Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Mantap mantap


__ADS_3

Ruby akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat. Dokter yang menaruh kecurigaan terhadap tanda tanda sakit yang dialami Ruby, akhirnya meminta izin pada Ali. Agar Ruby diperiksa ke Dokter Obgyn juga. Disinilah Ruby dibuat semakin jantungan. Ucapan Dokter umum itu membuatnya syok. Tak mungkin dia hamil. Tapi, itu bisa juga terjadi. Karena ia sudah telat datang bulan lebih dari seminggu. Kira kira sepuluh hari.


Ruby akhirnya mengiyakan rujukan dokter. Karena ia juga penasaran. Kalau ia hamil beneran. Ini semua musibah buatnya. Ia sedang tak siap untuk hamil. Apalagi mengandung anaknya Ali. Ia masih mencintai kekasihnya Agam. Sebelum bisa menemukan Agam, baik dalam keadaan hidup atau mati. Ia tak akan bisa melanjutkan hidupnya dengan baik. Menghilangnya Agam di hari pernikahannya, sudah membuatnya hancur.


Kini mereka sedang berada di ruang tunggu. Ruby terlihat sangat murung. Sedangkan Ali terlihat begitu bahagia. Kalau benar Ruby hamil. Ia yakin, ia akan. Isa memiliki wanita itu sepenuhnya. Karena ada anaknya di dalam rahim istrinya itu.


"Kalau benar aku hamil, aku tak akan mau mengandung anak ini. Aku akan menggugurkannya." Ujar Ruby lirih, matanya yang bicara tegas itu, sama sekali tak menatap Ali yang sedang terbengong di sebelahnya.


"Ruby .. Jangan gila kamu. Perbuatan seperti itu dosa besar." Ujar Ali dengan khawatirnya. Ia tak mau Ruby melakukan hal gila itu.


"Aku tak sudih mengandung anakmu!" Memutar leher nya cepat. Hingga kini mereka bersitatap.


Ali terdiam kedua matanya melotot karena terkejut mendengar ucapan sang istri. Ia tak boleh terpancing. Mereka sedang berada di tempat umum.


"Ibu Ruby AZ Zahra..!"

__ADS_1


Ruby langsung bangkit dari kursi tunggu, masih dengan ekspresi wajah kesalnya. Biasanya ibu ibu akan berseri seri wajahnya masuk ke ruang Obgyn itu. Tapi, calon ibu satu ini berbeda.


"Ayo Bu naik ke sini..!" Titah sang suster pada Ruby ramah. Ruby yang wajahnya ditekuk itu, menurut juga pada suster. Sedangkan Ali, memilih duduk di kursi yang ada di hadapan meja sang dokter.


Ini pengalaman pertama kali buat Ali. Menemani wanita ke rumah sakit. Cek kandungan. Harusnya ini moment yang sangat membahagiakan. Tapi, nyatanya ini moment yang sangat menegangkan.


"Eemm.... Anak pertama ya?" Tanya sang Dokter berjenis kelamin pria yang bernama dokter Robby.


"Emang aku beneran hamil Dok?" Tanya Ruby dengan penasaran nya.


"Gak Dok." Jawabnya lemah.


Ali yang penasaran melihat gambar di layar. Akhirnya mendekat ke arah Dokter. Sang Dokter melirik Ali sekilas. Tentu saja, fisiknya sempat dinilai sang Dokter.


"Eemmm... Istrinya bapak sudah hamil masuk ninggu ke enam, lihat ini pak. Adonan kalian sudah jadi. Tapi, masih kecil sekali. Kira kira sebiji beras gitu." Ujar sang Dokter ramah. Yang membuat Ali sebenarnya ingin tertawa. Masak anaknya dikatakan hasil adonan. Emang mau buat donat.

__ADS_1


"Untuk saat ini kondisi janinnya bagus. Pelekatan janin juga pada tempatnya, air ketuban cukup." Jelas Dokter tersenyum tipis pada Ali. Siapun yang menatap wajah nya Ali, pasti, dibuat senang. Karena wajah Ali sangat teduh dan buat ketagihan untuk menatapnya.


"Hamil enam minggu?" kini Ruby yang dibuat bingung. Kalau diingat ingat. Acara mereka mantap mantap, sekitar tiga minggu lebih yang lalu. Koq, dia sudah hamil masuk minggu ke enam.


"Iya Bu, ini jelas tertulis di monitor. Coba ibu ingat, tanggal berapa ibu pertama kali haid bulan lalu?" tanya Dokter ramah, masih memeriksa kandungan Ruby.


Ruby nampak berfikir, " Kalau gak salah tanggal 14 Dok." Jawabnya dengan ekspresi wajah kusut.


"Ya pas lah, berarti ibu sudah telat 9 hari. Asal ibu tahu. Hari pertama haid terakhir (HPHT) dianggap sebagai hari pertama usia kehamilan. Bukan dihitung saat cetak adonan yang buat lupa daratan ya Bu."


Uhuk


Uhuk


Ali tersedak dengan air ludahnya sendiri. Ia merasa geli mendengar penjelasan sang Dokter. Yang membahas kapan mereka mencetak anak.

__ADS_1


TBC


__ADS_2