Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Tutur kata sopan dan lembut


__ADS_3

Ruby terlihat sangat ramah melayani nasabah. Ali baru tahu, kalau istrinya itu bekerja di bagain customer service di salah satu bank Bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia ini.


Seandainya Ruby bersikap sebaik seperti saat ia melayani nasabah padanya. Mungkin Ali akan merasa orang yang paling bahagia di dunia ini. Tak mesti ia mendapatkan cintanya Ruby. Diperlakukan dengan baik dan dihormati saja ia sudah sangat bersyukur. Ali juga tahu diri. Mana mungkin ada wanita yang mau jadi pendamping hidupnya. Ia cacat, miskin bahkan tak punya keluarga di dunia ini.


"Hayoo... Napa curi curi pandang pada CS itu?" Khairiah mencentikkan jarinya. Sehingga lamunan Ali buyar. Ya, sambil memikirkan nasibnya. Ia terus menatap ke arah Ruby yang terlihat sangat ramah dalam melayani nasabah.


"Eeehh.. itu, gak..!" Ali tergagap. Ia ketahuan memperhatikan Ruby.


"Suka ya sama CS cantik itu?" goda Khairiah dengan mengerlingkan matanya kepada Ali.


"Gak..!" menggelengkan cepat kepalanya. Kemudian ia menundukkan kepala yang tadi menggeleng geleng itu.


"CS yang itu namanya Ruby. Dengar dengar sih ia baru nikah. Tapi, setelah nikah,orangnya rada nutup diri gitu. Dulu kan CS yang itu LDR an sama pacar nya. Saat LDR an norak lah. Dikit dikit banggain pacarnya, bilangnya kaya dan tampan."


Ali terlihat serius mendengarkan penuturan Khairiah. Ia sebenarnya penasaran. Koq khairiah tahu tentang Ruby.


"Ouuww.. Kamu kenal sama CS itu?" tanya Ali pelan, melirik Ruby yang masih melayani customer.


"Gak kenal, aku tahu dia dari Abang sepupuku. Abang sepupuku kerja di sini juga. Tapi, ia bagian lapangan. Abang sepupuku itu suka sama CS yang bernama Ruby itu. Tapi, si Ruby nya gak mau. Ya karena katanya ia sudah punya cowok yang kaya gitu." Jelas Khairiah dengan nada malas. Merasa kurang sreg pada Ruby, karena cinta Abang sepupu nya ditolak.


"Oouuww...!" Ali tak tahu harus komentar apa. Berarti teman kerjanya Ruby gak tahu, kalau Ruby nikah nya sama dia. Bukan sama cowok kaya dan tampan itu.


Tin nong..


"Nomor antrian 48 C, silahkan menuju loket 2." Terdengar suara operator.


"Ali kamu nomor antrian keberapa?" tanya Khairiah melirik Ali dengan penasarannya. Setelah melihat kartu nomor antrian nya.


Ali melihat kertas nomor antrian di tangan kanannya. "Nomor 50. Kamu?"


"Aku 51." Jawab Khairiah tersenyum tipis. "Nanti tungguin aku ya? kita sama sama ke tangkahan, aku juga mau beli ikan." Jelas wanita itu ramah.

__ADS_1


Ali terlihat keberatan. Ia enggan berduaan di dalam mobil bersama Khairiah. Mending ia naik becak atau angkutan umum.


"Aku disuruh emakku beli ikan." Memberi keterangan tanpa ditanya.


"Eemmm... Aku buru buru Khai. Kalau aku duluan selesai. Aku cabut duluan ya!" ujarnya ramah, merasa tak enak hati menolak permintaan Ruby.


"Iya deh." Jawab Khai, merengut. Ia sungguh dibuat penasaran dengan Ali, yang menolak naik mobilnya. Orang orang pada heboh selalu minta nebeng dengannya. Lah, ini ditawarin malah nolak.


