Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Harus tegas


__ADS_3

"Ka-mu suka padaku. Aku pernah dengar kamu curhat pada Abdul." Melirik Ali yang masih berdiri di sebelahnya.


"Oouuww... Itu dulu, sebelum aku tahu sifat aslimu. Kalau sekarang, kebalikannya!" Tegas Ali dengan ekspresi wajah kesal, keluar dari kamar itu, tentu saja dengan jantung yang berdebar-debar. Ali sungguh tak menyangka ia bisa bersikap seperti itu pada Ruby. Dari mana ia dapat keberanian seperti itu. Apa karena batas kesabarannya sudah habis?


Bahkan ia tak mau lagi memanggil Ruby sebagai kakak, karena memang Ruby istrinya.


Bruuggkk


Sepeninggalan sang suami. Ruby langsung ambruk di lantai kamarnya. Ia tiba tiba merasa lemas. Kakinya terasa layu. Ia syok sangat syok dengan apa yang menimpanya barusan. Tubuhnya terasa dingin dan keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Ali padanya. Ia tak menyangka Ali yang terlihat pendiam, ternyata sangat mengerikan kalau marah.


"Iihhh... Tidak.. Tidak...!" Ruby semakin merasa ketakutan. Disaat kelakuan Ali yang memamerkan miliknya melintas lagi di pikirannya. Organ vital sang suami tidaklah seperti tuduhannya. Walau hanya terlihat sekilas, karena ia tak berani melihatnya. Ternyata milik suaminya itu besar dan panjang. I


Ia bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang. Ia kini terlihat menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang bergetar, saking takutnya mengingat kejadian tadi.


"Ya Allah... Terima kasih sudah menyelamatkanku." Ujarnya dengan lirih. Merasa bersyukur Ali tak memper-kosanya.


"Ya Allah... Aku, aku tahu aku salah. Aku seperti ini karena dia. Kenapa dia mau menikah denganku? Harusnya dia kabur saat ayah memintanya jadi pengantin penggantinya Abang Agam." Ruby masih merasa belum puas menumpahkan kegundahan serta kekesalan di hatinya.


Sebenarnya ia butuh teman cerita. Butuh teman terpercaya yang mau menjaga rahasianya. Karena hanya keluarga inti yang tahu, kalau di hari pernikahan nya. Ia malah menikah dengan Ali, bukan Agam.


Ia butuh orang yang bisa dipercaya. Mendengar dan mencari solusi atas masalahnya. Ia sedang kalut dan bingung. Bersandiwara selama satu tahun membina biduk rumah tangga dengan Ali tentu itu sangat menguras emosi dan buang waktu. Tapi, jika Ia bercerai, sang ayah mengancam akan mengeluarkan nya dari kartu keluarga. Jika dilanjut selama satu tahun hidup bersama Ali. Ia bisa setres. Ia benci pria itu.


Huhuhu... huhuhu...


"Mak... Aku gak sanggup lagi Mak." Ujarnya masih terisak, menyandarkan kepalanya di badan ranjang. Sedangkan ia masih terduduk di lantai kamarnya. Untuk bangkit dan naik ke atas ranjang pun ia tak sanggup lagi. Kepalanya berputar tujuh keliling, badan juga terasa dingin. Telapak tangan banyak mengeluarkan keringat.


Ali sudah terlihat rapi duduk di atas tikar di ruang tamu. Tikar yang juga jadi alas tidurnya. Tadi setelah selesai pamer keperkasaan di hadapan sang istri. Ia langsung mandi, dan bersiap siap akan berangkat kuliah. Ia ada kuliah pagi ini. Tapi karena insiden di kamar Ruby. Ia jadi tak semangat untuk pergi ke kampus. Apalagi ia masih mendengar Isak tangis Ruby dari dalam kamar. Istrinya itu ternyata tidak jadi pergi bekerja. Masih menangis dan ketakutan, mengingat kelakuan Ali yang mengejutkan.


Mengetahui hal itu Ali jadi merasa bersalah sekali. Kenapa ia harus terpancing. Ia telah membuat istrinya menangis. Harusnya ia tahu diri. Memang benar ia cacat. Ali jadi merasa sangat bersalah. Ingin rasanya minta maaf dan bicara dari hati secara baik baik. Tapi, ia yakin Ruby tak akan mau.


