Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Bersyukur


__ADS_3

Seharian ini Ruby tak mau keluar lagi dari kamarnya setelah mandi wajib. Bahkan makan siang di kamar. Ada rasa kesal dan malu bercampur jadi satu, terhadap hal yang menimpa pada dirinya dengan Ali. Apalagi setelah kesadarannya kembali seutuhnya. Ia semakin membenci hidupnya yang ditakdirkan menikah dengan Ali.


"Sayang, menerima kenyataan dan ikhlas dengan yang sudah terjadi bisa membuat beban hidup menjadi lebih ringan. Terus kita tak berhenti berharap agar hari esok akan lebih baik dari hari yang sudah dilalui." Mengjsap usap lembut kepala sang putri yang tidur di pangkuannya.


Ibu dan anak itu masih di dalam kamar. Mama Nisya sedang memberi pengertian pada Ruby. Karena keinginan tak selalu sesuai dengan kenyataan.


"Mama tahu dan bisa rasakan apa yang kamu rasakan saat ini sayang. Manusia terlahir dengan takdir masing-masing. Ada orang yang ditakdirkan hidup dengan penuh kebahagiaan, ada pula yang sebaliknya. Apa pun kondisinya, kita sebaiknya selalu bersyukur atas apa yang sudah ditakdirkan."


Masih bicara lembut pada sang putri. Memberi pandangan hidup, agar putrinya itu tidak setres dalam menghadapi cobaan ini. Ditinggal sang kekasih di hari pernikahan, tentu itu hal yang menyakitkan, ditambah dipaksa menikah dengan pria yang tidak disukai. Membuatnya semakin tertekan.


Ruby yang berbaring berbantalkan paha sang ibu, hanya terdiam mendengar nasehat ibunya itu. Sesekali Isak tangis terdengar, dan tarikan ingus.


"Terkadang kita sulit menerima takdir yang menimpa diri kita, apalagi jika takdir itu berupa kesulitan atau kegagalan. Sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi pada diri kita. Sesuatu yang menurut pemahaman kita tidak baik buat kita. Pada saat itu, seringnya kita lupa, Allah Sang Pencipta takdir. Sang Pencipta kita, pasti lebih tahu apa yang terbaik buat ciptaanNya. Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita sayang."


Mama Nisya menundukkan kepalanya, ingin melihat wajah sang putri yang tidur di pahanya. Terlihat putrinya itu sedang meratapi nasibnya.


"Ali itu pria baik sayang, mana yakin kamu kelak akan bahagia dengannya."


"Agam juga baik Ma, kaya dan normal." Ujar Ruby cepat, mengubah posisinya jadi duduk membelakangi sang ibu.

__ADS_1


"Kalau dia baik, kenapa dia gak datang di hari pernikahan kalian." Menarik bahu sang putri, agar berbalik dan menatapnya.


"Aku yakin, ada kejadian buruk yang menimpanya. Dan tak seharusnya ayah langsung menikahkan aku dengan Ali. Dan sekarang, ia telah merenggut kesucianku Ma...!" bicara dengan berurai air mata, ekspresi wajah kesal terlihat jelas.


Eehhmmm..


"Mama gak tahu kamu bicara apa. Ali tak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Lagipula, ia kan suamimu. Koq kamu bilang kamu diperk-osa. Kalau pun kamu diperko-sa oleh Ali, tak mungkin lehernya banyak bekas cup-angan."


"Mama....!" teriak Ruby kesal menatap sang ibu. Ucapan ibunya itu menyudutkannya.


"Ikhlas terima nasib, sabar, jalani hidup dengan baik. Ali tak seburuk pikiranmu itu. Ia pria penuh tanggung jawab. Mama yakin, kamu tak akan menderita dibuatnya kelak. Sudah, kamu harus banyak banyak bersyukur. agar gak kufur. Kejadian di hotel tadi malam, cukup sebagai teguran untukmu." Ujar Mama Nisya tegas.


Mama Nisya beranjak dari ranjang.


"Mama mau ke mana? kita di sini dulu. Badanku sakit semua. Pijitin..!" rengeknya, menahan tangan sang ibu. Sehingga Mama Nisya menghentikan langkahnya dan menatap malas Ruby, yang tak bisa dibilangin.


"Mama geli lihat sekujur tubuhmu itu. Mama juga pernah jadi pengantin baru. Tapi, gak seperti kalian." Ujar Mama Nisya dengan ekspresi wajah aneh. Antara ingin mencaci dan tertawa.


"Mama..!" Ruby kesal, karena diledek sang ibu .

__ADS_1


"Kamu minta pijat sama suamimu saja. Badanmu sakit semua kan karena dia."


"Mama...!" Ruby tambah kesal, mukanya semakin kusut saja, menatap sang ibu yang dari tadi mengulum senyum.


"Mama dan ayah mau pamit. Kalian rukun rukun ya nak. Ikhlas... Semua telah terjadi. Jangan pernah harapkan Agam lagi. Hargai suamimu, taat padanya."


Setelah mengucapkan itu, sang ibu keluar dari kamar sang putri. Tentu saja Ruby menyusul ibunya itu.


"Ayo ayah kita pulang, nanti habis magrib ada acara minta doa di rumah pak Karno." Ujar Mama Nisya, menatap sang suami dan Ali yang duduk di ruang tamu.


"Baiklah Ali, jaga Ruby baik baik." Menatap ke arah sang putri, yang menunduk malu. Kemudian menepuk bahu sang menantu pelan. "Sabar..!" Ujarnya menatap serius Ali.


"Iya pak." Jawab Ali tersenyum tipis. Menatap kedua mertuanya.


Ruby dan Ali mengantarkan orang tua mereka hingga ke teras rumah. Setelah mobil yang ditumpangi orang tuanya menghilang dari jangkauan mata, mereka pun masuk ke dalam rumah. Tentu saja keduanya tak ada yang buka suara. Suasana di rumah itu masih tegang.


TBC


"

__ADS_1


__ADS_2