
"Kalau ada waktu datanglah ke pernikahan kami," ucap Krisna kemudian memberikan kartu undangan pernikahannya kepada L
"Jangan lupa datang ya, lumayan kan buat perbaikan gizi, btw jangan lupa bawa tisu yang banyak atau obat sesak nafas karena aku takut kamu akan menangis dan pingsan saat melihat kami di pelaminan ," bisik Hera terkekeh meledek Laila
"Tentu saja aku akan datang, jangan khawatir aku gak bakal nangis apalagi pingsan di sana," sahut Laila dengan lantang
"Ok, aku tunggu kedatangannya," jawab Hera kemudian menggandeng lengan Krisna dan mengajaknya pergi
"Papah!!!"
Tiba-tiba terdengar suara Bagas keluar dari dalam rumah membuat Krisna langsung berhenti dan menoleh kearahnya.
Lelaki itu tersenyum sambil membuka tangannya, ketika melihat anak itu berlari kearahnya.
Bukannya memeluk Krisna, siapa sangka jika Bagas justru melewati lelaki itu dan memeluk Andru yang ada dibelakangnya.
Seketika L langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkah Bagas tersebut.
Berbeda dengan L yang menertawakannya, Krisna justru kesal saat mendengar anak itu memanggil Andru dengan panggilan Papah.
Ia segera menghampiri anak itu.
"Papah kamu di sini nak, bukan dia!" ucap Krisna meraih lengan anak itu.
"Bukan, papah aku sekarang dia bukan kamu," jawab Bagas menepis lengan Krisna dan kembali memeluk Andru
Krisna yang kesal karena merasa di lupakan oleh putranya kemudian menyuruh anak itu untuk turun dari gendongan Andru.
"Ayo turun Bagas, sini biar papah saja yang gendong!" bujuknya dengan nada tinggi
Bukannya turun Bagas malah merebahkan kepalanya di pundak Andru seolah enggan lepas dari pemuda itu.
Saat Krisna hendak menarik lengan anak itu, Hera langsung menahannya.
"Sudahlah lupakan saja dia, bukankah lebih baik dia seperti itu jadi kau tidak perlu repot-repot memberikan nafkah buat mereka lagi," ucap Hera
Krisna kemudian melepaskan tangan putra bungsunya dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Namun entah kenapa ada rasa kesal bercampur sedih saat melihat anak itu mengacuhkannya.
"Sayang turun dong, kasianbkan Omnya berat gendong kamu!" seru L memintanya untuk turun
"Gak mau, aku masih kangen sama papah," jawab anak itu terus bergelayut manja dalam gendongan pemuda itu.
"Gak papa L, lagian Bagas gak berat kok," jawab Andru kemudian mengusap lembut kepala anak itu
"Yaudah kalau gitu aku titip dia dulu ya, aku mau beli makan dulu sebentar,"
"Kenapa gak bareng aja?" jawab Andru
"Maksudnya??" tanya L mengerutkan keningnya
"Kita sarapan bareng L, kebetulan aku juga belum makan," jawab Andru
"Kuylah kalau gitu,"
__ADS_1
"Btw Sifa gak diajak?" tanya Andru lagi
"Diajak lah, noh dia udah nongol!" tunjuk L saat melihat putrinya keluar menyusulnya
"Karena pasukan udah lengkap, nyoklah kita jalan!" seru Andru
"Yeay, asyik makan sama papah!" seru Bagas begitu bahagia
Krisna terus menatap mereka dari kejauhan. Ada rasa cemburu saat melihat kebahagiaan L dan kedua anaknya saat bersama dengan Andru.
"Jangan bilang kamu cemburu deh melihat kebersamaan mereka, ingat Kris pernikahan kita tinggal menghitung hari, jangan sampai pernikahan kita gagal karena lo CLBK (Cinta lama bikin Kesengsem)
sama L!" seru Hera dengan nada kesal
"Jangan suudzon, siapa bilang aku kesengsem sama L, aku hanya rindu dengan anak-anakku," jawab Krisna
"Alasan, awas aja sampai kau bohong!" ancam Hera dengan wajah juteknya
"Tidak akan sayang, lagian kenapa sih sensi Mulu bawaannya. Pasti lagi PMS ya?" goda Krisna
Melihat istrinya kesal tentu membuat pria itu tak bisa lama-lama lagi di tempat itu, ia kemudian segera melajukan mobilnya pulang ke rumah.
*********
Sementara itu L dan kedua buah hatinya terlihat begitu menikmati sarapannya di sebuah warung tenda.
