
Seorang wanita tua berjalan memasuki ruang kerja L. wanita itu begitu terkejut saat melihatnya.
"Apa kau karyawan baru?" tanyanya sambil menatap wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki
"Benar, perkenalkan saya Laila, kebetulan Pak Sean memberikan posisi motivator kepadaku," sahut L
"Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi wajahmu sangat familiar, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tentu saja ini pertama kalinya kita bertemu ibu, apa ada yang bisa saya bantu?"
Wanita itu kemudian mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan L.
"Aku baru ingat, aku pernah melihatmu di perlombaan mengajar, apa itu benar?"
"Sepertinya begitu, memang kemarin aku mengikuti lomba itu,"
"Wah senang sekali aku bisa bertemu denganmu disini, perkenalkan saya Silvia Harun, ibu dari Sean," ucap wanita itu mengulurkan tangannya
L segera menyambut uluran tangan wanita itu dan memperkenalkan dirinya.
"Kalau kau tidak keberatan aku ingin mengajakmu berbicara empat mata,"
"Tentu saja Bu," sahut Laila
Wanita itu kemudian mengajak Laila ke ruang kerja Sean.
"Sebenarnya aku sedang mencari guru les privat yang pas untuk cucu saya. Kebetulan dia seorang anak berkebutuhan khusus jadi memang agak sulit untuk mendapatkan guru les yang sesuai dengan keinginannya. Sudah berkali-kali kami ganti guru les tapi hasilnya sama saja, ia selalu bosan dan tidak mau belajar dengannya. Maklum saja anak seperti itu memang mudah bosan apalagi jika guru tersebut tidak memiliki metode pembelajaran yang menyenangkan. Setelah saya melihat gayamu dalam mengajar pada lomba kemarin aku berharap kamu mau menjadi guru les privat cucu saya, aku yakin mungkin dengan gaya belajar yang menyenangkan dia akan mau belajar dan bisa membantu prestasi belajarnya di sekolah, apa kau bersedia?" tanya wanita itu penuh harap
"Tapi saya tidak memiliki kemampuan khusus untuk mengajar anak berkebutuhan khusus, saya hanya guru biasa jadi aku takut aku tak bisa mengajarnya dengan maksimal," sahut Laila
"Aku tahu, tapi apa kau tidak mau mencobanya dulu, kau boleh datang sore ini ke rumah ku untuk melihat cucuku dan berkenalan dengannya, kau juga boleh mengajarinya sesuatu, tidak harus pelajaran. Jika memang ia tertarik dengan gaya mengajar mu maka kau bisa melanjutkan untuk menjadi guru lesnya, tapi jika dia tidak merespon maka aku tidak bisa memaksa mu untuk menjadi guru les privatnya. Bagaimana?" tanya wanita itu
"Baiklah kalau begitu aku akan mencobanya," jawab Laila
Sore itu sepulang mengajar Laila langsung menuju kediaman keluarga Harun.
__ADS_1
Silvia menyambut hangat kedatangan wanita itu dan langsung mengantarnya ke ruang belajar cucunya.
"Namanya Devan, kebetulan ia mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau orang awam menyebutnya hiperaktif, sebelumnya ia Adalah anak yang normal namun setelah perceraian ayah dan ibunya membuat ia berubah menjadi seperti ini," terang Silvia
"Apa yang dia sukai Bu?" tanya L
"Dia sangat suka bermain Lego dan puzzle,"
"Ok, baiklah kalau begitu saya akan mencoba berkenalan dulu dengannya,"
L kemudian masuk ke ruangan itu dan mulai memperkenalkan dirinya. Ia kemudian mengajak anak itu ngobrol sambil bermain lego kesukaannya.
Tak sulit baginya untuk berinteraksi dengan anak usia tujuh tahun itu
Setelah anak itu merasa nyaman dengannya perlahan ia mencoba mengajarinya membaca dan menulis.
Tidak lama Hera yang memang menjadi guru les privat Devan datang ke rumah itu untuk mengajarinya membaca seperti biasanya.
Namun melihat L diruang belajar Devan membuat wanita itu meradang. Ia tidak terima dengan perlakuan keluarga Harun Yang dianggapnya telah meremehkannya.
