
Hari ini Ruby pulang kerja lebih cepat dari sebelumnya. Ia yang kangen dengan ibu tercinta memutuskan berkunjung ke rumah orang tuanya itu. Setelah ada temen bertukar pikiran di kantor. Semua nasehat sang ibu, akhirnya masuk juga ke otaknya.
Ia mengendarai motornya menuju rumah orang tuanya. Dibutuhkan waktu sekitar 60 menit dari kota Sibolga ke rumah orang tuanya, jika kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 40 km/jam.
Besok adalah weekend. Jadi ia ingin sekali menginap di rumah orang tuanya itu hingga esok lusa.
Sesampainya di rumah orang tuanya. Ternyata ibu dan ayahnya sedang berada di peternakan. Ia pun akhirnya memutuskan untuk datang ke peternakan orang tuanya itu. Yang tempat nya tak jauh dari rumah mereka.
"Pak, itu Ruby kan?" tanya Mama Nisya, melihat sang putri memakai masker berjalan ke arah mereka.
"Iya ma, tumben anak itu kemari." Sahut sang suami. Sangat heran melihat Ruby yang datang ke peternakan. Ruby sudah sangat lama tak datang ke peternakan itu. Ia tak suka ke tempat itu, karena ia merasa tempat nya kurang steril, agak sedikit bauk. Karena pakan untuk ayam.
"Ayah.... Mama...!" Ruby melambaikan tangan kanannya, dan melempar senyum bahagia. Tentu saja kedua orang tuanya heran melihat sang putri yang terlihat bahagia hari ini.
"Ruby...!" sang ibu ikut ikutan melambaikan tangan pada putrinya itu. Mama Nisya tak kalah bahagia dengan perubahan sikap sang putri. Yang tiba tiba datang ke peternakan dengan senyum yang sumringah. Kedua orangtuanya Ruby saat ini sedang beristirahat di sebuah pondok.
Sesampainya di pondok itu, Ruby langsung mendarat kan bokongnya dengan sedikit ngos ngosan. Karena tadi ia berlari lari kecil menuju pondok.
"Aku bawakan makanan kesukaan Ayah dan Mama." Ruby menyodorkan dua kantong plastik berwarna putih. Satu berisi bolu pisang dan satu lagi berisi empat bungkus mie Aceh.
Mama Nisya tersenyum lebar saat membuka kresek yang di hadapannya. Banyaknya makanan yang dibawakan Ruby, tentu saja itu akan dibagi pada karyawan sang ayah yang jumlahnya ada tiga.
"Ali, Irul, Fauzan.. Ayo ke sini, istirahat dulu. Ada rezeki ini mau disantap." Ucap Haji Zainuddin dengan suara keras tapi terdengar bahagia. Menatap ke arah kandang ayam.
Ali yang sibuk membersihkan kandang ayam, tidak mengetahui kedatangan Ruby. Sedangkan Irul dan Fauzan mengetahuinya, karena posisi mereka saat ini dekat dengan pondok tempat haji Zainuddin berada. Sehingga Irul dan Fauzan dengan cepat berjalan menuju pondok.
"Waaahh... Tumben tuan putri turun ke lapangan." Celutuk Fauzan nyengir. Menyambar satu bungkus Mie Aceh yang ada di hadapan Mama Nisya.
"Apaan sih? siapa yang tuan putri." Sahut Ruby malas. Menatap kesal Fauzan.
"Sudah, gak usah saling ledek." Haji Zainuddin memberi kode dengan tangannya agar jangan bercanda, yang akhirnya nanti jadi sakit hati. Karena baru dua Minggu kejadian di hotel.
Fauzan pun langsung diam, menjauh dari pondok itu dengan membawa sagu bungkus mie bagiannya. Yang disusul oleh Irul.
"Nak, panggil suamimu. Biar kita makan sama."
__ADS_1
Ucapan sang ayah, cukup mengejutkan Ruby. Entah kenapa ia jadi merasa enggan pada Ali.
"Ayo sana, lagian ini sudah pukul lima sore. Sudah saatnya ia pulang. Kamu ke sini mau jemput dia kan?" Menatap Ruby yang masih terlihat bingung itu.
"Iya ayah." Ruby akhirnya menyeret kakinya menuju kandang ayam yang sangat besar dan luas itu. Ia mencari keberadaan sang suami. Saat melintas di tempat itu, tentu saja Ruby menutup hidungnya dengan masker.
Dari kejauhan ia sudah bisa melihat keberadaan Ali, yang tengah membelakanginya. Ali terlihat bekerja dengan serius dan penuh semangat. Ruby jadi tersentuh melihatnya. Karena suaminya itu bekerja dengan satu tangan. Dan tangan satunya lagi hanya bergoyang goyang, karena pergerakan tubuhnya Ali.
Itu semua jelas terlihat oleh Ruby. Karena Ali saat ini bekerja, dengan mengenakan kaos yang cukup longgar dan tidak berlengan, di padu dengan celana training.
Melihat Ali yang bekerja dengan sungguh sungguh itu membuatnya tersentuh. Akhirnya ia menyadari bahwa sang suami itu punya hati yang tulus. Bekerja dengan ikhlas dan tidak neko neko.
Tanpa disadarinya, cairan bening jatuh membasahi pipi putihnya. Wanita itu menangis, ia sedang sensitif. Ia tak menyangka akan menjalani hidup seperti ini. Ditakdirkan jadi istrinya Ali.
Hhuuuffftt..
