
Praakkk
Gelas yang berisi susu itu jatuh dari tangannya Ruby.
"Panas.... Panas...!" keluhnya mengibas ibaskan tangannya yang terasa panas. Karena memegang gelas. "Kamu mau bunuh aku?" bicara dengan kesal pada Ali.
"Kan juga biasanya suka susu yang hangat. Tadi makanya aku yang mau bantuin kamu minumnya. Kamunya malah ngotot mau memegang gelasnya." Sahut Ali, mulai membersihkan serpihan gelas kaca yang jatuh.
"Ruby.... Kamu bisa gak sih, sopan pada Ali. Kalau kamu gak berubah, bisa kualat kamu. Dulu kamu gak gini amat sikapnya. Kenapa setelah menikah jadi gak punya etika." Mama Nisya yang ada di dapur, dibuat emosi dengar sang putri yang marah pada Ali. Ia bergegas ke kamar putrinya itu.
"Aku berubah gara gara ayah maksa aku nikah dengannya." Menjawab dengan muka masamnya.
"Gak bersyukur kamu ya nak. Durhaka kamu pada Ali. Ayo minta maaf...!" tegas Mama Nisya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia malu pada Ali, karena punya putri seperti Ruby.
"Aku gak salah, ngapain aku harus minta maaf!" masih menunjukkan wajah cemberut.
"Kamu bukan anak anak lagi, yang tak tahu mana yang benar dan salah. Kamu tahu sikapmu itu salah. Tapi, kamu tetap saja lakukan. Karena kamu tahu, Ali tak akan berani berbuat kasar padamu. Seandainya pun kamu berjodoh dengan Agam. Kalau sikapmu seperti ini. Dalam hitungan hari kamu sudah ditendang."
"Kalau aku jadi istri Abang Agam Ma. Aku akan bahagia, sikapku ya gak seperti ini. Emang mama sikapnya bagaimana, pada orang yang tak mama sukai? tetap baik gitu? tapi hati mama berserabut. Mending kek aku, blak blakan. Memang aku gak suka dengan Ali. Dia saja yang cinta mati denganku." Bicara sombong, dengan melirik tak suka Ali yang masih berdiri di kamar itu. Dengan pecahan gelas di tangan nya.
"Ali juga gak suka denganmu. Tapi, ia jaga perasaan Ayah dan Mama. Gak seperti kamu, gak mikirin perasaan orang tua. Durhaka kamu nak. Durhaka...!" Mama Nisya menangis di hadapan sang putri.
"Bu, Bu gak boleh bicara seperti itu. Ibu gak boleh menyumpahi anak sendiri." Ali kembali meletakkan serpihan gelas di atas meja. Ia langsung melap air mata Mama Nisya dan memeluknya.
"Ini semua gara gara kamu. Aku bertengkar dengan ibu gara gara kamu!" ujar Ruby kesal pada Ali yang terlihat menenangkan Ibu mertuanya itu.
"Ayo Ali, kita tinggalkan saja wanita tak tahu diri ini. Aku malu punya anak seperti itu." Ujar Mama Nisya dengan hati yang sangat hancur. Ia tak tahu kenapa putrinya itu, jadi gak sopan seperti itu. Setahu dia, Ruby itu tidaklah sejahat itu.
Sepeninggalannya ibu dan sang suami. Ruby menangis histeris. Dia benci dengan dirinya. Yang rasanya susah bersikap baik pada Ali. Apalagi sejak ia hamil. Mungkin karena sudah terbiasa merendahkan Ali. Jadi disaat ia marah, sikapnya tetap tak terkendali, masih meremehkan Ali.
"Maafkan Ruby ya nak. Ibu gak tahu, kalau sikapnya Ruby separah itu samamu. Waktu itu, ibu kira ia sudah ikhlas menerima takdirnya. Tapi, kini kenapa semakin menjadi jadi." Ujar Mama Nisya menatap sendu Ali yang terlihat baik baik saja. Padahal Ruby sudah bersikap kasar padanya.
"Iya Bu, aku bisa mengerti keadaan Ruby. Makanya aku gak mau ambil hati." Sempat Ali ambil hati setiap ucapan Ruby. Mungkin wanita itu sudah diinterogasi malaikat Munkar nakir. "Ini salahku Bu, salahku karena aku cacat dan miskin. Di fantasinya Ruby itu, dia punya suami yang perfeksionis dan kaya. Eehh... Gak tahunya malah nikah denganku." Jelas Ali tersenyum getir.
"Kamu jangan merendah seperti itu." Menepuk pelan bahunya Ali.
"Entahlah Bu, aku sayang dengannya. Apalagi kini ia tengah mengandung anakku Bu." Ali mendongak, guna menghindari air matanya yang hendak jatuh.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu sayang dengan Ruby nak?" tanya Mama Nisya, menatap lekat kedua matanya Ali yang terlihat berkaca-kaca.
Ali tersenyum tipis. Mana mungkin ia curhat soal perasaan nya pada Ruby. Itu hal yang tabu buatnya.
