
Pagi itu Laila menyempatkan diri untuk menjenguk Devan di rumah sakit.
"Miss!" seru Devan saat melihat Laila
Anak itu langsung memeluk erat Laila seakan tak mau berpisah dengan wanita itu.
"Miss jangan pergi lagi, jangan tinggalin Dev lagi ya...." tutur anak itu sambil menangis
"Gak kok Miss gak pernah tinggalin Dev, hanya saja Miss gak bisa ke rumah Dev lagi. Tapi kita bisa kok tetap ketemu meskipun gak dirumah kamu," jawab L
"Pasti karena nenek, Miss jangan dengerin nenek ya, biar nanti aku bilang kek papah biar Miss bisa ngajarin Dev lagi, Miss mau kan ngajar Dev lagi?"
"Iya sayang, sekarang yang penting Dev makan dulu ya, abis itu minum obat, biar bisa belajar sama Miss lagi, ok!"
Devan langsung mengangguk setuju dan duduk di bibir ranjangnya.
"Tapi tangan Dev sakit, jadi aku susah kalau makan," ucap Dev menyembunyikan tangannya
Laila kemudian meraih lengan anak itu dan memeriksanya.
"Tangan kamu kenapa sayang?" tanya Laila
Anak itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Laila.
"Yaudah kalau kamu gak mau jawab, sini biar Miss yang suapin," L segera mengambil sepiring nasi yang sudah disiapkan diatas meja.
Ia kemudian menyuapi Devan dengan telaten.
"Anak Miss pasti senang ya bisa disuapi sama Miss tiap hari," ucap Bagas
"Emangnya kenapa?"
"Aku gak pernah disuapin sama mamah aku, hanya bi Neni yang suka nyuapin aku ," jawab Devan berkaca-kaca
"Gak juga sayang, karena anak Miss sudah enam tahun jadi lebih sering makan sendiri kan udah gede jadi harus mandiri, kecuali kalau lagi sakit baru disuapin sama Miss,"
"Meskipun aku sakit juga tak pernah," sahut Devan
"Mungkin mamah kamu sibuk, jadi gak sempat nyuapin kamu," jawab Laila
"Entahlah," jawab Dev mengangkat bahunya
"Dev kan udah gede bukankah lebih baik makan sendiri, kecuali seperti sekarang baru minta di suapi, Ok!"
__ADS_1
Dev langsung mengangguk, "Tapi aku mau di suapin sama Miss aja,"
"Iya, sayang," jawab L mengusap lembut kepala Dev
Sean kemudian menghampiri keduanya dan tersenyum melihat putranya terlihat ceria bersama Laila.
"Wah hebat sekali anak papah sudah makan sampai habis," puji Sean
"Terimakasih L, sudah datang," ucap Sean begitu senang melihat Dev kembali tertawa lagi
"Sama-sama Pak," ucap Laila
Sean kemudian meminta Laila untuk kembali mengajar Les Devan lagi. Ia tahu jika putranya itu sudah nyaman dengan L makanya ia begitu kesal saat tahu Laila tidak mengajar lagi.
Sean tidak mau membuat putranya kecewa untuk kedua kalinya hingga ia terus memohon saat L menolak tawarannya.
"Ayolah L, demi putraku. Kau tahu kan anak seperti dirinya sulit sekali menemukan guru yang sesuai dengan keinginannya, apalagi yang mau mengerti dirinya, hanya kamu yang bisa ngertiin Dev, jadi mau ya?" bujuk Sean
"Tapi ibumu kan gak mau aku mengajar Devan lagi, aku tidak mau jika nanti terjadi perselisihan diantara kalian hanya karena masalah ini," jawab L
"Dev itu putraku, jadi yang aku juga yang berhak menentukan siapa yang akan jadi guru lesnya ataupun memberhentikannya," tegas Dev
Tidak lama Silvia datang dan menghampiri keduanya.
Silvia menatap lekat kearah Dev yang terus memegangi lengan Laila seolah tak mengijinkan wanita itu pergi meninggalkannya.
Bahkan ia terus menatap tajam kearahnya seakan mengisyaratkan penolakan atas kehadirannya.
"Aku minta maaf L jika sudah membuat mu sakit hati, maafkan jika aku terlalu termakan oleh ucapan orang lain. Sekarang aku baru sadar jika yang dibutuhkan Dev bukan hanya seorang guru Les saja, tapi juga seseorang yang mau mengerti dirinya, aku setuju dengan Sean yang ingin kau kembali menjadi guru Les Devan. Aku yakin jika bersama mu Dev tak perlu lagi meminum obat penenang itu," ujar Silvia
Dev tersenyum senang mendengar ucapan neneknya.
