
"Romo tolong bantu aku sekali ini saja. Aku janji akan melakukan apapun yang kau perintahkan," ucap Hera melalui telepon
"Ceraikan Krisna, hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bebas dari penjara," jawab Hendro singkat
Hera kemudian segera menemui pengacaranya dan mendiskusikan apa yang disampaikan Hendro kepadanya.
"Masuk akal jika kau menceraikan dia karena sudah membunuh suamimu dan itu bisa memperkuat alibi jika ia memang yang membunuh suamimu agar bisa menikahimu," jawab sang pengacara
Hari itu juga Hera segera mendatangi pengadilan agama Semarang dan mengurus perceraiannya dengan Krisna. Ia berharap dengan begitu nama baiknya akan segera kembali.
"Maafkan aku Kris, aku hanya ingin mengembalikan nama baikku, dan kau harus menanggung semuanya,"
Hera bahkan menyebarkan rumor jika ia menikah dengan Krisna karena kena guna-guna. Sebagai mantan kekasihnya sejak SMA Krisna memang begitu tergila-gila dengan Hera hingga ia akan melakukan apapun demi untuk mendapatkan hati wanita itu.
Hera begitu apik mengarang cerita itu hingga semua orang percaya kepadanya.
Di dukung keluarganya yang merupakan seorang keluarga ningrat yang terpandang membuat alibinya terdengar masuk akal.
Tentu saja hal itu membuat Krisna semakin terpuruk. Lelaki itu benar-benar sedih hingga depresi saat tahu kebusukan hati wanita yang di cintainya.
Ia baru sadar jika Hera hanya menjadikannya sebagai tumbal agar ia terbebas dari tuduhan pembunuhan terhadap Haryo.
Sore itu Guntur menjenguk Krisna atas permintaan L. Lelaki itu kemudian mendengarkan semua keluh kesah Krisna agar bisa membantunya.
"Jadi apa yang harus aku lakukan Gun, aku benar-benar tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Karierku hancur, rumah tangga berantakan, nama baik keluarga juga hancur karena aku, entahlah apalagi yang akan dilakukan Hera padaku," ucap Krisna dengan nada gusar
"Sebenarnya kasus ini adalah kasus sederhana, kita hanya perlu satu bukti saja yang membuktikan jika Hera memang menemui Haryo hari itu agar bisa membebaskan mu dan menyeret kembali Hera kedalam sel," terang Guntur
"Saksinya hanya aku dan pembantu rumah tangga mereka. Tapi assisten rumah tangga itu sudah di suap Hera hingga memberikan keterangan palsu yang akhirnya menjebloskan aku ke tempat ini," sahut Krisna
"Apa di rumah Hera ada CCTV?"
"Tidak ada, di komplek itu hanya ada beberapa rumah saja yang menggunakan CCTV, karena lingkungan kami aman dan tidak pernah terjadi kejahatan," jawab Krisna
"Baiklah nanti saya akan coba memeriksa lingkungan itu untuk melihat apa ada CCTV yang merekam kedatangan Hera hari itu," tukas Guntur
"Thanks Bro, semoga kau bisa menemukan bukti itu agar Hera bisa mendapatkan hukuman sama sepertiku,"
"Aamiin, kau juga yang sabar jangan sampai mengambil jalan pintas hanya karena masalah ini," jawab Guntur
Ia kemudian segera meninggalkan lapas kepolisian setelah mendengarkan semua penjelasan dari Krisna.
Saat menuju parkiran Guntur bertemu dengan Hera. Wanita itu tersenyum lebar menatapnya.
"Senang sekali nisa bertemu denganmu Gun, bagaimana hubungan mu dengan L??. Kau pasti sangat sedih ya karena orang tuamu menolak merestui hubungan kalian. Bukankah sudah ku bilang kau dan L tidak akan pernah bersatu. Keluargamu sama kolotnya dengan keluarga ku, jadi kalau kau menginginkan pendamping hidup yang direstui oleh orang tuamu maka kau harus memilih aku sebagai calon istrimu," tutur Hera kemudian menunjukkan surat panggilan dari pengadilan agama untuk Krisna
"Tapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik denganmu, meskipun kau adalah wanita tercantik di dunia aku tetap tidak akan menikahi wanita iblis seperti mu," jawab Guntur
__ADS_1
"Wah kau kasar sekali, kau pasti sangat sakit hati karena kau pikir aku yang menjebak krisna bukan??"
"Jangan terlalu benci padaku Gun, karena benci itu sangat dekat dengan cinta, aku takut kau akan jatuh cinta padaku jika kau terlalu membenciku," imbuh Hera kemudian meninggalkan Guntur
Dasar wanita licik, bisa-bisanya dia berkata seperti itu padaku,
Hari itu Guntur segera mendatangi komplek perumahan Hera tinggal.
Ia kemudian memeriksa satu persatu rumah yang menggunakan CCTV.
*Tok, tok, tok!!
Seorang lelaki segera membukakan pintu untuknya dan mempersilakannya masuk.
