DINIKAHI BRONDONG

DINIKAHI BRONDONG
Petunjuk dari Lexi


__ADS_3

Barri masih tak mengerti kenapa Andru begitu sinis padanya. Lelaki itu terlihat gelisah sepulangnya dari rumah sakit hingga tak bisa memejamkan matanya.


"Apa dia tahu jika aku yang sudah menabraknya??" lelaki itu terlihat gusar hingga beberapa kali menoleh ke arah ponselnya.


"Tapi tidak mungkin, jika ia tahu kalau aku yang menabraknya ia pasti sudah menghajar ku habis-habisan atau melaporkan aku kepada kakek. Andru bukan tipe orang yang pandai berakting jadi aku yakin dia tidak tahu jika aku yang sudah menabraknya. Tapi kenapa tatapan matanya begitu dingin, mata itu seperti bukan milik Andru. Sebenarnya apa yang terjadi padanya, apa dia amnesia??, atau dia pura-pura amnesia, ah sial, kenapa kamu selalu membuatku kesal!"


************


Malam itu L memutuskan untuk menginap di rumah sakit menemani Andru. Meskipun Yuni memintanya untuk pulang namun ia bersikeras untuk menemani Andru karena berusaha membantu suaminya agar cepat pulih.


"Kenapa kamu tidak pulang?" tanya Andru


"Aku ingin menemani kamu di sini, lagipula sudah dua hari aku melihat mu terbaring sendirian di aras brankar, jadi ijinkan aku menemanimu malam ini?" jawab L


"Aku tidak mengerti kenapa lelaki tampan seperti ku bisa menikahi wanita seperti dirimu. Sebenarnya apa kelebihan mu sehingga membuat aku begitu tergila-gila padamu?" tanya Andru mengerutkan alisnya


Meskipun L begitu kecewa mendengar ucapan Andru tapi ia mencoba bersikap tenang, ia tahu jika suaminya itu sedang terguncang karena kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya.


"Sepertinya kecelakaan itu sudah merenggut memori mu tentang aku," jawab L


"Sebaiknya kamu beristirahat, agar cepat pulih," imbuhnya


"Tapi aku mau jalan-jalan, aku bosan di sini," jawab Andru


"Tapi sebentar saja ya, soalnya sudah malam," jawab L


Ia kemudian mengambil kursi roda dan membantu lelaki itu duduk di atas kursi roda.


"Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan hingga aku mengalami kecelakaan seperti ini?" tanya Andru sambil menatap rembulan yang bersinar terang malam itu


"Kecelakaan ini bukan suatu kutukan karena kamu telah melakukan perbuatan yang tercela, tapi ini adalah ujian yang mana Allah sedang menaikan derajat mu. Jadi bersabarlah, anggap saja sakit mu ini adalah penggugur dosa-dosa mu sebelumnya," terang L


Andru tersenyum simpul mendengar jawaban L.


"Apa ini alasan aku begitu menyukai mu?" ucapnya menatap sendu wajah L


"Mungkin saja," jawab L kemudian kembali mendorong kursi roda itu kembali ke kamarnya.


Tak lupa L mempersiapkan obat-obatan yang harus diminum oleh Andru sebelum beristirahat.


"Semuanya sudah selesai, sekarang tidurlah," ucap L tersenyum sumringah


Andru segera menarik lengan wanita itu saat ia akan meninggalkannya.


*Grep!!

__ADS_1


L menatap lekat wajah tampan dihadapannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Andru


"Tentu saja aku juga mlau istirahat," jawab L melepaskan lengan Andru yang mencengkeramnya kuat


"Kenapa kamu tidak tidur disini saja bersamaku, bukankah ranjang ini cukup besar untuk kita berdua?"


"Iya, tapi kondisi kamu masih sakit, aku takut hanya akan memperparah luka kamu jika aku tidur di sebelah mu. Jangan khawatir aku tidak akan meninggalkan dirimu sendirian," jawab L tersenyum simpul menatapnya


Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mulai memejamkan matanya. Sementara itu Andru masih belum bisa memejamkan matanya, bayangan kecelakaan maut itu membuatnya terus menganggu pikirannya, hingga membuat lelaki itu terjaga sepanjang malam.


*Praanng!!


Laila seketika terjaga saat mendengar suara benda jatuh.


Ia langsung menghampiri Andru yang mencoba menggapai botol minuman di meja.


"Maaf ya, kamu pasti kesulitan karena tak bisa membangunkan aku," Laila kemudian memberikan segelas air minum padanya dan membersihkan bekas pecahan gelas di lantai.