Waktu terus berputar, sudah lima jam Ruby berada di dalam kamar. Ali semakin dibuat tak tenang. Apa Ruby di dalam sana baik baik saja? seperti nya tidak. sudah lima jam, wanita itu bahkan gak pernah ke toilet. Gak mungkin kan gak ada rasa ingin pipis? karena tadi Ruby baru selesai sarapan sebelum mereka berantem.

__ADS_1


"Ya Allah.. Semoga ia tak melakukan hal hal buruk " Aki membatin, duduk dengan tidak tenang di ruang tamu, yang satu dinding dengan kamar nya Ruby. "Aku harus melihatnya." Ia kembali bermonolog, bangkit dari duduknya dengan perasaan tak tenang.


Padahal hari ini, Ali ada janji dengan dosen pembimbing skripsinya. Tapi, gara gara khawatir pada Ruby, ia malah tak pergi ke kampus.


Tok


Tok


"Assalamualaikum...!" ujarnya dengan jantung yang berdegup kencang. Sungguh ia takut berhadapan dengan Ruby. Takut kembali bertengkar, karena Ali tak suka keributan.


Tak ada sahutan dari dalam.


"Assalamualaikum.... Aku, aku akan masuk. Kita perlu bicara." Ujarnya dengan nada tegas. Ia tak mau Ruby kembali menyepelekannya.


"Aku masuk ini!"


Krekk...


Ali menekan handle pintu sambil mengelus dadanya yang berdebar-debar. Jujur, baru kali ini Ali berurusan dengan wanita. Tentu hal ini membuatnya gugup. Ia sangat nervouse. Apalagi memang ia dari dulu suka pada Ruby.


Huufftt,..


Ali menghela napas panjang, sebelum pintu itu terbuka sempurna.


Hu...hu...hu...


"Mau apa kamu? keluar... !" teriak Ruby sambil menangis tersedu-sedu. Ia memeluk bantal dengan ekspresi wajah takutnya, terduduk di pojok tempat tidur yang mepet ke dinding.


Jujur Ruby sangat takut pada Ali saat ini. Ia takut Ali memper-kosanya.


Ali jadi merasa sangat bersalah. Seperti nya sikapnya tadi saat keras. Tapi, ia tak melakukan kekerasan. Ia hanya menindih istrinya itu, mencium bibirnya. Berusaha menunjukkan kalau ia lelaki normal. Hanya kaki dan tangannya saja yang sedikit bermasalah.

__ADS_1


"Keluar.....!" teriak Ruby lagi dengan berderai air mata.


Ali yang tak tahu harus berbuat apa, akhirnya keluar lagi dari kamar itu. Ia sedih juga melihat keadaan Ruby.


Huufft..


Ruby sepertinya belum siap untuk diajak bicara. Ia tak mau membuat suasana keruh. Tunggu dulu Ruby tenang, ia akan kembali mengajak Ruby bicara. Kalau ia ingin cerai. Ia akan lakukan. Ia juga akan membahas ini dengan Haji Zainuddin lagi.


Seperti nya bicara dengan Haji Zainuddin adalah ide yang bagus. Hubungan ini perlu dikaji ulang. Karena ini sangat toxic.


Tok


Tok


Tok


"Aku pergi dulu. Kamu keluarlah dan makan!"


Ujar Ali dari balik pintu kamarnya Ruby dengan suara lantang dan tegas. Ia tak boleh kelihatan lemah dihadapan Ruby. Agar wanita itu tak sepele dengannya. Ia sadar, ia disepelekan oleh Ruby, karena di awal pernikahan ia nampak lemah dan nurut.


Ia akan menjumpai sang dosen pembimbing, kemudian ke rumah mertuanya.


TBC


Mohon sarannya say. Ini novel cocoknya dibuat judul


A. Istri Durhaka


B. Dinikahi Pria cacat.


Menurut readers yang buat orang penasaran ingin baca, judulnya yang mana ya?

__ADS_1


please kasih masukannya.


Thank you 🙂


__ADS_2