
"Kamu mau ketemu papah?"
"Mau peluk papah?" ucap Gandrung memastikan keinginan Bagas
Seketika anak itu langsung mengangguk menanggapi pertanyaan Gandrung.
"Kalau begitu sini peluk," ucap Gandrung kemudian membuka tangannya
Bagas segera memeluk Pemuda itu begitu erat hingga Andru bisa merasakan betapa anak itu sangat merindukan sosok ayahnya.
"Anggap aja Om ini papah kamu, jadi kamu bisa peluk Om kapanpun kalau kamu kangen papah ya," ucap Pemuda itu membuat L terharu melihat ketulusan pemuda itu.
Malam itu Bagas terus bergelayut manja dalam pangkuan Andru hingga ia terlelap di pangkuannya.
"Thanks Dru, udah bantu tenangin Bagas, btw lo belajar dimana cara nanganin anak kecil, sampai Bagas tidur pulas gitu," ucap L
"Ada deh," jawab Andru kemudian segera menggendong Bagas dan membaringkannya di kamarnya
"Sekali lagi makasih ya Ndru,"
" Masa makasih doang sih, sekali-kali tawarin gue kopi gitu," sahut Andru kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sofa
"Lo suka kopi apa," tanya Laila
"Kopi hitam aja L jangan terlalu manis ya, karena gue udah manis," sahut Andru memasang wajah cutenya di depan L
"Hmm," jawab L kemudian segera menuju ke dapur
lima menit kemudian ia keluar membawa segelas kopi untuk Gandrung.
Lelaki itu langsung menyeruput kopi di depannya.
"Wah rasanya pas, I like it!" ucap Andru mengacungkan jempolnya kepada L
"Sepertinya kamu lelah banget hari ini?" tanya pemuda itu menatap L yang sesekali menghela nafas
"Kau tahu hari ini aku menolak tawaran bekerja di sebuah sekolah internasional,"
__ADS_1
"Wow, kok bisa, Why??" tanya Andru
"Entahlah, mungkin karena aku takut akan menelantarkan kedua buah hatiku atau karena sikap naif ku yang lebih memilih bekerja aman tanpa tuntutan tanggung jawab yang besar. Kau tahu kan aku hanya seorang single parents jadi selain mencari nafkah aku juga harus merawat kedua anakku agar mereka tidak kekurangan kasih sayang, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan semuanya dengan seimbang tapi jika melihat hal yang barusan maka aku merasa apapun yang sudah aku lakukan sia-sia," ucap L terisak
"Sudahlah jangan sedih, maklumin saja dia masih anak-anak, jangan kan di aku yakin di lubuk hatimu yang terdalam kau juga masih merindukan mantan. suamimu bukan?" tanya Guntur membuat L tercengang
"Hahahaha, kau bahkan bisa menebak isi hatiku, apa kau seorang dukun?" jawab L balik bertanya
"Sepertinya gitu, ada yang bilang sih kalau gue masih keturunan Jayabaya makanya ramalan gue itu nyata makanya hati-hati lo sama gue," goda Andru membuat Laila kembali terkekeh dan memukulinya gemas
"Dasar pembual, beruntung kamu ganteng coba kalau gak pasti sudah habis dipukuli oleh ibu-ibu komplek," sahut Laila
"Gue rela dipukuli ibu-ibu komplek asal, ibu-ibu kompleknya lo," sahut Andru
"Dasar buaya, mulai deh gombalnya, berani lo gombalin emak-emak?" tanya L
"Tentu saja, aku lebih suka wanita dewasa kerena ia lebih Mandiri daripada gadis seusia ku yang kebanyakan manja dan kekanakan," jawan Gandrung
"Memangnya berapa usiamu?" tanya L menatap lekat pemuda itu
"Bwahahahaha, kamu ini masih unyu-unyu!" sahut L tak kuasa menahan tawanya
"Kenapa kau bilang aku masih unyu-unyu, aku tersinggung tahu," sahut Andru kesal
"Oi dengerin, sekarang usia ku sudah menginjak 31 tahun, sedangkan kau baru 21 tahun, usia kita terpaut sepuluh tahun, perbedaan yang terlalu jauh, coba saja kau lahir sepuluh tahun lebih awal pasti aku akan mempertimbangkan perasaan ku padamu, hahahaha... Sama seperti dirimu, aku juga tidak suka dengan brondong yang kekanakan dan belum dewasa, mereka sangat merepotkan," terang L kemudian merebahkan kepalanya di kursi.
