
*Tak, tak, tak!!
L menghentikan langkahnya saat mendengar suara derap langkah kaki mengikutinya. Ia segera berhenti dan menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang membuntutinya.
Namun saat ia menoleh kebelakang, tak ada seorangpun di sana. Karena ketakutan L segera berlari meninggalkan gang tersebut.
"Aww!!" seketika L berteriak keras saat seseorang menarik tangannya dan membawanya ke tempat gelap.
"Sean!"
Seketika Sean langsung membekap mulut Laila saat melihat dua orang bertubuh kekar melintas di gang.
"Siapa mereka?" bisik Laila
"Entahlah, tapi sepertinya mereka yang mengikuti mu,"
"Bagaimana kau tahu?" tanya L lagi
"Aku melihatnya saat kay keluar dari gerbang sekolah, itulah kenapa aku mengikuti mu," jawab Sean
"Syukurlah kau mau mengikuti ku, kalau tidak aku pasti sudah di culik oleh preman-preman itu," jawab L
"Kalau begitu sebaiknya aku antar kau pulang, aku takut mereka akan mengikuti mu lagi,"
"Iya, tapi bagaimana aku bisa pulang jika kau terus memeluk ku," ucap L membuat Sean langsung melepaskan pelukannya
"Maaf, aku hanya berusaha melindungi mu," ucapnya gugup
"Iya aku tahu," L kemudian mengajak Sean untuk pergi meninggalkan gang itu
Sean segera mengajak L menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya.
"Kenapa hari ini pacarmu tidak menjemput mu?" tanya Sean
"Oh itu karena dia sedang sibuk hari ini," jawab L
"Dia pasti bahagia sekali karena bisa memiliki kekasih yang begitu pengertian seperti dirimu," ucap Sean menatapnya sendu
"Bukan dia yang beruntung, tapi aku. Aku beruntung karena bisa bertemu dengan lelaki sebaik dia, dia begitu perhatian bahkan ia terlihat begitu dewasa melebihi usianya," ucap Laila yang begitu bangga mendeskripsikan kekasihnya itu
Sean hanya tersenyum kecut mendengar cerita L yang membuat dadanya terasa sesak.
*Ciiit!!!
Sean segera menghentikan mobilnya saat dua buah mobil jip menghadangnya.
"Ada apa lagi ini," ucap L ketakutan saat melihat dua orang bertubuh kekar turun dari mobil jip itu dan mengetuk kaca mobilnya.
"Cepat keluar atau aku akan menghancurkan mobilmu!" seru lelaki itu
Melihat L begitu ketakutan membuat Sean langsung menenangkan wanita itu.
"Jangan takut aku pasti bisa mengatasi mereka, tetaplah di sini dan jangan keluar dari mobil apapun yang terjadi," ucap Sean kemudian turun dari mobilnya
*Buuggghhh!!
Sebuah pukulan mendarat di wajah lelaki itu hingga membuatnya sempoyongan.
Para preman itu terkekeh melihat Sean sempoyongan.
"Wah ternyata hanya seorang ayam sayur!" pekik mereka membalikkan jempolnya
Sean segera mengusap darah diujung bibirnya dan menghampiri mereka.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian, jadi singkirkan mobil kalian dari mobilku," ucap Sean begitu tenang
Seketika terdengar tawa para preman-preman itu menertawakan dirinya.
"Tentu saja kau berurusan dengan kami karena sudah membuat kami kesal," jawab salah seorang dari mereka sambil menunjuk keningnya
"Memangnya apa salahku?" tanya Sean menepis lengan lelaki itu saat akan menyentuh keningnya untuk kedua kalinya
__ADS_1
"Salahmu??" tanya lelaki itu tersenyum sinis kearah
"Salahmu karena kamu itu melintas daerah ini tanpa ijin kami," jawab lelaki itu kemudian mendorong tubuh Sean
"Memangnya ini jalan nenek moyang mu apa, hingga aku harus meminta ijin mu saat melewati jalan ini?" jawab Sean
Salah seorang preman memberikan kode kepada yang lainnya. Sebuah pukulan melesat kearah Sean, beruntun lelaki itu langsung menghindar hingga tak terkena pukulan mereka.
