
Hera semakin getol mengikutsertakan putrinya mengikuti berbagai les privat agar ia bisa mengalahkan Bagas.
Ia bahkan tak membiarkan anaknya bermain meskipun hanya sebentar.
"Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tentu membutuhkan pengorbanan, jadi kamu gak boleh menyerah kalau ingin mengalahkan Si Bagas. Tetaplah bersemangat dalam mengikuti setiap les yang ibu pilihkan untukmu. Tentu saja semua itu ibu lakukan, agar kamu bisa mengalahkan anak sombong itu. Dan juga agar Miss Chintya tahu siapa sebenarnya yang genius. Aku yakin kamu akan bisa menduduki peringkat pertama saat ujian semester nanti, jadi semangatlah!" ucap Hera menyemangati putrinya
"Apa kamu tidak terlalu keras padanya, dia itu masih kelas satu loh, memangnya harus belajar sekeras itu," ucap Suami Hera
"Tentu saja Mas, justru kita harus membiasakan dia belajar sejak dini agar dia terbiasa. Mas percaya saja sama aku, meskipun Sheira bukan anak kandung ku tapi aku menyayanginya sama seperti anakku sendiri,"
"Baiklah aku percaya, yang penting sheira gak keberatan gak masalah,"
"Tentu saja, buktinya dia senang dan menikmati semua les yang diberikan,"
***********
Sementara itu Laila terkejut saat dua orang perwakilan Yayasan Bangun Negeriku menemuinya.
"Karena putra ibu berhasil lulus tes, maka kami akan memberikan sebuah bimbingan belajar gratis untuknya, tujuan dari bimbingan belajar ini adalah agar putra anda bisa mendapatkan sekolah favorit yang sudah kami rekomendasikan, jadi bagaimana ibu?"
"Oh begitu, tapi kan Bagas masih kelas satu jadi aku rasa ia belum membutuhkan les atau pelajaran tambahan, bagaimana kalau ia menggunakan fasilitas itu setelah kelas empat," jawab L
"Bisa saja Bu, terserah ibu saja. Hanya saja sebaiknya Untuk Bimbingan belajar dilakukan dari kelas bawah agar ia terbiasa, nanti di sana juga ada kelas khusus untuk anak-anak yang memiliki bakat khusus atau intelegensi diatas rata-rata atau genius, kalau ibu bersedia silakan isi formulirnya, nanti bisa diberikan kepada wali kelas jika sudah selesai mengisinya,"
"Baik nanti saya isi, terimakasih atas informasinya," jawab Laila
Ia kemudian menunggu Bagas di luar kelas, sesekali ia memperhatikan bagaimana Bagas saat sedang belajar.
"Di sekolah reguler saja ia udah bosen apalagi jika di tambah les, pasti dia gak akan betah," Laila kemudian memasukan formulir itu kedalam tasnya
Tak lama suara bel sekolah berdering tanda jam pelajaran sudah berakhir. Melihat ibunya sudah berdiri menunggunya, Bagas segera berlari menggandeng lengannya.
"Mamah, hari ini aku dapat nilai seratus," ucapnya begitu bangga sambil menunjukkan kertas ulangannya
"Alhamdulillah, nah gini dong kalau ada latihan soal dikerjakan, karena kamu sudah bikin mama seneng hari ini maka mamah akan traktir kamu es krim, mau gak?"
"Mau!"
Laila segera mengajak Bagas menuju minimarket dan membeli beberapa es krim coklat kesukaannya.
"Sayang nanti kamu tunggu di rumah dulu ya sama bibi, mamah mau ke sekolah kak Sofia, ada yang harus mamah urus disana,"
"Baik Mah,"
Setelah mengantar Bagas pulang, Laila kemudian menuju sekolah Sofia.
__ADS_1
Hari ini ia terpaksa menggantikan, Ibu mertuanya untuk mengambil raport Sofia.
Sofia begitu bahagia saat melihat L datang ke kelasnya, jika ia biasanya di tunggu oleh neneknya hari ini L sengaja datang menjemputnya sekalian mengambil raportnya.
"Alhamdulillah hasil belajar kamu bagus Sof, mamah bangga sama kamu, terimakasih ya anak mamah," ucap L kemudian memeluknya
Dalam perjalanan pulang, Andru menelpon L untuk menemuinya di sebuah restoran langganan mereka.
