DINIKAHI BRONDONG

DINIKAHI BRONDONG
Akhir Sebuah Kasus


__ADS_3

Hera benar-benar kesal kepada Guntur yang sudah berani ikut campur dalam urusan pribadinya. Ia tak habis pikir bagaimana pemuda itu bisa mendapatkan rekaman cctv sedangkan ia sudah menghapusnya.


Ia kemudian meminta bantuan kepada ayahnya untuk membebaskan dirinya.


"Ayolah ayah bantu aku, aku sudah menuruti permintaan mu untuk bercerai dengan Krisna dan menimpakan semua kesalahan kepadanya. Tapi kenapa aku tetap saja di penjara?" ucap Hera saat Hendro Sudarso mengunjunginya ke lapas Kepolisian.


"Entahlah, ayah sudah tidak bisa berpikir lagi. Aku harus membicarakan masalah ini dengan pengacara keluarga kita. Sebaiknya kau bersikap kooperatif saja agar aku bisa mengajukan penangguhan penahanan untukmu," jawab Hendro


"Caranya??"


"Nanti Romo pikirkan lagi," ucap lelaki itu


"Jangan lama-lama Romo, aku tak mau mendekam terlalu lama di sini," rengek Hera


Hendro memohon kepada keluarga Haryo untuk membebaskan putrinya. Karena bagaimanapun juga Hera tetaplah ibu dari cucu mereka.


Ia juga menceritakan perasaan cucunya saat melihat ibunya di penjara.


"Apa kalian tidak kasian melihat Ifan menderita, ia sudah kehilangan ayahnya dan kini kalian juga memisahkannya dengan ibunya," ucap Hendro


Meskipun Hendro sudah berusaha membujuk orang tua Haryo, tetap saja mereka tidak mencabut tuntutan kepada Hera.


Tentu saja hal itu membuat Hera depresi hingga harus dilarikan ke rumah sakit karena ia mogok makan berhari-hari.


Karena Hera sedang dipenjara, Sean kemudian meminta L untuk mengganti Hera untuk sementara waktu sebagai pengajar si sekolahnya sampai ia bisa menemukan guru pengganti untuk menggantikan posisinya.


Laila awalnya menolak, namun setelah Sean meyakinkan ia hanya menggantikan untuk sementara waktu L pun bersedia.


"Maaf bukannya aku tidak mau mengajar di sini, tapi aku tidak mau di cap sebagai orang yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Aku yakin banyak guru hebat di luar sana yang bersedia mengajar di sini menggantikan Hera,"


"Benar L, tapi aku juga harus memastikan kepada Hera dulu. Karena bagaimanapun juga Hera masih kerabat kami dan aku tidak bisa memutuskan hubungan kerja secara sepihak tanpa persetujuan darinya," terang Sean


"Ok aku mengerti, baiklah aku bersedia menggantikan posisi Hera sampai urusan kalian selesai," jawab L


"Thanks a lot L,"


"Sama-sama, maaf saya sekalian pamit pulang," ucap L berpamitan


"Kenapa tidak pulang bareng saja, bukankah hari ini kamu ada jadwal les di rumahku?"


"Benar, hampir saja aku lupa," sahut L


Wanita itu kemudian mengikuti Sean menuju parkiran.


Sean segera membukakan pintu untuknya dan mempersilakannya masuk .


"Terimakasih," ucap L kemudian duduk disebelahnya


Selama perjalanan keduanya saling diam hingga tak ada obrolan antara mereka.


Setelah tiba di rumahnya Laila segera turun dan menuju ke kamar putra sulung Sean.


Bocah tujuh tahun itu begitu bahagia saat melihat kedatangan L hingga langsung memeluknya.

__ADS_1


"Miss sudah makan belum?" tanya Devan


"Belum, emangnya kenapa?" tanya L


"Kita makan bareng yuk," ajak bocah itu


"Ayuk," jawab Laila kemudian mengikuti Devan menuju ke meja makan


Devan langsung duduk dan menyantap makanannya.


"Miss gak makan?" tanya Devan


"Miss temenin Devan makan aja ya," jawab Laila


Devan mengangguk dan melanjutkan makannya. Melihat Devan makan begitu lahap membuat Laila tersenyum melihatnya.


"Pelan-pelan saja makannya jangan buru-buru," ucap L sambil membersihkan makanan Devan yang tercecer. Ia juga bahkan membersihkan mulut Devan yang terlihat belepotan.


Sean yang memperhatikan mereka dari kejauhan terlihat kagum dengan cara L memperlakukan putranya.


Selesai makan L langsung mengajak Devan untuk belajar. Melihat perkembangan Devan yang begitu pesat membuat L bangga dengannya.


"Terimakasih ya Miss, Alhamdulillah sekarang Devan sudah bisa baca, dia juga sudah bisa dikte," ucap Silvia


"Alhamdulillah, tapi memang sebenarnya Devan anak yang cerdas kok bu, hanya saja kita harus sabar dan bisa memahami mood belajarnya," jawab L


"Iya Miss, tetap saja kamu yang sudah berhasil menggali potensinya yang selama ini masih terpendam, semoga Miss selalu sehat ya, biar bisa selalu dampingi Devan belajar,"


Saat melihat L keluar dari rumahnya, Sean segera mengejar wanita itu dan berniat menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang, namun sayangnya ia kalah cepat dengan ojek online yang dipesan oleh Laila.