"Tetaplah disisi ku dan jangan menjauh sedikitpun," ucap Andru menahan langkah L dengan terus memegangi lengannya


"Iya, tapi aku harus membuang sampah ini dulu ya, tenang saja aku tidak akan meninggalkan mu,"


Perlahan Andru melepaskan tangannya dan L melangkah pergi membuang sampah pecahan gelas.


"Tetaplah di sisiku, dan jangan pernah tinggalkan aku meskipun hanya satu langkah," ucapnya lirih


"Tentu saja, aku juga tidak berniat untuk meninggalkan mu, selamanya aku akan selalu di sisimu sampai maut memisahkan kita," jawab L mengusap lembut kepala suaminya hingga ia terlelap dalam pangkuannya


Meskipun sekilas kamu terlihat seperti orang yang berbeda, namun sikap manja mu tetap tak berubah,


************


Mendengar kabar Andru sudah siuman membuat William segera mengunjunginya.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya William


"Seperti yang Kakek lihat, aku sudah membaik, hanya saja masih butuh waktu untuk benar-benar pulih seperti semula," jawab Andru


"Aku harap kau segera pulih agar bisa kembali bekerja lagi,"


"Aamiin, terimakasih atas doanya kakek,"


Setelah memastikan kondisi Andru, William kemudian berpamitan pulang. Melihat William keluar dari bangsal perawatan Andru, seorang lelaki berjalan memasuki ruangan itu.

__ADS_1


Andru yang tak mengenal lelaki itu, menatapnya curiga.


"Siapa kamu dan ada perlu apa datang menemui ku?" tanya Andru


"Perkenalkan saya pengacara Mas Lexi, kebetulan beliau meminta saya untuk memberikan surat ini kepada Anda,"


Andru segera membaca surat dari sepupunya itu. Seketika matanya membelalak setelah membaca surat itu.


"Barri!" pekiknya kemudian meremas surat dari Lexi


Siang itu Andru menolak untuk menjalani terapi. Alih-alih memilih beristirahat ia justru meminta L membantunya berlatih berjalan.


"Kenapa kamu tidak terapi saja dengan dokter,"


"Memangnya kamu tidak mau mengajariku?" tanya Andru


"Bukan begitu hanya saja aku ini kan orang awam jadi aku takut kamu kenapa-kenapa," jawab L


"Tapi aku lebih nyaman jika bersamamu dan aku yakin akan lebih cepat bisa berjalan jika kamu yang melatihku. Karena bagaimanapun juga melihat senyuman mu akan membuat ku lebih bersemangat berlatih dan itu adalah satu-satunya penyemangat ku saat ini, aku tidak butuh yang lain lagi. Aku yakin hanya kamu yang bisa menyembuhkan aku bukan dokter atau terapis itu," ucap Andru kemudian bergelayut manja di lengan Laila


"Aku bisa apa kalau kamu sudah mengeluarkan jurus maut mu," jawab L tersenyum menatap Andru yang tak mau lepas darinya


Ia kemudian membantu Andru bangun dari kursi rodanya dan memabantu memapahnya.


"Awww!" seru Andru saat menampakkan kakinya ke lantai


"Pelan-pelan saja, aku yakin kamu pasti bisa," ucap L menyemangatinya


Melihat L yang selalu sabar mendampinginya membuat Andru begitu antusias saat berlatih bersamanya.


Meskipun beberapa kali ia terjatuh tak membuatnya patah semangat.


Melihat Andru yang begitu bersemangat membuat L merasa yakin jika Andru pasti akan segera pulih.


"Aku yakin sebentar lagi kamu akan bisa berjalan," bisiknya


**********


Malam harinya Andru yang kelelahan karena seharian berlatih berjalan nampak tertidur pulas di brankarnya.


Laila kemudian menarik kursinya dan mendekatkannya ke tempat tidur Andru. Ia kemudian merebahkan kepalanya di bibir ranjang dan terlelap menemani suaminya.


Saat semua orang sudah terlelap Andru terbangun dan berjalan keluar dari ruangannya. Lelaki itu kemudian menghentikan sebuah taksi yang melintas.


Ia kemudian turun di sebuah bengkel tua. Lelaki itu kemudian menghampiri mobilnya yang sudah ringsek dan mengambil sebuah buku kecil yang ia sembunyikan.

__ADS_1


"Rupanya ia tidak menemukannya," Ia kemudian membuka halaman buku itu sesuai petunjuk yang diberikan lexi dalam surat pribadinya.


"Jadi ini petunjuknya, baiklah kita lihat saja sejauh mana kamu akan terus bersandiwara di depanku Barri??"


__ADS_2