
Siang itu Hera sengaja mendatangi bimbel tempat Sheira belajar. Ia sengaja menemui sang manajer untuk mengetahui perkembangan belajar putrinya Sheira.
"Bagaimana perkembangan belajar putri saya pak, apa dia ada peningkatan?" tanya Hera
"Untuk sejauh ini Sheira memang anak yang sangat bersemangat dalam belajar, namun sayangnya dia masih harus banyak berlatih agar kemampuannya semakin berkembang. Kalau bunda Sheira tidak keberatan, apa anda berminat mengikutsertakan putri anda pada lomba Science tingkat sekolah dasar?"
"Tentu saja Bu,"
"Selain sebagai ajang untuk mengukur kemampuan intelektual putri anda, perlombaan ini juga bisa berfungsi sebagai ajang pembuktian siswa terbaik sekolah dasar di bidang Science. Perlombaan ini hanya diikuti oleh anak-anak yang memiliki nilai tinggi di pelajaran Science, dan pemenangnya akan mendapatkan hadiah dari kementrian pendidikan. Kalau ibu tertarik silakan mendaftar di link yang saya kirim di pesan WhatsApp,"
"Baik pak terimakasih atas informasinya. Tapi biasanya untuk mengikuti perlombaan seperti itu dibutuhkan tutor yang akan menjadi pelatih anak saya dalam mempersiapkan perlombaan ini. Kalau tidak keberatan apa anda punya referensi siapa yang bisa menjadi tutor untuk Sheira?" tanya Hera
"Bagaimana jika belajar dengan Mr. Albert, dari semua tutor yang ada di bimbel ini, hanya Albert yang berpengalaman dalam membantu anak-anak memenangkan setiap perlombaan, dia memang lebih disiplin dari tutor lainnya, tapi jangan khawatir dia yang terbaik di sini. Aku yakin di bawah bimbingannya Sheira bisa memenangkan perlombaan itu," terang sang Manajer
"Baik, terima kasih atas bantuannya," Hera kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu dan menemui Albert di ruangannya.
"Siang Mr. Albert maaf mengganggu waktunya sebentar," ucap Hera
"Siang, ada yang bisa saya bantu Bunda?" jawab Albert
"Perkenalkan saya Mamahnya Sheira, kebetulan tadi saya berbincang dengan Pak Haris, dan ia menyarankan saya untuk menemui Bapak untuk menjadi tutor anak saya mempersiapkan lomba Science tingkat Nasional,"
"Hmm, memangnya anak ibu kelas berapa?" tanya Albert
"Kelas satu pak,"
"Sepertinya untuk perlombaan tingkat SD kelas satu tidak pernah diikutsertakan, kecuali anak spesial dengan intelegensi tinggi. Perlombaan hanya diperuntukkan bagi kelas 4 sampai dengan kelas 6 saja Bun?" jawab Albert
"Bagaimana kalau anak saya memiliki intelegensi tinggi?" jawab Hera
"Apa saya bisa lihat nilai prestasi belajarnya?" tanya Albert
"Anak saya memang bukan siswa genius tapi aku yakin dengan bimbingan Mr. Sheira bisa mengikuti perlombaan itu," jawab Hera
__ADS_1
" Perlu latihan ekstra keras agar bisa mendapatkan nilai sempurna untuk memenuhi kualifikasi sebagai peserta lomba. Apa Bunda siap dengan semua konsekuensi yang akan di terima putri anda?" tanya Albert
"Tentu saja, apapun akan aku lakukan demi bisa mengikuti lomba itu,"
" Sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri, aku takut Sheira tidak bisa mengikutinya,"
"Lakukanlah yang terbaik untuk putriku, aku mohon," ucap Hera
Lelaki itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya membuat Hera mengeluarkan amplop coklat berisi uang dan memberikan kepadanya.
"Aku tahu genius itu bisa diciptakan dengan banyak latihan, dan jika ada orang yang bisa menciptakan anak genius itu adalah kamu, jadi lakukanlah untuk anakku," ucap Hera
Albert memeriksa isi amplop itu, "Baiklah kalau Bunda memaksa," jawab lelaki itu
Hera begitu bahagia melihat Albert akhirnya bersedia menjadi tutor Sheira. Ia dan Sheira terlihat begitu bersemangat mengikuti program yang diberikan oleh Albert.