"Kedewasaan itu bukan diukur dari usia seseorang, tapi dari banyaknya pengalaman hidup yang sudah ia lalui,"
"That's right baby,"
"Kau bisa menilai sendiri menurutmu aku ini kriteria berondong yang dewasa atau kekanakan?" tanya Andru
"Kalau yang aku lihat selama ini kamu tuh masuk kategori berondong tua, wkwkwkwk!" jawab L menertawakan Andru
"Sue!" cibir Andru menatap kesal kearah L
Entah kenapa pemuda itu merasa senang saat melihat L tertawa lepas malam itu. Jika selama ini ia lebih sering melihat wanita itu bersedih, makan malam itu ia bisa melihatnya tertawa bahagia.
__ADS_1
"Kau terlihat cantik saat tertawa," ucap Andru menatap lekat kearah L
"Really??" tanya L balik menatapnya
"Sure,"
"Hahahahaha, kamu memang paling pinter ya kalau bikin orang salting, andai saja pertahanan diri gue lemah mungkin sekarang aku sudah terbang ke awang-awang kerena kata-kata manis mu itu berondong ku yang unyu-unyu," sahut L kemudian mencubit gemas pipi Andru
"Lakukanlah sepuas hatimu, asal kau bahagia aku rela menderita," jawab Andru dengan tatapan berkaca-kaca
"Astoge, lama-lama berdekatan denganmu benar-benar bisa membuat ku gila," sahut L mendorong tubuh pemuda itu
"Ngomong-ngomong, tentang tawaran pekerjaan itu apa tidak sebaiknya kau menerimanya saja. Sudah saatnya sekarang kau untuk menata hidupmu, dan menunjukkan kepada Krisna kalau kau bisa survive tanpa dia. Jangan pernah ia merasa jika kau malah makin terpuruk setelah berpisah dengannya. Sudah saatnya kau bangkit dan membalas dendam atas apa yang mereka lakukan bukan berdiam diri seperti ini," ucap Andru
"Lalu apa yang harus aku lakukan??" tanya L
"Keluar dari zona nyaman mu dan mulailah bekerja pintar untuk membangun perekonomian mu. Sudah saatnya kau memanfaatkan peluang yang ada dan meninggalkan pekerjaan lamamu,"
"Tapi ...."
L terlihat berat saat Andry menyarankan untuk resign dari sekolah tempatnya mengajar dan memilih mengajar di sekolah Internasional.
"Sudah cukup kau mengamalkan ilmu mu, dan sekarang saatnya menggunakan kemampuan mu untuk mendapatkan keuntungan. Memang diawal akan terasa berat tapi setelah kau jalani pasti semuanya akan menjadi ringan dan kau bisa mengikhlaskannya, sama seperti melepas suamimu,"
"Kau benar, mungkin sekarang sudah saatnya aku menunjukkan kepada Hera siapa diriku yang sebenarnya," jawab L
"Hera??" tanya Gandrung mengerutkan keningnya
Laila kemudian memberitahukan kepadanya siapa Hera. Ia juga memberitahunya jika ia mendapatkan tawaran pekerjaan di sekolah tempat wanita itu mengajar.
Guntur mendukung L untuk menerima tawaran pekerjaan itu untuk membalas dendam kepada Hera. Pemuda itu bahkan menawarkan diri untuk membantunya membalas dendam kepada wanita itu.
Malam itu L merasa lega karena bisa mencurahkan semua keluh kesahnya yang selama ini ia pendam sendiri.
Bila selama ini ia tidak pernah menceritakan tentang masalah pribadinya kepada orang lain, entah kenapa ia merasa nyaman saat menceritakan semuanya kepada Andru.
Pagi harinya Andru sengaja mengantarnya ke sekolah tempatnya mengajar. Hari itu L memutuskan untuk berhenti mengajar di tempat itu dan memilih untuk menerima tawaran Sean Mahardika pemilik sekolah internasional Cita Buana.
__ADS_1