
Pagi itu Barri sengaja mengadakan rapat direksi untuk membahas penggelapan dana yang dilakukan oleh Lexi.
"Meskipun Lexi adalah saudara sepupuku, tapi aku tidak bisa memaafkan kesalahannya. Jadi saya memutuskan untuk memperhatikan Lexi dari jabatannya dan juga mencabut semua fasilitas yang diberikan perusahaan kepadanya," ucap Barri
"Tapi Mas kasus Mas Lexi masih berjalan, jadi kita belum bisa memastikan jika dia benar-benar bersalah dalam kasus ini," ujar salah seorang direksi
"Semuanya sudah jelas, meskipun Lexi mengajukan banding, tetap saja pengadilan sudah memvonisnya bersalah," jawab Barri
"Benar juga," ucap beberapa orang direksi tampak membicarakan tentang Lexi
Melihat reaksi para direksi yang tidak menentang keputusannya membuat Barri tersenyum senang.
Sekarang tidak ada lagi yang bisa mengancam posisi ku di perusahaan ini, karena aku akan menyingkirkannya satu persatu.
"Tidak semudah itu kamu memecatnya, karena kamu harus meminta persetujuan dari ku dulu baru bisa memecatnya," ujar Andru membuat semua orang tercengang melihat kedatangannya
"Andru???"
Seketika Barri melotot melihat kedatangan Andru di ruangan itu.
"Kamu benar, tapi melihat begitu besar kerugian yang dialami perusahaan karena penggelapan dana itu maka sudah sepantasnya kamu menyetujui usulan tersebut," jawab Barri
"Aku hanya akan memecatnya jika ia memang sudah dinyatakan bersalah oleh pihak pengadilan. Dan mulai saat ini aku akan kembali bekerja, jadi kamu bisa kembali menempati posisi mu sebagai kepala divisi keuangan," jawab Andru kemudian memutar kursi rodanya menuju ruang kerjanya.
Ia begitu terkejut saat melihat ruang kerjanya.
"Apa ini benar-benar ruang kerjaku, kenapa aku merasa begitu asing,"
Seorang wanita kemudian menghampirinya.
"Maaf, barang-barang anda saya amankan di ruang kerjaku, aku akan segera menatanya kembali di ruangan ini seperti sedia kala," ucap wanita itu kemudian bergegas pergi
Tidak lama ia kembali dengan membawa satu dus besar barang-barang milik Andru.
Ia kemudian menata benda-benda itu sesuai posisinya.
"Maaf hanya ini yang saya bisa amankan, aku tidak tahu jika Mas Barri akan membuang beberapa dokumen penting milik anda," tukas wanita itu
"Dari sekian banyak benda-benda di ruangan ini kenapa semuanya penuh dengan foto-foto wanita itu dan anak-anaknya, aku pasti sangat menyukainya sehingga begitu terobsesi dengannya," ucapnya sambil tersenyum memandangi foto pernikahannya dengan L yang terpajang di mejanya.
"Kalau begitu saya pamit pak," ucap wanita itu
"Silakan," jawab Andru kemudian membereskan meja kerjanya
Barri segera menarik lengan wanita yang baru keluar dari ruangan Andru.
"Bagaimana, apa reaksinya?" tanya Barri
"Seperti yang anda ucapkan, sepertinya Mas Andru memang kehilangan sebagian ingatannya. Dia tidak begitu antusias saat melihat foto istri dan anaknya seperti dulu," jawab Sekretaris Andru
"Jika benar ia mengalami amnesia berarti dia tidak mengingat tentang buku agenda itu, dengan begitu aku aman untuk sementara waktu. Tetaplah untuk mengawasi gerak-geriknya dan laporkan kepada ku jika ada sesuatu yang mencurigakan darinya,"
"Baik Pak,"
***********
Andru kemudian meninggalkan ruang kerjanya menuju ke ruang Divisi perbekalan. Setibanya di sana ia disambut oleh kepala divisi yang baru pengganti Lexi.
"Ada yang bisa saya bantu Mas Andru?" tanya lelaki itu begitu ramah
"Tidak ada, aku hanya ingin berjalan-jalan saja, kebetulan aku suntuk berada di dalam ruangan ku," jawab Andru
__ADS_1
"Kalau begitu biar aku temani anda berkeliling," jawab lelaki itu kemudian membantu mendorong kursi roda Andru.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Andru
Sementara itu Andru sedikit terkejut saat melihat sebuah bangku kosong di ruangan itu.
"Siapa yang bertugas disana, kenapa mejanya kosong?" tanya Andru
"Itu adalah meja Pak Salman, kebetulan ia sudah resign beberapa hari yang lalu," jawab lelaki itu
Jadi ia juga menyingkirkan Salman, untuk menutupi kebusukannya,
Andru tersenyum sinis saat mendengar jawaban lelaki itu.
"Kalau begitu, bisa tolong panggilkan sekretaris saya?"
"Tentu saja," jawab lelaki itu segera menghubungi sekretaris Andru
Tidak lama seorang wanita cantik menghampiri mereka.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Jessica
"Tolong antarkan aku ke ruangan Barri, aku lupa dimana ruangannya," ucap Andru
"Baik," jawab Jessica mengangguk pelan
Ia kemudian mendorong kursi roda Andru menuju ruangan divisi keuangan.
Barri segera menyambutnya begitu melihat Andru menyambangi ruang kerjanya.
