
"Andru??"
Mata cantik Nayla membelalak saat melihat wajah pria yang pernah ia tinggalkan dua tahun yang lalu.
"Apa benar ini kamu Ndu?" imbuhnya kemudian mengusap wajah Andru, namun pemuda itu langsung menepisnya
"Singkirkan tanganmu!" ucap Andru menepis telapak tangan Nayla
"Aku tahu kamu pasti marah padaku karena aku sudah meninggalkan mu waktu itu, tapi kamu tahu kan kalau aku pergi meninggalkan mu karena kamu yang menyuruhku," Nayla berusaha memberikan penjelasan kepada Andru
"Maaf aku tidak mau membahas sesuatu yang sudah berlalu, sebaiknya jika kamu datang hanya untuk menjelaskan hal itu maaf aku tidak punya waktu jadi sebaiknya kamu pergi," jawab Andru bergegas masuk ke ruangannya
"Tapi aku datang kesini bukan karena itu Ndru, aku kesini karena aku akan bekerja sebagai sekretaris mu mulai sekarang," jawab Nayla memasuki ruangan itu
"Jangan bermimpi,"
"Tapi aku sudah lolos seleksi dan hari ini adalah hari pertama ku bekerja di sini," Nayla segera mengeluarkan surat kontrak kerjanya kepada Andru
"Kalau begitu hari ini juga kamu di pecat!" seru Andru kemudian mendorong wanita itu pergi dari ruangannya
"Gak bisa gitu dong Ndru, kamu harus profesional. Kamu tidak boleh mencampur adukan antara masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Kamu tidak boleh memecat ku hanya karena kesalahan ku dimasa lalu!" seru Nayla kemudian menggedor-gedor pintu ruangan Andru
Melihat Nayla marah-marah di depan ruangan Andru membuat Lexi langsung menghampirinya.
"Sudahlah Nay, kamu harus ngertiin dong perasaan Andru," ucap pemuda itu berusaha mengajak Nayla pergi dari sana
"Oi, kenapa gue yang harus ngertiin dia. Lagipula aku meninggalkannya bukan karena kemauan ku, dia yang menyuruhku, kenapa sekarang dia yang marah padaku!" sahut Nayla
"Sudahlah Nay, kita bisa bicarakan masalah ini di luar," ucap Lexi.
"Gue gak mau Lex, dia gak bersikap semena-mena terhadap gue. Gue harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga," ujar Nayla
"Tapi tidak sekarang, tunggu sampai suasana hati Andru membaik. Dia pasti shock saat melihat mu jadi beri waktu padanya, nanti biar aku yang akan berbicara dengan Andru," jawab Lexi
"Baiklah kalau begitu, thanks atas bantuan mu Lex," Nayla kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu
Melihat Nayla sudah pergi membuat Lexi langsung masuk menemui Andru.
"Apa dia sudah pergi??"
"Sudah," jawab Lexi kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sofa
"Syukurlah,"
"Memangnya kenapa sih kalau dia kerja di sini Ndru, toh dia juga gak tahu kalau kamu yang akan menjadi bosnya,"
"Bukan gitu Lex, aku hanya mencoba menghindari sesuatu yang bisa saja mengancam hubungan ku dengan L. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati. Kau tahu kan aku ini seperti apa jika berhadapan dengan Nayla, aku tidak mau menyakiti L untuk itulah aku berusaha menjauh darinya," jawab Andru
"Aku paham apa yang kamu rasakan, kalau kamu begitu mencintai L, berarti kamu bisa dong menjaga hati kamu. Kalau kamu benar-benar mencintai L berarti kamu tak akan tergoda lagi dengan wanita lain jadi gak masalah dong jika Nay bekerja disini,"
"Tetap saja gak bisa, hati orang siapa yang tahu Lex. Aku bisa saja berkata seperti ini sekarang tapi aku tidak tau apa aku masih bisa berkata seperti itu lagi setelah setiap hari bertemu dengan Nayla dan selalu bersamanya setiap hari. Bahkan batu karang yang begitu kuat pun lama kelamaan akan pecah Kate tetesan air, jadi lebih baik aku tidak menantang maut, karena hatiku tak sekuat batu karang," jawab Andru
"Tua banget lo Ndru, apa lo sekarang jadi begini gara-gara L?" tanya Lexi menggelengkan kepalanya
"Mungkin, karena L sudah mengalihkan seluruh duniaku," jawab Andru
__ADS_1
"Gila lo, bucin parah!" seru Lexi kemudian meninggalkan ruangan itu
Malam harinya Nayla sengaja menemui Lexi di tempat tongkrongannya.
"Gimana Lex?" tanya Nayla
"Sepertinya Andru tetap pada pendiriannya, dia gak mau menerima kamu bekerja di sana," jawab Lexi
"Sudah ku duga, dia pasti masih marah padaku, karena ia mengira aku meninggalkannya,"
"Bukan itu masalahnya Nay,"
"Terus apa dong?" tanya Nayla lagi
"Kerena dia ingin menjaga perasaan istrinya," jawab Lexi
Seketika Nayla terbahak-bahak mendengar jawaban Lexi. Ia tak menyangka Andru jika Andru yang dulu sangat dingin bisa berubah jadi bucin.
