau ada yang mati dimari,"
"Kalau Lo mau bunuh diri, cari cara yang elegan dong beli racun sianida kan bisa jadi gak usah repot-repot menyakiti dirimu sendiri,"
Aku sengaja mengucapkan kata-kata kasar agar ia sadar bahwa apa yang dilakukannya salah.
Laila segera pergi tanpa menjawab ucapan ku, dan itu membuat ku semakin yakin jika dia sedang dalam masalah berat.
Karena takut terjadi sesuatu dengannya aku segera mengejarnya.
"Oi Bu Guru!"
"Wah ternyata kau memang benar seorang guru, aku kira kau anak SMA,"
Tak ku sangka ia mendengar panggilan ku dan segera menghentikan langkahnya.
Karena aku takut terjadi sesuatu dengannya maka aku memutuskan untuk menawarkan diri mengantarnya pulang, mungkin ini terlihat konyol karena mustahil wanita baik-baik sepertinya mau menerima tawaran pemuda yang baru dikenalnya apalagi melihat penampilannya seperti preman.
Tapi entah kenapa L menerima tawaranku hari itu.
Sejak hari itu aku terus berusaha mendekatinya, jika awalnya aku mendekati dia hanya demi Sofia, seperti pepatah jawa witing tresno jalaran Soko kulino ( cinta datang karena terbiasa ) lama kelamaan benih-benih cinta mulai muncul.
Melihat kelembutan hati L, kesabarannya, dan kebaikannya membuat ku diam-diam mengaguminya.
Awalnya aku kira ini bukan cinta, tapi entah kenapa saat aku berusaha mengabaikan perasaan ku justru aku semakin menyukainya.
Hingga pada suatu ketika aku sadar jika cintaku bertepuk sebelah tangan. Ternyata L sudah memilih melabuhkan hatinya kepada Guntur.
Saat itulah untuk pertama kalinya hatiku hancur berkeping-keping oleh seorang wanita. Jika biasanya aku yang selalu menolak ataupun memutuskan mereka kini giliran aku yang merasakan bagaimana rasanya sakit saat cintaku ditolak.
Meskipun aku sudah berusaha mengikhlaskannya tetap saja aku masih berharap suatu saat L akan menerima cintaku.
Hari itu aku memutuskan untuk kembali pulang. Ibu dan Sofia sudah menjemput ku, tapi entah kenapa aku belum bisa melepaskan L seorang diri di kota itu. Aku tak tega meninggalkannya meskipun ia sudah mengatakan akan pulang bersama kekasihnya Guntur.
Hari itu aku melihatnya senyumnya kembali mengembang untuk pertama kalinya.
Sepertinya ia begitu bahagia saat Guntur mengajaknya menemui kedua orang tuanya.
Aku bahagia jika melihatnya bahagia meskipun masih ada sesak menyeruak di dada saat melihat kemesraan mereka berdua.
Rasanya masih tak rela jika melihat L bersama Guntur tapi mau gimana lagi, cinta tak bisa dipaksa.
"Papah ayo pulang," ucap Silvia menarik-narik bajuku
__ADS_1
Gadis itu sepertinya sangat senang karena sudah bertemu wanita yang dirindukannya selama ini. Ia semakin senang saat mendengar jika L selalu menerima kedatangannya dengan tangan terbuka di rumahnya.
L benar-benar begitu mulia.
"Iya sayang kamu duluan dulu ya, nanti papah nyusul sama tante,"
"Ok," jawab Sofia kemudian segera bergegas menuju ke mobil
"Kenapa kamu tidak mau pulang bersama kami, bukankah kau sudah berjanji akan pulang jika misi mu gagal?"
"Iya Bu, tapi aku harus memastikan dulu jika L benar-benar bahagia bersama Guntur," jawab Andru
"Terserah kau sajalah, yang penting besok kau harus berangkat ke Australia untuk melanjutkan kuliahmu yang sempat tertunda,"
"Baiklah,"
Setelah mengantar ibu dan Sofia pulang aku langsung menuju ke kamar hotel untuk mengemasi barang-barang ku.
Saat hendak pergi membeli rokok aku melihat L dan anak-anaknya kembali.
Entah kenapa wajah L terlihat gusar tak seperti saat ia pergi meninggalkan hotel.
"Maafkan kedua orang tua ku jika mereka sudah menyakiti hatimu," ucap Guntur dengan mata berkaca-kaca
Ku lihat kekecewaan dimata L meskipun ia berusaha menutupinya.
Sepertinya ia kecewa saat tahu orang tua Guntur tak bisa menerima keadaannya. Aku bisa mengerti apa yang dirasakan oleh L.