Ruby menarik napas berat. Ia merasa dadanya sesak, karena memikirkan nasibnya. Bagaimana kelak perjalanan rumah tangganya dengan Ali. Jujur, ia tak akan bisa mencintai pria itu. Walau mereka sudah pernah melakukan hubungan suami istri.
Asyik melamun memikirkan hubungan nya dengan Ali. Ia tak menyadari kalau sang suami sudah berada di hadapannya.
"Eeehhmmm... Ru, Ruby...!" Dengan lembut Ali menepuk bahu sang istri.
"Apa.. Kamu..!" Ruby terlonjak kaget, ia langsung memalingkan wajahnya dan melap air matanya yang membasahi pipinya dengan jemarinya.
Ali tahu apa yang disedihkan istrinya itu. Apalagi kalau bukan tentang dia. Ruby terus saja merasa jadi wanita yang paling malang karena punya suami cacat dan miskin seperti dia.
"Ngapain di sini?" tanya ALi serius. Ia tak boleh menunjukkan sikap, kalau ia sangat mencintai Ruby sekarang.
"Itu, itu, kamu dipanggil ayah." Jawabnya sedikit gugup. Langsung balik badan, meninggalkan Ali yang bengong di tempat, karena sikap Ruby yang dari tadi pagi sangat berubah padanya. Istrinya itu tak menunjukkan sikap perlawanan lagi.
Ali menyusul langkah sang istri. Sesampainya di pondok itu. Terlihat Haji Zainuddin dan Mama Nisya, makan mie aceh dengan romantis nya. Suap suapan dengan sendok yang sama. Terlihat kedua orang tua itu makan mie dengan lahap, sehingga siapapun yang melihatnya akan selera. Termasuk Ruby, ia yang tak terlalu suka dengan mie aceh, jadi ingin sekali memakannya.
"Duduk di sini Ali. Ini ada rezeki, ayo sikat." Haji Zainuddin memberikan ruang untuk Ali, untuk duduk di pondok itu. Kemudian Ruby juga mendudukkan bokongnya di sebelah Ali. Karena hanya disitu ada tempat yang bisa diduduki.
"Ruby bawa makanan kesukaanmu. Ini..!" Mama Nisya menyodorkan satu bungkus mie Tek Tek pada Ali. Hanya itu yang tersisa.
__ADS_1
Ali melirik Ruby dengan senyum manisnya. Ia sangat bahagia, merasa diperhatikan karena Ruby membawa makanan kesukaannya. Ia membuka bungkusan itu. Saat itu asap mengepul terlihat ke atas. Ternyata mie nya baru saja dimasak.
"Mie nya enak loh nak. Beli di mana?" tanya Haji Zainuddin heran. Ia yang tak suka makan mie, malah merasa kurang.
"Di simpang pak, sebelum masuk gang rumah kita." Jawab Ruby tersenyum tipis. Ia senang juga, makanan yang dibawakannya disukai semua orang.
"Ooh.. Tumben masakan sup Ucok enak." Celutuk Mama Nisya ikut buka suara.
"Iya mak, enak. Besok belikan untuk bapak lah ." Sahut Ayah Zainuddin.
"Gak biasa biasanya bapak suka mie " Jawab Mama Nisya, melirik Ali yang terlihat belum memakan'mie di hadapannya. Kemudian mengalihkan pandangan nya pada Ruby, yang terlihat selerah menatap mie yang ada di hadapan Ali.
"Kenapa belum dimakan Ali?" tanya Mama Nisya, yang kini memperhatikan Ali.
"Ini mau dimakan Bu." Sahutnya ramah, kemudian melempar pandangan pada Ruby.
"Kamu gak mau..?" menyodorkan mie pada Ruby.
Ruby terlihat bingung dan merasa malu. Siapapun yang melihatnya tahu itu. Jelas ia malu. Dulu ia sikapnya tak baik pada Ali.
"Ayo bu, kita lanjut kan bekerja. Perut sudah kenyang, tentu sudah bertenaga dong." Ekspresi Haji Zainuddin sangat senang. Karena terlihat hubungan Ruby dan Ali banyak kemajuan.
"Ayo pak, pengantin baru jangan diganggu." Cibir Mama Nisya, menatap putri dan menantunya nyengir.
"Mereka bukan pengantin baru lagi ma. Sudah hampir lima bulan mereka menikah." Jelas Haji Zainuddin, menggandeng sang istri, meninggalkan pondok itu.
Ali mengulum senyum melihat tingkah mertuanya. Ia juga merasa sangat nervouse saat ini. Karena keberadaan Ruby di tempat itu.
"Ini, kamu makanlah .!" Ali menyodorkan mie yang sudah dibuka bungkusnya itu.
"Itu untukmu!" Ruby langsung menunduk, merasa malu dan aneh dengan dirinya yang tiba tiba merasa simpatik pada Ali. Entahlah rasa yang ia rasakan tak bisa didefinisikannya saat ini. Yang jelas jika melihat kondisi Ali. Hatinya tersentuh, seperti nya ada rasa ibah.
"Ouuuhh.. Terima kasih." Ali menyendok mie itu dan memasukkannya ke mulutnya. Adanya sambal acar membuat Ali semakin berselerah untuk menyantap mie itu. Begitu juga dengan Ruby, terlihat tergiur ingin menyantap mie itu.
"Mau..? kalau mau, makan yang bagian ini." Ali mengarsir mie yang belum disentuh sendoknya. Ia tahu Ruby pasti jijik makan mie miliknya Makanya ia menyodorkan mie yang belum dijamahnya.
__ADS_1
TBC