Sean melepaskan tinjunya membalas serangan para berandal itu, hingga berhasil menjatuhkan mereka satu persatu.
Saat ia hendak kembali ke mobilnya tiba-tiba ia melihat segerombolan preman lain mendekat kearahnya.
"Ah sial!"
Sean segera berlari dan masuk kedalam mobilnya.
"Pegangan yang kuat!" serunya kemudian melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu
Para preman itu begitu berang saat melihat Sean berhasil melarikan diri dari tempat itu.
"Tidak perlu di kejar!" seru seorang lelaki tampan kemudian memberikan sebuah amplop coklat berisi uang kepada preman-preman itu.
Lelaki itu tersenyum simpul menatap kepergian Sean.
"Sekarang aku sudah tahu semuanya,"
*********
Sean langsung mengurangi laju kendaraannya saat melihat preman-preman itu tak mengejarnya.
"Syukurlah, kita selamat," ucap Pria itu menghentikan mobilnya
"Tapi kamu terluka," ucap L memperhatikan wajah Sean yang memar
"Tidak apa, hanya luka ringan, besok juga sembuh,"
"Memangnya siapa mereka dan kenapa mereka mencoba mencelakai, kita?" tanya L
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Entahlah, mungkin itu hanya dugaan ku saja," jawab Sean kemudian kembali melakukan kendaraannya.
Setibanya di rumah L, wanita itu kemudian meminta Sean untuk mampir ke rumahnya.
Sean segera turun dan mengikuti wanita itu masuk kedalam rumahnya.
"Kenapa sepi sekali dimana Sifa dan Bagas?" tanya Sean
"Sifa mungkin ada di kamarnya, tapi kalau Bagas dia belum aku jemput," jawab L
Ia kemudian mempersilakan Sean duduk dan segera masuk ke dapur, dan tak lama ia kembali dengan membawa segelas teh hangat untuknya.
"Terimakasih L," ucap Sean kemudian meminum teh itu.
Laila kemudian duduk disampingnya dan mengompres luka memar di wajah Sean.
"Pegang saja seperti ini," Laila kemudian meminta Sean untuk memegangi kompresnya dan membersihkan luka di sudut bibir lelaki itu.
"Aww!" seru Sean merintih menahan sakit
"Memang perih sebentar, tapi setelah itu gak perih lagi kok," ucap L
"Terimakasih sudah menolong ku hari ini,"
"Sama-sama L, terimakasih juga kamu sudah mengobati lukaku," jawab Sean
"Kalau kamu tidak keberatan biar aku aja yang menjemput Bagas,"
"Tidak usah lagian kamu pasti perlu istirahat setelah ini, maaf sudah membuat mu terluka," jawab L
"Yaudah bagaimana kalau aku mengantarmu menjemput Bagas,"
__ADS_1
"Baiklah kalau itu tidak merepotkan mu," ucap L tersenyum menatap Sean
Saat keduanya melangkah keluar, mereka tertegun melihat Andru sudah berdiri didepan pintu rumah itu bersama Bagas.
Andru menatap lekat kearah Sean dan menghampirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi kenapa dia sampai babak belur seperti itu?" tanya Andru
"Oh, itu karena Sean berusaha melindungi ku dari preman-preman saat perjalanan pulang," jawab L
"Apa kau baik-baik saja sayang?" tanya Andru memeriksa kondisi Laila
"Aku baik-baik saja, hanya saja Sean terluka karena beberapa kali terkena pukulan preman itu," jawab L
"Kalau begitu terimakasih banyak Om sudah menyelamatkan L, aku harap aku bisa mentraktir mu kopi setelah ini," ucap Andru
"Ide yang bagus, kebetulan aku juga sedang suntuk hari ini," jawab Sean langsung menerima tawaran Andru
Laila hanya termangu menatap kedua pria itu meninggalkan rumahnya.
"Semoga saja tak terjadi sesuatu kepada mereka," ucap L kemudian mengajak masuk Bagas
***********
Keesokan harinya suasana tegang terlihat diantara Andru, Barri dan Lexi. Ketiganya tampak terkejut saat mendengar William meminta mereka untuk mempromosikan sebuah properti kepada klien.