"Maaf mengganggu sebentar pak, saya dari pihak kepolisian ingin mengecek cctv di rumah bapak untuk keperluan penyidikan, apa bapak keberatan?" tanya Guntur
"Silakan saja, tapi kemarin juga ada seorang lelaki yang memeriksa cctv rumah ini, katanya juga dari kepolisian," jawab sang pemilik rumah
"Apa dia menunjukkan surat tugas kepada Bapak?" tanya Guntur lagi
"Tidak, dia hanya bilang dari kepolisian itu saja, karena penampilannya juga meyakinkan, kami juga tak mencurigainya." sahut lelaki itu
"Nanti Bapak bisa lihat kok wajahnya di CCTV," imbuh sang pemilik rumah
Ia kemudian mempersilakan Guntur mengecek rekaman cctv kediamannya.
Guntur terkejut saat melihat riwayat rekaman cctv pada tanggal kejadian pembunuhan Haryo semuanya hilang.
"Kalaupun dia menghapus rekaman cctv dari laptop itu, aku masih menyimpannya di ponsel saya. Kebetulan aku memang suka memantau anak saya dari rekaman cctv saat saya sedang bekerja," jawab lelaki itu kemudian memberikan ponselnya kepada Guntur
Guntur segera memeriksa rekaman cctv hari dimana Hendro meninggal.
Lelaki itu begitu terkejut saat melihat Hera dan juga kedua orangtuanya ada di rumah itu.
"Pantas saja Krisna tidak mendapatkan saksi yang meringankan hukumannya, ternyata semua saksi ada di pihak Hera dan tentu saja kedua orang tuanya akan membela anaknya sendiri dan menutupi jika putrinya memang ada di tempat kejadian hari itu,"
"Kalau masalah Bu Hera, saya juga mendengar pertengkaran mereka malam itu. Malam itu mereka sepertinya bertengkar hebat hingga terdengar suara benda-benda sengaja dibanting hingga pecah," jawab lelaki itu
"Apa kau melihat kedatangan Hera hari itu?"
"Kalau itu aku tidak lihat, karena aku pulang kerja kan malam sedangkan Bu Hera sepertinya datang sejak siang atau pagi hari," jawab pemilik rumah
"Mungkin assisten rumah tangga saya yang melihatnya," imbuh lelaki itu
"Apa saya bisa bertemu dengannya?" tanya Guntur
"Tentu saja, kebetulan Bi Ratih itu gak tinggal di sini jadi aku kasih alamatnya saja," jawab lelaki itu
__ADS_1
Ia kemudian menuliskan sebuah alamat dan memberikannya kepada Guntur
"Terimakasih banyak pak atas kerjasamanya, kalau begitu saya pamit, assalamualaikum."
"Waalaikum salam, sama-sama pak."
Saat Guntur meninggalkan rumah itu, Hera tak sengaja melihatnya.
Wanita itu begitu geram saat tahu Guntur sedang berusaha mencari barang bukti untuk membebaskan Krisna.
Aku tidak akan membiarkan mu mendapatkan bukti-bukti itu!
Hera segera kembali ke rumahnya dan membakar semua outfit yang dipakai saat menemui Haryo di hari kematiannya.
Setibanya di alamat yang di tuju Guntur disambut hangat oleh seorang wanita tua.
Ia kemudian menanyakan tentang Hera kepadanya dan wanita itu menjawab jika ia melihat Hera pulang hari itu.
"Saya melihat Bu Hera pulang, mungkin dia pulang karena orang tuanya akan berkunjung. Soalnya tidak lama kedua orang tuanya datang berkunjung ke rumahnya. Nah sorenya Pak Haryo datang dan mereka bertengkar hebat sore itu," pungkas wanita itu
"Apa ibu bersedia memberikan keterangan ini kepada polisi?"
"Tentu saja,"
"Kalau begitu aku akan menjemput Ibu besok pagi, terimakasih atas bantuannya," ucap Guntur kemudian berpamitan
*********
Pagi harinya Guntur segera menjemput saksi dan membawanya ke kantor polisi.
Namun entah kenapa wanita itu memberikan keterangan yang berbeda saat di interogasi oleh pihak penyidik.
"Mungkin saya salah lihat pak, maklum saya sudah tua," jawab wanita itu
"Tapi kemarin ibu bilang melihat Hera hari itu dan kedua orangtuanya juga berkunjung,"
"Sepertinya saya salah lihat pak, hari itu aku benar-benar tidak melihat Bu Hera pulang," tegas wanita itu
"Lalu siapa yang ibu lihat?"
"Mbak Jum art nya Bu Hera,"
Mendengar penuturan Guntur Krisna semakin gusar.
"Hera sudah memanipulasi semuanya, sekarang aku tidak bisa apa-apa," ucapnya pasrah
"Jangan khawatir meskipun ia sudah menyuap saksi tetap saja aku mempunyai barang bukti yang tak bisa di manipulasi olehnya,"
__ADS_1
Guntur kemudian menyerahkan rekaman cctv yang didapatnya kepada pihak penyidik, dan sore itu juga Hera kembali masuk kedalam sel tahanan.
"Guntur!!!" seru Hera begitu polisi menggelandangnya kembali ke sel tahanan