Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Pergi


__ADS_3

Malam itu tak ada perayaan ulang tahun lagi. Yang ada percekcokan antara orang tua dan sang putri. Yaitu Haji Zainuddin dan Ruby. Sedangkan Ali hanya sebagai pendengar. Yang kupingnya sudah panas dibuat Isak tangis Ruby yang masih terus menyudutkannya, dengan kejadian di counter.


Ali sudah tak tahan lagi mendengarkan kalimat kalimat kebencian yang terlontar untuknya dari mulut berbisanya Ruby. Ia harus menstop perdebatan antara ayah dan anak itu. Yang meributkan tentang dia.


"Pak, jangan memaksa. Hubungan kami tak sehat pak. Aku tak mau ada kejadian lebih mengerikan lagi terjadi nanti. Aku menyerah! aku tak tahan terus dikata Katai. Bagaimana pun aku jelaskan padanya, ia tak akan pernah mengerti jadi aku." Ujar Ali dengan suara lirih.


"Iya Ali, maafkan Bapak telah memaksamu untuk menikah dengan Ruby. Tapi, ku mohon, jangan putuskan dulu hubungan pernikahan kalian." Menatap sendu Ali, dan memegang tangan pria yang terlihat rapuh itu.


Huufftt...


Ali menarik napas berat. Ia merasa terjebak dalam permainan haji Zainuddin. Ia yang terikat hutang Budi, merasa sangat enggan pada Haji Zainuddin.


"Bapak sudah dengar dari Ruby. Ia tak inginkan pernikahan ini. Apa lagi yang mau dipertahankan pak!" bicara dengan frustasinya. Ali sudah muak dengan masalah ini ini terus.


Ia beranjak dari duduknya. Mulai mengemas barang barangnya.


Haji Zainuddin dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Ali. Ia pun menahan tangan nya Ali yang sedang beres beres.


"Ali, ikut bapak sebentar!" ucapnya tegas dengan mata yang memerah. Ada semburat kesedihan di wajahnya Haji Zainudin. Ali yang tak tega melihat wajah sedih ayah mertuanya itu, akhirnya mengiyakan ajakan Haji Zainuddin.


Mama Nisya menghela napas berat. Ia pun menutup pintu rumah itu. Setelah mobil yang dikendarai sang suami, meninggalkan halaman rumah kontrakan itu.

__ADS_1


"Aku tahu, kamu sangat menyukai Ruby." Menatap Ali yang duduk di sebelahnya dengan melempar pandangan ke hamparan laut yang luas di hadapan mereka.


Ya, Haji Zainuddin dan Ali kini sedang berada di sebuah cafe yang menyajikan view pantai yang indah. Walau di malam hari sekalipun.


Ali sudah merasa tak tertarik untuk membahas Ruby. Ya hati seseorang bisa berubah ubah. Benar dulu Ali sangat menyukai Ruby secara diam diam. Tapi, setelah mengenal karakter Ruby yang sesungguhnya. Rasa suka itu memudar sudah. Tak ada alasan yang baik, untuk tetap menyukai wanita seperti itu.


"Eemmmm... Itu dulu pak. Kalau sekarang sudah beda pak." Jawab dengan ekspresi pasrah.


Huufftt...


Haji Zainuddin menghela napas berat. Rasanya ia dibuat pusing dengan pernikahan putrinya ini.


"Kamu boleh pisah ranjang dengan Ruby. Tapi, jangan ceraikan ia sampai dengan waktu yang bapak tentukan."


Ali merasa lucu dengan penuturan Ayah mertuanya itu. Sejak menikah kan mereka emang pisah ranjang.


"Gak ayah, aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Malam ini juga, aku harus pergi dari rumah itu. Aku ingin hidup sehat ayah."


"Ali.... Jangan ceraikan Ruby!" memelas pada sang menantu.


Huufft..

__ADS_1


Ali sungguh dibuat frustasi dengan sang ayah mertua yang tetap ngotot, ingi mempertahankan pernikahan yang sudah jelas tak sehat itu.


"Pak, ini sudah larut. Aku masih mau mempacking barang barangku." Ali beranjak dari duduknya. Berjalan ke arah mobil Haji Zainuddin yang terparkir. Mau tak mau Haji Zainuddin mengikuti apa maunya Ali.


15 menit mereka sudah sampai di rumah. Ali dengan cepat mempacking semua barang barangnya.


Mama nisya yang tadi ada di kamar Ruby, keluar dan menyaksikan Ali sedang beres beres.


"Pak, Bu. Aku pamit." Ali menyalim kedua tangan mertuanya. Dan disaat menyalim tangan Haji Zainuddin. Pria tua itu langsung mendekapnya erat.


"Tetap datang bekerja ya Nak!" Bicara dengan nada bicara sedih. Masih memeluk Ali erat, seolah tak akan berjumpa lagi.


"Eehhmm.. Iya ayah!" ujarnya sopan. Kedua sudut bibir melengkung menciptakan senyum tulus.


Ruby yang belum tidur, mendekatkan kupingnya ke tembok kamar nya. Ia menguping pembicaraan Ali dan kedua orang tuanya. Ia senang, akhirnya Ali pergi dari hidupnya. Matanya tak akan sakit lagi, melihat Ali yang cacat.


"Yesss... Bebas...!" teriaknya dalam hati.


Ali sudah memesan becak langganannya. Semua barang barangnya sudah masuk ke dalam becak. Ia akhirnya bisa keluar dari rumah neraka itu.


TBC

__ADS_1


Hai readers sayang, aku ada novel baru nih. Yuk ramaikan!



__ADS_2