Lelaki itu bahkan mengikutsertakan Sheira dalam setiap perlombaan untuk menguji kemampuannya.
Ia bahkan berkali-kali memenangkan perlombaan yang diikutinya hingga membuat Hera semakin bangga kepada Sheira.
"Tentu saja mah, Ira akan bertahan dan terus berlatih demi mengalahkan si sombong Bagas," jawab Sheira
"Good girl, mamah pasti akan membantu dan mendukung mu untuk mencapai semua yang kau inginkan jadi tetaplah semangat!" seru Hera memberikan dukungan
Karena kesibukannya mengurusi les Sheira, Hera jarang berkumpul lagi dengan para wali murid kelas satu.
"Wah sepertinya Mamah Sheira lagi sibuk banget ya sampai gak pernah ngumpul-ngumpul lagi sama kita," sapa seorang wali murid
"Beneran kamu marah karena kita deket sama Mamahnya Bagas, Ra?" tanya yang lainnya
"Kenapa harus marah, toh sebentar lagi kalian juga balik lagi ke gue. Lagian gak penting juga ngumpul bareng-bareng kalian yang kerjanya hanya bergosip saja. Bukankah lebih baik mengantar Sheira les privat daripada bergosip dengan kalian," jawab Hera kemudian meninggalkan mereka
"Sombong banget dia, memangnya apa sih kelebihan Sheira, sampai dia merasa kalau anaknya yang paling pintar,"
__ADS_1
"Benar, padahal kata Nadine dia itu biasa aja loh, bahkan nilai Nadine jauh lebih bagus daripada Sheira,"
"Kita lihat saja, sampai kapan dia akan bersikap sombong seperti itu!"
Sementara itu Bagas berlarian bersama teman-temannya setelah membeli minuman di kantin. Saat hendak duduk di kursinya, seorang temannya sengaja menjegalnya hingga ia jatuh dan minuman yang dibawanya tumpah mengenai Sheira yang tengah membaca buku.
Gadis kecil itu langsung berteriak dan memarahinya hingga membuat semua anak-anak mengerubungi keduanya.
"Dasar bodoh, apa kau tahu kamu sudah merusak buku kumpulan rumus-rumus milikku. Kau tahu buku ini sangat mahal dan langka karena hanya di buat oleh tutor ku saja. Bagaimana aku bisa belajar kalau seperti ini, dasar idi*t!" maki Sheira
"Maafkan aku, aku janji akan mengganti bukunya," jawab Bagas tak berani menatap Wajah Sheira yang terlihat menyeramkan
"Helo, kamu pikir buku ini diperjual belikan, mau kamu beli ke ujung dunia pun kamu tidak akan menemukannya, makanya punya otak itu di pakai, katanya genius tapi ternyata bodoh!" cibir Sheira
"Kalau begitu biar aku akan menyalin tulisannya,"
Sheira tertawa mendengar jawaban Bagas.
"Kau pikir aku bisa membaca tulisan jelek mu itu, belajar nulis dulu yang bener baru baru ngomong begitu," jawab Sheira kemudian mendorong tubuh Bagas hingga terhempas ke lantai.
Melihat kegaduhan di kelas membuat Chintya segera memasuki ruangan itu untuk menengahi pertengkaran kedua muridnya tersebut.
"Ini ada apa sih, kenapa kalian ribut-ribut seperti ini?"
"Bagas Miss, dia sudah merusak buku rangkuman rumus-rumus milikku, asal Miss tahu selain isinya rumus-rumus buku itu berisi tentang catatan penting yang harus aku hafal, kalau buku itu rusak terus bagaimana aku bisa belajar!" ucap Sheira mengadu
"Coba bisa miss lihat bukunya?" tanya Chintya
Sheira segera memberikan buku catatannya itu kepada Chintya.
"Kalau begitu biar aku panggil orang tua kalian saja untuk menyelesaikan permasalah ini, sebaiknya kalian baikan ya." Chintya kemudian menyuruh Bagas meminta maaf kepada Sheira
Namun saat Bagas meminta maaf padanya, gadis itu malah menolaknya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkan kamu sampai buku catatan ku kembali seperti semula!" sahut Sheira dengan wajah juteknya.