
"Oh ya tujuan saya datang ke sini adalah untuk mengembalikan rumah kita padamu. Aku tahu rumah itu adalah hasil jerih payah mu, jadi tidak seharusnya aku mengambilnya darimu. Maafkan aku jika dulu sudah berbuat salah padamu, sekarang aku menyesal dan aku benar-benar minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu dulu. Sekarang aku baru sadar jika kau adalah istri terbaik yang pernah Tuhan berikan padaku, hanya saja aku tidak menyadarinya hingga menyia-nyiakan dirimu dan lebih memilih seseorang yang justru menghancurkan hidup ku. Aku tahu mungkin kesalahan ku tak bisa dimaafkan, jadi aku juga mengerti kalau kau tidak bisa memaafkan aku. Meskipun begitu aku ingin tetap menjalin hubungan yang baik demi anak-anak kita," ucap Krisna kemudian bersimpuh di kaki L
"Tidak perlu minta maaf, karena sebelum kau memintanya aku sudah memaafkan mu,"
"Kalau begitu maukah mau kembali padaku, aku akan berubah demi dirimu dan aku janji akan menyayangi mu seperti dulu lagi. Aku yakin kau juga masih mencinta ku, jadi marilah kita mulai lembaran baru lagi demi kedua buah hati kita," tanya Krisna
"Maaf aku tak bisa, kau tahukan kalau gelas yang sudah pecah tidak akan bisa kembali utuh lagi. Semuanya sudah berakhir dan mungkin itu yang terbaik untuk kita," jawab L
"Pikirkan lah lagi sebelum memutuskan, aku tunggu jawabanmu hari Minggu,"
***********
Sean menghampiri Laila yang termenung di samping kolam renang. Lelaki itu duduk di sampingnya, namun L masih belum menyadarinya.
Wanita itu masih menerawang memikirkan penawaran Krisna tempo hari. Ia sampai tak bisa tidur karena terus memikirkan ucapan mantan suaminya itu. Bagaimanapun juga kadang L merasa bingung karena ia pikir tidak ada lelaki lain selain Krisna yang mau memperistrinya. Apalagi mengingat statusnya kini seorang janda beranak dua. Tampaknya penolakan keluarga Guntur membuatnya menjadi minder dan tak percaya diri untuk memulai hubungan lagi dengan seorang laki-laki.
"Apa kau sedang ada masalah?"
Pertanyaan Sean seketika membuyarkan lamunan Laila, wanita itu langsung menoleh kearahnya.
"Apa aku terlihat seperti sedang ada masalah?" jawab L balik bertanya
"Sepertinya sih begitu, tapi terserah kau saja kalau kamu tak mau menceritakannya padaku,"
"Ternyata kau bijak juga ya," ucap L tersenyum simpul mendengar jawaban Sean
"Tersenyum lebih baik daripada merenung di depan kolam renang bukan,"
Sean kemudian segera membuka kaos yang dipakainya dan segera melompat ke kolam renang. Ia kemudian segera bergabung dengan Devan dan Bagas yang asyik bermain pistol air di kolam renang.
Sementara itu Sifa tampak berlatih renang sendirian.
"Mamah!" seru Sifa melambaikan tangannya kearah L
Gadis kecil itu meminta L untuk mengajarinya berenang. Meskipun L tak bisa berenang melihat putrinya yang ingin belajar renang membuatnya memberanikan diri untuk turun ke kolam dan membantu putrinya itu belajar meluncur.
Melihat kedekatan Sifa dengan L membuat Sean merasa iri, apalagi ia selama ini tak begitu dekat dengan putra semata wayangnya.
"Papah, ayo kita lomba renang!" seru Devan
__ADS_1
Sean langsung mengiyakan permintaan putranya. Melihat ayahnya setuju untuk berlomba dengannya, Devan meminta Laila untuk menjadi wasit untuk memimpin perlombaan mereka.
"Ok semuanya Ready, Steady, Go!!"
Ketiganya langsung meluncur menuju garis finish yang di jaga oleh Sifa.
L terus menyemangati Bagas yang berada di urutan paling akhir, namun pada saat Sean akan mencapai garis finish tiba-tiba bagas menghilang membuat Laila panik.
Ia berteriak memanggil namanya, melihat L panik Sean langsung berhenti dan menyelam untuk mencari Bagas.
Ketika semua orang panik mencarinya Bagas kembali meluncur menuju garis finish.
"Yeay aku menang!" serunya membuat semua orang langsung menoleh kearahnya
"Astaga, aku kira dia beneran tenggelam ternyata dia menghilang supaya bisa menang, benar-benar licik!" gerutu Sean
"Dia bukan licik pah, tapi pintar!" sahut Devan segera menghampiri Bagas
"Memang benar antara licik dan pintar itu bedanya dikit!"
"Sudahlah Sean kamu ngalah aja, namanya juga anak-anak," ucap Laila membelanya
Setelah semuanya selesai berenang Silvia lalu mengajak mereka untuk makan siang.