"Angin apa yang membawamu datang mengunjungi ku?" sapa Barri
"Apa kau berniat menginvestigasi diriku?" tanya Barri dengan tatap wajah penasaran
"Bagaimana mungkin aku menginvestigasi karyawan teladan seperti dirimu," jawab Andru menatap beberapa piagam penghargaan yang diraih oleh Barri
"Kamu terlalu berlebihan," jawab Barri
"Harusnya karyawan teladan seperti dirimu mendapatkan hadiah promosi dari perusahaan, bukan malah bertahun-tahun duduk di kursi ini. Maafkan kakek jika sudah bersikap tak adil padamu selama ini,"
"Bagiamana aku bisa membencinya, sedangkan kakek begitu sayang padaku," jawab Barri
"Terima kasih atas pengertiannya, aku merasa lega mendengarnya,"
Andru kemudian meminta Jessica mengantarkannya kembali ke ruangannya.
Ia kemudian meminta wanita itu untuk membereskan foto-foto L yang terpajang di ruangan itu dan menyimpannya di lemari.
"Kenapa anda tidak ingin memajang foto-foto itu, bukankah dulu anda sangat bersemangat saat memajangnya dan melarang siapapun menyentuh foto itu?" telisik Jessica
"Entahlah, aku merasa foto-foto itu hanya membuat penuh ruangan ini, jadi sebaiknya aku simpan saja," jawab Andru
Ia kemudian menelpon assistant pribadinya dan memintanya segera menjemputnya.
"Aneh, apa dia kehilangan ingatannya tentang istrinya?" ucap Jessica
***********
Sementara itu Laila masih harap-harap cemas menunggu pengumuman penerimaan siswa di sekolah Bagas.
"Ya Allah mudah-mudahan Bagas diterima di sekolah itu, jadi ia tidak perlu bersekolah di tempat yang jauh,"
__ADS_1
"Memangnya kau yakin anakmu itu pintar, hanya anak-anak dengan IQ tinggi yang bisa masuk sekolah ini," cibir Hera yang datang menghampirinya
"Dia lagi, kenapa sih kamu selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi, jangan bilang kalau kali ini kamu juga berniat untuk merebut Andru dariku?" sahut Laila
"Maaf aku tidak level dengan brondong, lagipula aku tinggal disini bukan karena mengikuti mu. Aku tinggal sini karena suamiku mendapat rumah dinas di sini dari perusahaan, jadi bukan salah gue dong!" sahut Hera
"Syukurlah kalau begitu," ucap L lega
Ia segera bergegas meninggalkan Hera saat melihat seorang wanita tengah memasang sebuah pengumuman hasil TES.
"Alhamdulillah, Bagas di terima," ucap L begitu bahagia.
"Yes anakku juga diterima," sahut Hera kemudian menyusul L menuju ruang administrasi.
Selesai melakukan pembayaran Laila segera mengajak Bagas pulang.
Setibanya di rumah Andru sudah duduk di ruang tamu menunggunya.
"Kamu??" L tercengang melihat suaminya sudah pulang ke rumahnya
"Kenapa kaget, bukankah kamu sangat senang jika aku pulang ke rumah?" kata Andru
"Iya sih, tapi kamu kan belum pulih,"
"Aku sudah pulih lahir batin," jawab Andru
"Papah, hari ini aku lulus tes dong?" ucap Bagas langsung bergelayut manja duduk di pangkuan ayahnya
"Sayang kamu gak boleh duduk di pangkuan papah, dia masih sakit!" seru L langsung menyuruh Bagas untuk turun
"Biarkan saja, namanya juga anak-anak," jawab Andru acuh
"Tapi kaki kamu kan belum pulih benar, aku takut aja kalau terjadi sesuatu denganmu," jawab L
"Apa kamu begitu takut kehilangan aku?" tanya Andru
"Tentu saja, siapa yang tidak takut kehilangan suami yang baru menikahinya selama satu Minggu," jawab L menyeka air matanya
"Mamah jangan nangis dong, aku janji gak bakal minta pangku papah lagi," ucap Bagas menyeka air matanya
"Iya sayang, nanti kalau papah sudah sembuh kamu boleh kok minta pangku sepuasnya, tapi untuk sekarang belum boleh. Apa kamu paham?"
Bagas mengangguk mengerti kemudian segera masuk ke kamarnya.
"Maaf kalau aku sudah menyakiti perasaan mu," ucap Andru merasa bersalah
"Tidak apa, lagipula aku mengerti kenapa kamu berkata seperti itu, Santai aja," sahut L
L segera meletakkan barang-barangnya di kamar, kemudian segera menuju ke dapur.
Mencium wangi aroma masakan membuat Andru keluar kamar dan menuju ke meja makan.
"Bukankah ada pembantu, kenapa kamu masak sendiri?" tanya Andru
"Apa kamu lupa kalau kamu pernah bilang kalau kamu tidak mau makan selain masakan ku?" Jawab L
"Benarkah aku berkata seperti itu," ucap Andru tak percaya
"Kamu memang tidak kehilangan memori mu, tapi kamu banyak kehilangan ingatan mu tentang kisah kita khususnya tentang diriku," imbuh L merasa sedih.
Maafkan aku L, aku terpaksa melakukannya padamu, karena aku tahu kamu wanita kuat. Aku begitu menyayangi mu hingga tak mau mereka mengincar mu, itulah alasan ku bersikap seperti ini padamu.
__ADS_1