"Pemenang kali ini akan mendapatkan nilai double, sehingga sangat berpeluang untuk memenangkan kompetisi ini," ujar William
"Apa kita harus menjual properti ini?" tanya Lexi
"Tentu saja, kalian harus berhasil menjual sebuah properti yang sudah ditentukan kepada para klien di bawah. Mereka semua tidak tahu jika kalian adalah cucu pemilik properti itu jadi jangan marah jika mereka memperlakukan mu seperti seorang salesman. Bukan hanya menjual tapi aku ingin kalian membuat sebuah program bagaimana cara memasarkan properti itu agar laku kerasnya dipasaran," ujar William
Barri tersenyum lebar saat mendengar tantangan dari William.
Ia segera masuk ke ruangannya untuk mengerjakan projek dari kakeknya itu.
Saat kedua sepupunya memilih untuk membuat rencana promosi, Andru justru langsung menemui beberapa klien di lobi gedung dan memberikan presentasi kepada mereka tentang properti yang akan ia tawarkan.
Saat seseorang menanyakan tentang fasilitas properti yang ia tawarkan, pemuda itu terkejut saat melihat foto-foto L bersama dengan Sean.
Seketika foto-foto itu membuat konsentrasi pemuda itu buyar hingga beberapa kali ia membuat kesalahan saat menyebutkan fasilitas properti itu.
"Ah sial, kalau begini terus aku tidak bisa menyelesaikan tantangan dari kakek," seketika Andru langsung pergi meninggalkan gedung Aditama Group dan menemui L di tempat kerjanya.
Wanita itu begitu terkejut saat Andru mendatanginya saat jam kerja.
"Sepertinya ada hal yang serius hingga membuat mu jauh-jauh menemui ku?" tanya L
"Sepertinya kita perlu bicara sebentar,"
Andru kemudian mengajak L kesebuah kafe yang tak jauh dari tempat L mengajar.
Andru yang sudah tak bisa menahan amarahnya langsung menunjukkan foto-foto L dan Sean kepada wanita itu, "Bisa kau jelaskan padaku tentang foto-foto ini?" tanya Andru dengan suara bergetar
L tersenyum menatap foto-foto itu.
"Kenapa kau malah tersenyum?" tanya Andru
"Memangnya kenapa, apa aku harus marah?" jawab L balik bertanya
"Bukan begitu hanya saja aneh rasanya jika melihat mu tersenyum saat aku begitu kesal melihat foto-fotomu bersama Sean," jawab Andru
"Kau tahu kan kalau Sean menolong ku kemarin, foto-foto ini diambil saat kejadian itu. Dia memelukku bukan karena kami saling suka tapi untuk melindungi ku agar preman-preman itu tak menemukan kami, dan yang ini aku tersenyum menatapnya bukan karena aku bahagia bersamanya tapi aku lega karena kami selamat dari kejaran para preman itu. Terserah padamu mau percaya padaku atau tidak, yang jelas semuanya tidak seperti yang kau bayangkan. Kalau kau percaya padaku kau pasti tahu bagaimana aku begitu menghargai hubungan kita," jawab L dengan tenang
"Baiklah aku percaya denganmu, tapi salahkah jika aku cemburu saat melihat mu dekat dengan lelaki lain?"
"Tentu saja kamu tidak salah, cemburu adalah tanda cinta dan aku sangat senang jika kau cemburu padaku karena itu berarti kau begitu mencintai aku," jawab L lagi
"Baiklah kalau begitu, aku sebenarnya tidak mau bertengkar denganmu apalagi mencurigai mu, hanya saja aku memang tidak suka saat melihat mu tersenyum menatap Sean, apalagi aku tahu dia menyukai mu. Jadi aku minta kamu jangan tersenyum dengannya dan juga jangan terlalu dekat dengannya,"
"Ya gak bisa dong sayang, kalau aku tiba-tiba menjauhi Sean pasti dia akan curiga padaku, dia pasti mengira aku sedang kesal dengannya apalagi jika aku tak selalu manyun bila bertemu dengannya. Percayalah meskipun aku selalu tersenyum kepada semua orang tapi hatiku hanya untuk mu seorang,"
__ADS_1