"Tumben Andru mengajak ketemuan di jam kerja, memangnya dia gak sibuk apa?"
Setibanya di restoran Laila segera mencari keberadaan Andru.
"Kamu sudah datang sayang," ucap Barri menarik lengan L
"Dimana Andru," ucap Laila berusaha melepaskan lengan lelaki itu
"Dia sudah menunggumu diatas," ucapnya kembali mengandeng lengan
"Lepasin gak!" seru L kembali meronta
"Sebaiknya kau diam dan ikutin gue, kalau mau anak kamu selamat," bisik Barri
Melihat Sofia di sandera oleh anak buah Barri membuat Laila segera mengikuti pemuda itu tanpa banyak bicara.
Barri kemudian menelpon Andru dan memperlihatkan keadaan istrinya.
"Berikan bukti-bukti yang menyatakan akulah pelaku penggelapan uang perusahaan, jika kamu mau istri dan anakmu selamat," ancam Barri
"Jangan pernah sentuh istriku, atau aku akan membunuh mu!" sahut Andru
"Bagaimana mungkin lelaki cacat seperti mu bisa membunuhku yang benar saja Ndru, sebaiknya cepat kirim bukti-bukti itu ke kalau kamu tidak mau kehilangan istri tercinta mu," imbuh Barri kemudian mematikan ponselnya
"Sial!!"
Andru berteriak keras setelah menerima telepon dari Barri. Ia tak pernah berpikir jika lelaki itu akan berbuat nekad dengan menculik istri dan anaknya.
Ia kemudian segera menghubungi Lexi dan memberitahukan tentang Laila dan Sofia yang di sandera oleh Barri.
"Sepertinya kali ini dia tidak main-main, aku sangat mengenal Barri. Dia tidak akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang, jadi kita harus hati-hati menghadapinya. Karena jika kita salah sedikit saja maka bisa membahayakan nyawa L dan Sofia,"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Andru
"Kita ikuti saja kemauannya," jawab Lexi
"Lalu bagaimana kita bisa menghukumnya jika kita tak punya bukti-bukti kejahatannya,"
__ADS_1
"Percaya saja padaku, kau lakukan saja keinginannya biar aku yang menyelesaikan sisanya," jawab Lexi
"Baiklah kalau begitu, aku mengandalkan mu Lex."
Andru segera melesatkan mobilnya menuju lokasi penyanderaan Laila.
Setibanya di sana seorang anak buah Barri langsung memeriksanya.
Setelah memastikan aman mereka kemudian membawanya masuk kedalam gudang.
"Ternyata kamu gentle juga Ndru, apa kamu tidak takut jika aku bisa saja membunuh kalian bertiga di sini setelah mendapatkan bukti-bukti itu?" gertak Barri
"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, karena jika aku tidak kembali dalam waktu dua puluh empat jam maka polisi akan mencari mu," jawab Andru
"Wah ternyata kamu sudah memiliki rencana yang matang juga, good aku suka pemuda smart kaya kamu. Sekarang berikan bukti-bukti itu maka aku akan membiarkan kalian pergi dari sini," sahut Barri
Andru segera melemparkan sebuah USB kepada Barri.
"Semuamya ada di sana, kau bisa mengeceknya jika tidak percaya,"
Barri segera menangkap USB itu dan menyambungkannya ke ponselnya
Ia menyeringai saat melihat isi benda itu.
"Ok aku percaya,"
"Lepaskan mereka!" seru Barri
Saat anak buah Barri sedang melepaskan ikatan L dan juga Sofia, tiba-tiba Lexi dan anak buahnya merangsek masuk dan menyerang Barri dan anak buahnya.
"Sial!" Barri yang merasa terkejut dengan kedatangan Lexi segera mengambil pistolnya dan mengarahkan senjatanya kepada Laila.
"Lepaskan senjata kalian atau aku akan membunuhnya!" ancam Barri
Andru segera memerintahkan Lexi untuk berhenti melawan anak buah Barri, namun Lexi tak menghiraukan ucapan Andru.
Pemuda itu justru semakin menggila dan berniat menembakkan senjatanya kearah Barri.
Andru yang tak mau kehilangan Laila segera beranjak dari kursi rodanya dan melesatkan tendangannya kearah Barri.
*Door!!!
*Bruugghhh!!!
"L!!"
__ADS_1