Silvia sengaja menyajikan makan siang steak daging sapi kesukaan Devan.
Saat L sedang memotong-motong daging steak Bagas dan Sifa, Sean justru sibuk memotong daging steak miliknya dan segera menukarnya dengan piring L.
"Makanlah," ucapnya lirih
"Terima kasih Sean," ucap L segera mengambil garpu di sampingnya
Melihat Sean yang begitu perhatian dengan Laila, Silvia merasa jika putranya itu menaruh hati pada L.
Meskipun ia tidak suka jika L dekat dengan Sean namun wanita itu tak mau merusak kebahagiaan Devan hari itu.
Sepulang liburan, Krisna sudah menunggunya di depan kosannya.
"Jadi bagaimana jawaban mu?" tanya Krisna tanpa basa-basi
__ADS_1
L kemudian menyuruh kedua anaknya untuk masuk, dan mempersilakan Krisna untuk duduk di beranda rumahnya.
"Seperti sebelumnya jawaban ku kali ini tetap tidak," jawab L dengan tegas
"Apa ini karena pria yang baru saja mengantarmu?" tanya Krisna
L menggelengkan kepalanya, "Tak ada hubungannya jawabanku dengan Sean," jawab Laila
"Kalau bukan dia pasti Guntur, apa kau masih mencintainya dan berharap padanya??. Ingat L kamu dan Guntur gak bisa bersatu, keluarga Guntur pasti tidak akan mengizinkan putra mereka menikahi seorang janda beranak dua, ayolah L sadar, sadar akan statusmu!" seru Krisna
"Tanpa kau menasihati ku, aku pun sudah sadar diri, jangan khawatir aku pun tak berharap akan menjadi istri Guntur," jawab L kemudian meninggalkan Krisna dan masuk kedalam rumahnya
"Aku tahu kau mencintainya L, kenapa kau begitu keras kepala!"
Saat Krisna hendak pergi, L kemudian mengejarnya. Lelaki itu terlihat senang dan berharap jika L akan berubah pikiran.
"Aku tidak mau menerima rumah ini jika harus kembali lagi bersama mu. Harta bisa di cari, aku yakin suatu hari aku juga bisa memiliki rumah lagi meskipun butuh waktu lama. Jadi aku tak keberatan memberikan rumah ini padamu, semoga kau bisa menemukan pasangan hidup terbaik seperti yang kau inginkan," ucap L mengembalikan kunci rumahnya kepada Krisna
Guntur yang tak sengaja melihat mereka berdua, kemudian menghampiri Laila saat Krisna sudah meninggalkan tempat itu.
"Sepertinya kita perlu bicara," ucap Guntur
"Baiklah, kita mau bicara dimana?" jawab Laila
"Disini saja," jawab Guntur kemudian duduk di beranda rumah
Lelaki itu menatap L sejenak sebelum mengucapkan apa yang ingin ia katakan.
"Sebelumnya maafkan aku karena tak bisa menyakinkan kedua orang tuaku untuk menerima mu sebagai calon menantunya. Aku sudah berpikir masak-masak untuk menikahimu meski tanpa restu mereka, tapi seorang atasanku yang sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri malah melarang ku melakukan itu, ia mengatakan hal yang sama dengan yang kau katakan waktu itu," sejenak Guntur terdiam dan tak melanjutkan kata-katanya
Pria itu terlihat seperti menahan beban yang sangat berat hingga berkali-kali menghela nafasnya.
"Iya aku mengerti, lagipula aku juga tidak mau terlalu memaksakan diri agar mereka mau menerima diriku menjadi pendamping hidup mu. Jika ini memang yang terbaik untuk kita aku tak apa, bukankah mencintai itu tak harus memiliki. Melihat orang yang kita cintai hidup bahagia sudah cukup membuatku bahagia, jadi jangan merasa bersalah padaku. Mari kita terima takdir ini dengan ikhlas karena mungkin ini yang berbaik buat kita," jawab L
Guntur mengangguk dan kemudian menangis saat melihat ketegaran L.
"Selama ini aku belum mengucapkan kata putus padamu karena aku masih berharap jika kita berjodoh. Tapi sekarang aku sadar jika bahwa keputusan ku menunda mengakhiri hubungan kita hanya akan menyakiti mu dan membuat mu terus berharap padaku. Untuk itulah sekarang aku ingin mengatakan mengakhiri hubungan kita mulai detik ini. Aku harap setelah ini kau bisa menemukan pria yang baik yang menerimamu apa adanya dan juga membahagiakan kamu dan anak-anak mu, sekali lagi aku minta maaf L,"
"Iya Gun, doa yang sama juga aku panjatkan untukmu, semoga kau juga akan segera dipertemukan dengan wanita yang bisa diterima oleh keluargamu," jawab L membuat Guntur tak kuat lagi menahan emosinya dan langsung memeluk erat wanita itu.
__ADS_1