"Apa lelaki tadi mantan kamu?" tanya Gandrung dengan hati-hati
"Iya, memangnya kenapa?" jawab L balik bertanya
L buru-buru menunjukkan sebuah kartu undangan pernikahan kepada pemuda itu.
"Oh jadi mereka mau nikah toh,"
"Sebenarnya sih mereka udah nikah siri, mungkin mereka ingin menggelar resepsi pernikahannya sekaligus meresmikan pernikahan mereka," jawab L
"Terus kamu gimana, datang atau gak?" tanya Gandrung lagi
"Harusnya sih aku datang, tapi lihat saja ntar, soalnya jauh juga resepsinya," jawab L
"Emangnya dimana?"
"Tanah kelahiran Hera dan Krisna di Semarang," jawab L
"Meskipun jauh kamu harus datang L,"
"Iya, makannya ini aku lagi mau nabung buat jalan ke sana,"
"Soal itu jangan khawatir aku bisa bantu kok," ucap Andru
"Gak usah Ndru, aku gak mau repotin kamu lagian kamu kan masih kuliah, lebih baik simpan saja uangnya buat traktir cewek kamu," jawab L
"Jangan salah L meskipun aku kuliah, uangku banyak loh, gini-gini aku masih keturunan Sultan makanya lo gak usah sungkan, kalau butuh apa-apa bilang aja ke gue,"
Seketika L langsung terkekeh mendengar celotehan Gandrung.
__ADS_1
"Kok malah ketawa sih," ucap Andru menatap sinis kearah Laila
"Emangnya ada anak sultan yang mau tinggal di kosan sempit kaya gitu, jangan halu deh!" sahut L
"Ya kan gue orangnya membumi, kaya di novel-novel gitu L, gue sengaja nyamar jadi rakyat jelata biar cewek-cewek gak pada ngejar-ngejar gue. Jadi rakyat jelata aja di kejar-kejar gimana kalau mereka tahu gue anak sultan ya?"
"Paling lo diculik, kalau gak di mutilasi," jawab L semakin terkekeh menertawakannya
"Jahara banget lo L, baru kali ini ada cewek yang gak percaya sama omongan gue,"
"Ya iyalah, percaya sama lo mah musrik, wkwkwk!"
"Iya juga sih, pinter lo L," jawab Andru
"Udah dari dulu tuh!"
"Dih sombong!" cibir Andru membuat L kembali tertawa
"Kayaknya lagi ada yang seneng, sampai gak sadar anaknya ilang,"
Seketika L langsung menoleh kesamping, wajahnya mendadak pucat saat melihat kursi Bagas kosong.
"Bagas!"
Saat ia hendak berlari Guntur langsung menarik lengannya.
"Jangan panik dia ada bersama ku," ucap lelaki itu menunjukkan Bagas yang sedang menggandeng lengannya sambil menjilati es krim di tangannya.
"Ya ampun kamu bikin panik aja sih, aku kira dia beneran ilang," ucap L dengan suara parau
"Makanya jangan mengabaikan putramu dalam keadaan apapun, termasuk saat bersama kekasih mu," ucap Guntur menoleh kearah Gandrung
"Ah iya, aku yang ceroboh. Tapi ngomong-ngomong Andru bukan pacarku," ucap L salah tingkah
"Ehemm!!" seru Andru membuat L langsung menoleh kearahnya
"Syukurlah kalau bukan pacarmu," jawab Guntur lega
"Kenalin Om, papahnya Bagas," ucap Andru mengulurkan tangannya
"Papahnya Bagas??" ucap Guntur terkejut mendengarnya
Tak mau Guntur salah paham dengan ucapan Andru L segera menjelaskan semuanya.
"Oh begitu rupanya, aku kira dia benar-benar sudah jadi papahnya Bagas,"
"Bukan namanya juga anak-anak biasalah," ucap L mencoba meluruskan
"Guntur," lelaki itu segera menyambut uluran tangan Andru
Entah kenapa kedua lelaki itu begitu lama saat saling berjabat tangan. Keduanya saling beradu pandang satu sama lain seperti sedang berbicara dengan bahasa kalbu mereka.
Guntur segera melepaskan tangannya dan menghampiri L, "Apa kau diundang juga ke pernikahan Krisna?"
"Baru saja ia datang ke rumah untuk memberikan undangan itu padaku," jawab L
__ADS_1
"Kalau begitu datanglah bersamaku," ucap Guntur membuat L langsung terkesiap mendengarnya.