*********


Sementara itu Hera masih tak terima dengan tuduhan sebagai tersangka utama pembunuhan Haryo, ia masih bersikeras jika penyebab kematian suaminya adalah Laila.


"Suamiku, terkena serangan jantung setelah menerima foto-foto yang dikirimkan oleh Laila, jadi bukan aku yang menyebabkan dia meninggal tapi L!" ucap Hera berkilah didepan penyidik


Karena desakan dari pengacara Hera dan juga barang bukti yang diberikan Hera maka polisi pun memanggil L untuk dimintai keterangannya sebagai saksi.


Wanita itu terlihat mendatangi kantor polisi seorang diri. Melihat L mendatangi kantor polisi membuat Guntur langsung menyambangi wanita itu.


Ia bertanya kenapa L datang ke kantor polisi hari itu.


"Apa kau ingin menjenguk Krisna?" tanya Guntur


"Tidak, aku kesini karena surat panggilan dari polisi," jawab L memperlihatkan surat panggilan dari kepolisian


"Kalau begitu kamu harus didampingi pengacara, kamu tidak boleh sendirian," ucap Guntur


"Tapi aku tidak punya pengacara dan lagi aku belum ada persiapan karena aku kira aku hanya diminta menjadi saksi saja," jawab L


"Seorang saksi bisa saja menjadi tersangka, makanya kamu jangan sampai salah bicara karena bisa saja itu bisa menjebak mu sendiri. Untuk itulah kau perlu di dampingi oleh seorang pengacara,"


"Lalu bagaimana jika aku tak punya pengacara?" L terlihat bimbang setelah mendengar penuturan Guntur

__ADS_1


"Jangan khawatir aku punya seorang teman pengacara, aku harap dia bisa membantumu,"


Guntur kemudian menghubungi sahabatnya. Guntur kemudian menyuruh L untuk menunggu di ruangannya sambil menunggu kedatangan sahabatnya. Tidak lama seorang lelaki datang menemui mereka.


"Alhamdulillah akhirnya datang juga kamu Hans," sapa Guntur menyambut kedatangan sahabatnya


Ia kemudian memperkenalkan Hans kepada L dan memintanya untuk mendampingi L selama menjadi saksi.


Hans kemudian mendampingi L saat dimintai keterangan oleh Tim penyidik.


Saat tim penyidik mulai memojokkan L karena bukti-bukti dari Hera, Hans segera menunjukkan bukti chat pribadi antara L dengan Haryo.


"Sekarang sudah jelas kan, kalau L mengirim foto-foto tersebut atas permintaan korban sendiri, aku yakin ada penyebab lain yang membuat korban terkena serangan jantung," tutur Hans


Berkat bantuan Hans akhirnya L berhasil lepas dari tuntutan Hera yang berusaha menjebloskannya ke dalam bui.


"Terimakasih Pak Hans sudah membantuku hari ini,"


"Harusnya kamu berterima kasih sama Guntur, karena dia yang sudah membantu mengurus semuanya," jawab Hans


L kemudian menemui Guntur di ruangannya.


"Thanks ya Gun atas bantunmu kali ini," ucap L


"Sama-sama L, tapi maaf aku belum bisa meyakinkan orang tuaku untuk merestui hubungan kita,"


"Tidak apa Gun, kalau memang kita jodoh insya Allah kita pasti ketemu kok," sahut L


******


Siang itu Hera begitu terkejut saat melihat kedatangan mantan ibu mertuanya.


Ia tak menduga jika wanita itu akan datang mengunjunginya.


"Apa kabar ibu?" sapa Hera segera mencium punggung tangan wanita itu


"Gak usah basa-basi, aku datang kesini hanya untuk menyampaikan penawaran khusus untukmu,"


"Penawaran apa itu Bu?" tanya Hera


Wanita itu kemudian menjelaskan maksud kedatangannya. Ia segera menyampaikan penawarannya kepada Hera.


Hera begitu terkejut saat membaca dokumen perdamaian yang disodorkan oleh orang tua Haryo.


"Jadi Ibu akan membebaskan saya jika saya mau menandatangani surat pernyataan jika saya tidak akan bersedia untuk tidak menerima sepeserpun harta peninggalan suami saya termasuk rumah yang saya tempati sekarang?" tanya Hera membelakakan matanya


Wanita itu mengangguk, "Benar, saya akan memaafkan mu dan menarik semua tuntutan kepada mu jika kau mau menandatangani surat pernyataan itu,"


"Kau Benar-benar tega ibu bagaimana mungkin kau tidak memberikan sedikitpun harta peninggalan Mas Haryo untukku, lalu bagaimana dengan Ifan, apa kau juga tidak akan memberikan hak-haknya?" tanya Hera


"Tentu saja Ifan akan tetap mendapatkan warisannya, dengan catatan ia harus tinggal bersamaku,"


"Ibu, bagaimana kau setega itu padaku, kau sudah mengambil semua harta bendaku kini kau juga akan mengambil anakku!" jerit Hera membuat semua orang menoleh kearahnya

__ADS_1


__ADS_2