Cukup lama keduanya berbincang cukup lama membahas masalah mereka. Namun sepertinya L sudah tahu bagaimana ending percintaannya dengan Guntur hingga terus meminta lelaki itu untuk pulang dan memperbaiki hubungannya dengan orang tuanya.
Dia memang beda, disaat wanita lain pasti memaksa untuk kawin lari ia malah menolak tawaran itu dari Guntur.
Entah kenapa aku merasa gemas padanya tapi juga senang saat tahu mereka tidak mungkin bisa bersama.
Namun entah kenapa aku juga merasakan hatiku remuk saat mendengar isak tangisnya dari luar kamar hotelnya.
Namun sayangnya jangankan memelukmu bahkan melihatmu saja aku tidak bisa
Pov end
Semalaman Andru terus berdiri didepan kamar L.
Ia segera pergi meninggalkan kamar itu saat hari mulai pagi.
Ia segera merapikan pakaiannya dan bergegas meninggalkan kamar hotel
Namun ia kembali masuk kedalam kamarnya saat melihat L dan kedua anaknya juga keluar dari kamarnya.
"Apa mereka juga akan check out hari ini?"
Ia terus mengikuti mereka hingga keluar dari hotel.
"Dimana Guntur, kenapa ia tidak mengantarnya?"
Andru kemudian mengikuti L menuju ke terminal Bus.
"Dia pasti belum punya tiket kereta makannya ia terpaksa naik Bus,"
Andru kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Melihat beberapa orang calo bus menarik-narik L, membuat Andru langsung menghampiri mereka.
Ia segera menepis lengan calo itu dan mengajak L keluar dari terminal Bus.
__ADS_1
"Kenapa tak bilang padaku kalau kau Guntur tidak bisa mengantarmu pulang?"
Laila terlihat begitu terkejut saat melihat Andru di depannya.
"Kenapa kau belum pulang, bukankah seharusnya kau pergi ke luar negeri hari ini?" jawab L balik bertanya
"Itu tidak penting sekarang," jawab Andru kemudian menghentikan sebuah taksi
"Kita mau kemana?"
"Tentu saja pulang ke Jakarta," jawab Andru
"Naik taksi??" tanya L membelakakan matanya
"Naik apapun itu tidak masalah, yang penting kalian nyaman selama perjalanan dan selamat sampai tujuan," jawab Andru
"Kita mau kemana Mas?" tanya supir taksi
"Bandara pak,"
"Baik,"
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di Bandara Ahmad Yani.
"Memangnya kita bisa memesan tiket pesawat dadakan Ndru?" tanya L setibanya di Bandara
"Bisa aja asal ada uang," jawab Andru
Tidak lama seorang lelaki menghampiri mereka dan memberikan Empat tiket kepada Andru.
"Thanks Bro," ucap pemuda itu kemudian mengajak L dan kedua anaknya masuk ke Bandara.
"Maaf aku tidak bisa menemani kalian sampai ke Jakarta, semoga perjalanan kalian menyenangkan," ucap Andru berpamitan
"Terimakasih banyak Ndru, doa yang sama untukmu," jawab L
Wanita itu kemudian melambaikan tangannya kearah Andru.
*******
Kediaman Hera
Wanita itu terlihat begitu geram saat mendapati kenyataan jika orang tuanya memblokir semua kartu kreditnya.
"Aaaarrgh, mereka pikir aku aku tak bisa hidup tanpa bantuan mereka apa!" pekik Hera
Ia tak habis pikir jika orang tuanya benar-benar akan memutuskan hubungan dengannya, bukan hanya memutus secara materi saja mereka bahkan memblokir nomor telepon Hera.
"Sudahlah sayang, lagipula sekarang aku sudah PNS dan gaji ku lumayan besar, jadi kau juga tidak harus bergantung pada kedua orang tua mu," ucap Krisna mencoba menenangkannya
*Ting nong!!
Krisna segera bergegas keluar saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.
Lelaki itu terkejut saat melihat dua orang polisi menyambangi kediamannya.
"Siapa yang datang Mas!" seru Hera
Wanita itu tak kalah terkejutnya saat melihat Krisna membawa dua orang polisi masuk kedalam rumahnya.
"Saudari Evi Herawati kami anda tahan atas tuduhan pembunuhan terhadap Saudara Haryo Subroto,"'
"Tidak mungkin, aku tidak pernah membunuh Mas Haryo, kalian salah tangkap!" seru Hera meronta-ronta saat polisi membawanya pergi
__ADS_1
"Sebaiknya anda bersikap kooperatif agar meringankan tuduhan anda, silakan menghubungi pengacara anda jika ingin melakukan pembelaan," ujar sang Polisi kemudian menyeretnya keluar dari rumahnya
"Mas Krisna tolong aku Mas, Mas Krisna!" pekik Hera