"Yang benar saja, kalau dia mau setia sama istrinya lalu apa hubungannya dengan gue. Toh gue juga bukan pelakor yang akan merebut dia dari istrinya," jawab Nayla
"Itu juga yang sudah aku jelasin sama dia, tapi dia tetap tidak mau dia takut hatinya goyah jika selalu bertemu denganmu,"
"Apa itu berarti dia masih menyimpan rasa untukku?" tanya Nayla
"Mungkin, tapi entahlah lagipula aku bukan dukun yang bisa membaca perasaan orang lain," jawab Lexi
"Oklah kalau begitu, kalau kamu tidak keberatan apa aku boleh minta alamat rumah Andru?"
"Kamu mau apalagi?" tanya Lexi
"Jangan macem-macem sama L, dia bukan wanita biasa,"
"Memangnya siapa dia, apa dia wonder woman atau super women??"
"Pokoknya jangan ganggu L, kalau kamu tak mau bermasalah dengan Andru,"
"Semakin kamu melarang ku, semakin aku penasaran. Kau tahu kan bagaimana diriku," Nayla tersenyum sinis menatap wajahnya di depan cermin
"Daripada kamu menggoda Andru yang sudah punya istri mending sama gue aja Nay, dah ketahuan masih single, bahkan lebih ganteng dari Andru?" ujar Lexi menggoda Nayla
"Sorry Lex, lo bukan tipe gue," jawab Nayla kemudian meninggalkannya
"Anj*r, berani banget lo bilang kek gitu Nay, coba saja kita lihat apa benar aku bukan tipe kamu,"
***************
Pagi itu Laila bersiap untuk mengantar Bagas mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional di Citra Buana International School.
"Tidak ku sangka aku akan menginjakkan kakiku di sini lagi," ucap L tersenyum saat tiba di gerbang sekolah tempat dulu ia mengajar.
Cynthia kemudian mengajak L dan Bagas masuk kedalam, di sana Sean sudah berdiri menyambutnya.
"Selamat pagi L, apa kabarmu?" sapa lelaki itu tersenyum menyambutnya
"Pagi Sean, Alhamdulillah aku baik, maaf waktu itu aku tidak bisa menghibur mu karena aku juga memiliki masalah pribadi yang harus aku selesaikan,"
__ADS_1
"Iya L aku mengerti, btw selamat ya L, Bagas pasti genius karena menuruni sifat cerdas kamu,"
"Thanks Sean,"
Sean kemudian mengajak mereka menuju ruang perlombaan.
"Kalau kamu butuh ruangan untuk menunggu, kamu bisa pakai ruangan aku L," ucap Sean
"Gak usah Sean, biar aku menunggu disini saja,"
"Ya sudah kalau begitu, aku tinggal dulu ya,"
"Silakan,"
Laila terus memperhatikan gerak-gerik Bagas yang tampak tenang mengerjakan soal-soal ujiannya.
Semoga kamu bisa menang nak, dan kita tunjukkan kepada semua orang kalau kamu memang benar-benar genius,
Laila segera menyambut Bagas saat anak itu keluar dari ruangan lomba.
"Gimana sayang, apa kamu capek?" tanya L
Bagas menggelengkan kepalanya, "Aku hanya laper Mah,"
"Yaudah sambil nunggu pengumuman lomba kita cari makan dulu yuk," ajak L
Ia kemudian mengajak Bagas keluar untuk membeli makanan.
Setelah selesai makan keduanya kembali dan Miss Cynthia sudah menenteng piala kemenangan Bagas.
"Maaf ya Miss kelamaan makannya," ucap Laila
"Iya gak papa Bu Laila, sans aja," jawab Cynthia
"Kita juara berapa Miss?" tanya Bagas
"Juara satu dong,"
"Yeay!!" Bagas begitu senang hingga ia terus melompat-lompat kegirangan
Kabar kemenangan Bagas yang berhasil memenangkan perlombaan dan membuat semua wali murid langsung mendekati Laila.
"Rahasianya apa sih nih Bu Laila, agar anak kita bisa jadi genius seperti si Bagas?"
"Iya, kasih tahu dong dimana tempat Les Bagas?"
"Sebenarnya Bagas itu gak pernah ikut Les apapun, kebetulan aku mengajarinya sendiri," jawab L
"Ah yang benar saja, masa iya sih dia gak les?"
"Beneran Ibu, karena aku berpikir anak seusia Bagas itu masih perlu bermain dan tidak bisa dipaksakan untuk mengikuti berbagai les karena bisa mengganggu perkembangannya," jawab L
"Wah ternyata Ibu Laila ini bijaksana sekali,"
Melihat teman-temannya mulai mendekati L tentu saja hal itu membuat Hera merasa kesal.
__ADS_1