"Yeay, Miss akan jadi guru les aku lagi!" seru Devan begitu bahagia
L yang sebenarnya ingin menolak tawaran itu seketika berubah pikiran manakala melihat wajah polos Dev yang begitu berharap ia akan menjadi guru lesnya lagi.
"Baiklah kalau begitu aku bersedia menjadi Guru les Dev lagi," jawab Laila
"Alhamdulillah terima kasih L," ucap Silvia kemudian memeluk haru Laila
"Oh ya kalau kamu tidak keberatan aku ingin mengajak kalian liburan bersama akhir pekan ini. Bawalah putra-putrimu juga, anggap saja liburan ini sebagai ucapan permintaan maaf ku padamu,_" imbuh Silvia.
"Insya Allah Bu, kalau begitu saya pamit dulu, assalamualaikum,"
__ADS_1
La kemudian berpamitan kepada Dev sebelum bergegas pulang.
Sean kemudian mengantar L pulang.
Saat perjalanan pulang, Sean sengaja mengajak L kesebuah Showroom motor.
Ia kemudian mempersilakan L untuk memilih salah satu sepeda motor yang ia sukai. Namun Laila menolaknya.
"Ayolah L terima pemberian ku kali ini, anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena kamu Devan sudah bisa baca. Aku harap dengan sepeda motor ini akan mempermudah kamu saat bepergian. Mungkin hadiah ini tidak seberapa tapi aku tulus memberikannya tanpa ada niat terselubung di belakangnya,"
"Iya Pak aku tahu kamu pasti tulus, cuma aku tidak bisa menerima hadiah semewah ini," ucap Laila menolaknya
Sean akhirnya menyerah saat L terus menolaknya.
"Terimakasih Pak sudah mengantarkan saya pulang," ucap L
"Bisakah kau memanggil namaku saja agar tidak terdengar begitu formal. Lagipula kita ini seumuran jadi cukup panggil Sean saja jika kita di luar sekolah,"
"Baiklah Sean," jawab L kemudian segera turun dari mobil
Mendengar suara mobil Bagas segera keluar dan menghambur memeluk ibunya.
"Mamah!" serunya begitu senang saat melihat ibunya kembali
Laila kemudian melambaikan tangannya saat Sean memberikan isyarat pamit padanya.
Krisna yang hari itu menjenguk anak-anaknya menatap lekat kearah mobil yang mengantar L pulang.
Melihat Krisna berdiri di depan rumahnya L kemudian mempersilakan lelaki itu masuk kedalam rumahnya.
"Masuklah," ajak L mempersilakan mantan suaminya masuk
"Sepertinya kau lebih cocok dengan pria yang barusan mengantar mu pulang daripada dengan Guntur," ucap Krisna membuka pembicaraan
"Dia itu bos ku, bukan pacarku," jawab L kemudian membawakan secangkir kopi untuknya
"Jika seorang atasan mau mengantarkan pulang bawahannya berarti dia ada hati denganmu neng,"
"Tidak juga, lagian mana ada orang kaya yang mau menikahkan putranya dengan seorang janda beranak dua Seperti ku," jawab L terlihat acuh
"Kau pasti berpikiran seperti itu karena orang tua Guntur menolak mu bukan, tapi tidak semua orang tua akan berpikiran sempit seperti itu. Positif thinking saja jika kau akan mendapatkan pasangan terbaik suatu hari nanti,"
"Aamiin," jawab L singkat
__ADS_1
"Oh ya tujuan saya datang ke sini adalah untuk mengembalikan rumah kita padamu. Aku tahu rumah itu adalah hasil jerih payah mu, jadi tidak seharusnya aku mengambilnya darimu. Maafkan aku jika dulu sudah berbuat salah padamu, sekarang aku menyesal dan aku benar-benar minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu dulu. Sekarang aku baru sadar jika kau adalah istri terbaik yang pernah Tuhan berikan padaku, hanya saja aku tidak menyadarinya hingga menyia-nyiakan dirimu dan lebih memilih seseorang yang justru menghancurkan hidup ku. Aku tahu mungkin kesalahan ku tak bisa dimaafkan, jadi aku juga mengerti kalau kau tidak bisa memaafkan aku. Meskipun begitu aku ingin tetap menjalin hubungan yang baik demi anak-anak kita," ucap Krisna kemudian bersimpuh di kaki L