"Ditanyain koq malah ketawa sih Al? kamu yang sabar ya, ibu akan bicara baik baik padanya."
Mama Nisya beranjak dari duduknya. Menyeret langkahnya ke kamar nya Ruby.
Saat sampai di kamar sang putri. Anaknya itu terlihat serius sedang bermain hape. Tapi, dengan cepat Ruby menyimpan hape itu. Dan Mama Nisya mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
"Ma... Maafkan Ruby. Jangan katakan Ruby anak durhaka. Maaf ... Sudah buat Mama kecewa." Ruby meraih tangan sang ibu, mencium punggung tangan keriput itu dengan penuh penghayatan.
"Saat ini, bukan pada ibu saat yang tepat untuk kamu minta maaf. Tapi, pada suamimu. Asal kamu tahu nak, surga istri ada pada suami. Sebab, hak seorang suami lebih besar daripada hak orang tuanya. Selain itu, istri yang taat kepada suami mendapat keistimewaan dari Allah dapat memilih pintu surga dari mana saja yang ia mau " Bekas Mama Nisya merangkum kedua tangan sang putri.
"Iya ma." Jawabnya lemah.
Jawaban sang putri yang nurut katanya. Cukup membuat Mama Nisya terkejut.
"Ali... Ali ke sini nak...!" teriak Mama Nisya. Ia tahu Ali masih duduk di teras rumah itu.
Tak butuh waktu lama, Aki sudah nongol di ambang pintu dengan mata yang memerah.
Ucapan Mama Nisya tentu saja membuat hatinya Ali bagai bunga yang bermekaran. Gak salah dengar dia. Ruby nau minta maaf padanya.
Setelah Ali berdiri disisi ranjang.
"Duduk yang benar kamu Ruby..!" ketus mama Nisya.
Ruby melirik mama Nisya bete. "Ini tanganku masih diinfus ma. Gimana mau duduk dengan benar. Minta maaf koq ribet banget sih?" keluhnya kesal.
"Kamu ikhlas gak, mau minta maaf pada Ali?"
"Ikhlas Ma " Bicara dengan gigi dirapatkan.
"Kamu gak ikhlas itu." Pungkas Mama Nisya.
"Ikhlas .... Aku gak mau nambah dosa lagi. Aku sudah sadar. Tadi aku dengar ustadz ceramah. Katanya suami harus dihormati. Bahkan jikalau suami itu jahat orangnya, dzolim ke istrinya tetap istri harus hormat. Karena sabarnya istri, akan dibalas oleh Allah dengan surga."
__ADS_1
"Laahh.... Itu kamu bener ngomongnya. Kamu itu kesambet apa sih nak selama ini?" celetuk Mama Nisya.
"Tahu akh... Ini mau lanjut gak minta maaf nya." Ruby kesal, tatapan sang ibu dan Ali, seperti meledeknya.
"Ya, kamu minta maaflah, sama Ali." Ujar Mama Nisya senyam senyum.
Ruby menatap tajam Ali. Dan menjulurkan tangannya. "Maaf. .!" ujarnya dingin.
"Apa seperti itu cara meminta maaf? minta maaf yang bener..!"
"Iihhh... Mama..!" Menekuk bibir kesal pada sang ibu. Kemudian kembali menatap lekat Ali, yang juga sedang menahan dirinha agar tak tertawa.
"Maafkan aku, jikalau selama jadi istrimu, ada perbuatan atau tutur kataku yang menyakiti hatimu..!" Ujar Ruby dengan penuh penghayatan.
"Iya, aku maafkan. Aku tahu, aku belum bisa jadi suami yang bisa kamu banggakan." Sahut Ali lembut dan tulus.
"Ayo peluk istrimu..!" ujar Mama Nisya.
Ali bingung, ia hanya punya satu tangan yang befungsi. Satu tangannya lagi masih berjabat tangan dengan sang istri.
"Apaan sih ma, peluk peluk segala." Ruby menarik tangannya dari genggaman tangan Ali.
"Hehehe... Mama senang, liat kalian sudah saling maaf memaafkan. Tadinya mama mengira, perselisihan masih berlanjut.." Mama Nisya menitikkan air mata.
"Ma, maafkan Ruby ya? jangan kutuk Ruby Ma. Maaf, telah buat mama menangis..!"
Mama Nisya langsung memeluk Ali dan Ruby.
"Kalian jangan bertengkar lagi. Ingat, sudah ada anak yang akan lahir ke dunia ini. Berubah ya sayang...!" Melirik Ruby, yang juga menitikkan air mata.
"Iya ma. Jangan benci Ruby ma." Ruby sangat takut, dibenci ibunya.
"Mana ada ibu yang benci anaknya sayang..!"
Mama Nisya melepas tangannya dari pelukan Ruby dan Ali.
"Sabar... Kamu harus sabar, Bimbing istrimu..!" Memegang tangan Ali yang ada di atas ranjang.
__ADS_1
"Iya Bu." Jawab Ali mengulum senyum. Entah mimpi apa dia semalam. Ruby minta maaf padanya. Itu membuatnya sangat bahagia sekali.
TBC