"Sial, jangan pikir karena mereka kaya bisa mempermainkan aku seperti ini, aku tidak terima dengan perlakuan ini dan akan menuntut melalui jalur hukum," ucap Hera meradang
Namun saat ia akan melangkah pergi, Silvia langsung menghentikannya.
"Hera, sejak kapan kau datang??" tanya wanita itu menghampirinya
"Sejak tadi," jawab Hera ketus
"Aku tahu, kau pasti kesal karena melihat guru les baru Devan bukan?"
"Kenapa Tante tega melakukan ini padaku, apa salahku sehingga Tante mengganti guru les Devan tanpa memberitahukan aku lebih dulu!" terang Hera meluapkan amarahnya kepada wanita itu
"Tenang sayang, mari kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin," Silvia kemudian mengajak wanita itu ke ruang tamu untuk membicarakan alasan ia meminta L untuk menjadi guru les Devan.
Ia kemudian menceritakan jika merasa tidak nyaman belajar dengannya hingga membuat nilai-nilai pelajaran di sekolahnya semakin turun.
__ADS_1
"Bagi anak seperti dirinya kenyamanan adalah yang paling utama, bagaimana ia akan bisa menyerap ilmu yang kau sampaikan jika ia sendiri tak nyaman dan selalu mengamuk saat belajar denganmu, kau sendiri sudah tahu bagaimana perangainya. Aku meminta maaf karena belum sempat memberitahukan mu tentang keluhan Devan, dan juga untuk guru lesnya yang baru. Sebenarnya hari ini L hanya melakukan observasi saja, untuk mengetahui bagaimana karakter Devan dan belum resmi menjadi guru lesnya. Aku juga berterima kasih karena kau sudah mau menjadi guru lesnya selama satu bulan ini, aku harap hadiah dari saya bisa mengobati kekecewaan mu," Silvia kemudian meninggalkan Hera dan kembali lagi dengan membawa sebuah kotak hadiah.
"Apa ini tante?" tanya Hera
"Buka saja, itu adalah hadiah kecil karena sudah sabar menghadapi Devan, untuk gaji kamu bulan ini aku sudah mentransfernya meskipun kau tidak mengajar lagi," imbuh Silvia
Hera kemudian membuka Kotak hadiah itu. Seketika amarahnya langsung mereda saat melihat tas Ch*nel di hadapannya. Bagaimana tidak harga tas itu hampir sama dengan harga sebuah sepeda motor baru.
"Terimakasih Tante, tahu aja kalau aku suka banget sama merk ini,"
Saat masalah sudah selesai Hera pun segera pamit pulang.
Tidak masalah aku tidak mengajar anak autis itu lagi, yang penting aku sudah dapat tas mahal dan juga gajiku aman bulan ini. lagian merepotkan juga jika setiap hari harus makan hati karena emosi jiwa menghadapi anak autis sepertinya.
***********
Hari itu L tampak masih bermalas-malasan di ranjangnya. Tentu saja, ia akan memanfaatkan hari liburnya dengan bangun siang dan juga bermalas-malasan di kasur dengan dua buah hatinya.
"Mamah bangun, aku lapar!"
Seketika wanita itu langsung bangun saat Bagas menggoyangkan tubuhnya karena lapar.
"Ok sayang, tunggu ya, ibu ke depan dulu nyari sarapan," jawab L kemudian segera menyambar cardigannya dan segera meninggalkan kamarnya.
Ia begitu terkejut saat melihat Hera dan Krisna berdiri di depan kosannya.
"Wah kasian sekali, kau harus tinggal di kosan kecil seperti ini, pasti sangat pengap ya tinggal di rumah kecil kaya gini," ucap Hera mencibirnya
"Kata siapa, aku nyaman-nyaman aja tuh," sahut L
"Btw ngapain kalian datang ke sini?" tanya L dengan wajah sinis
Krisna segera memberikan kartu undangan pernikahan kepadanya.
"Jangan lupa datang ya, lumayan kan buat perbaikan gizi, btw jangan lupa bawa tisu yang banyak atau obat sesak nafas karena aku takut kamu akan menangis dan pingsan saat melihat kami di pelaminan ," bisik Hera terkekeh meledek Laila
__ADS_1
"Tentu saja aku akan datang!" sahut Laila dengan lantang