Ali kembali serius memperhatikan Customer Service yang ada di hadapannya. Ada tiga Customer Servis. Dua Cistumer Service wanita dan satu pria. Customer servis 1 seorang pria, Customer Servise 2 wanita dan Customer Servis ke 3 adalah Ruby. Jadi kalau sesuai urutan dan yang urus nasabah cepat selesai. Maka, nanti giliran Ali, akan berurusan dengan Customer Servis ke 1, yaitu Customer berjenis kelamin pria. Mengetahui hal itu, Ali sangat senang. Setidaknya ia akan berurusan dengan seorang pria. Bukan ke Ruby.


Tin nong


Perhatian, nomor antrian 50. Silahkan menuju loket 3.


Deg


Ali terkejut, yang disebutkan adalah nomor antriannya. Itu artinya ia akan berurusan dengan Ruby. Ali jadi panik serta gugup. Sejak kejadian pembuktian bahwa alat reproduksinya tidak cacat sebulan lalu. Hubungan dengan Ruby semakin renggang. Bahkan Ruby tak pernah bicara padanya lagi. Dulu sih, Ruby masih mau bicara dengannya. Walau untuk dimaki dan menghinanya


"Ii--ya." Ali melangkah menuju loket tempat Ruby duduk. Tentu ia berjalan pincang. Dengan satu tangan yang terlihat mengayun ayun, walau sudah ditutupi oleh kemeja lengan panjang.


"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu."


Ali yang sudah duduk di kursi, dibuat terkejut dengan sikap ramah nya sang istri. Bahkan istrinya itu mengatupkan kedua tangan, sebagai tanda hormat. Seperti sikap Ruby melayani nasabah lainnya.


"Ii--- itu, kartu ATM ku ru-- rusak." Jawabnya gugup, salah tingkah di hadapan Ruby.


Tak bisa dipungkiri. Ali memang sangat mencintai istrinya itu.


"Baik pak, boleh tunjukkan kartu identitas serta buku rekening dan kartu ATM nya yang rusak!" masih bicara ramah, bersikap seolah tak mengenalnya.


Ali yang nervouse, merogoh tas ranselnya. Tentu ia sedikit kesusahan untuk mengambil dompetnya yang di simpannya di dalam tas nya. Tangannya terlihat gemetar. Sesekali ia melirik Ruby, yang menatapnya lekat.

__ADS_1


Ali yakin, istri nya itu pasti mengumpat dalam hati, karena berurusan dengannya. Karena saat ini tatapan Ruby terlihat penuh kebencian, sesaat.


"Ii,, ini.." Menyodorkan apa yang diminta oleh Ruby di atas meja.


"Ooohh... ATM bapak Expired." Ujar Ruby, kemudian terlihat mengambik kertas. "Baik Pak, silahkan isi formulirnya." Menyodorkan formulir ke hadapan Ali. Masih dengan tangan yang gemetaran Ali mengisi formulir yang diberikan Ruby. Ali yang memang pintar, tak bertanya apa apa lagi pada Ruby. Terkait apa yang diisikan dalam formulir itu."


"Tanda tangan di sini Pak" Ruby menunjuk kolom untuk di tanda tangani oleh Ali. Kemudian menunjukkan kolom lainnya.


Ali saat ini mengutuk dirinya. Kenapa dari tadi ia terlihat gugup di hadapan sang istri. Apa sebesar itu rasa sukanya pada Ruby, yang tak menganggapnya ada.


"Al, aku tunggu kamu." Ujar Khairiah menghampiri Ali, yang kini sedang membuat pin untuk ATM nya. Ternyata urusannya Khairiah sudah selesai.


Ali menoleh ke Khairiah sekilas, kemudian fokus lagi membuat pin ATM.


"Buat pin, kalau bisa jangan tanggal lahir Pak."


Setelah mengucapkan kalimat itu dengan ramah. Ruby memperhatikan lekat Khairiah yang kini sudah duduk kembali di kursinya, setelah menyamperin Ali.


"Ta hu dari mana a-- aku ulang tahun hari ini?" ujarnya masih tergagap, yang membuat Ruby mengerutkan kening nya.


"Aku gak tahu ultah bapak kapan. Aku hanya kasih saran. Karena banyak nasabah selalu buat pin nya dengan tanggal lahir.


Ali terdiam, ia gagal fokus. Dipikir nya Ruby mau bahas ultah nya.


Ia semakin malu saja dibuat sikapnya yang ke GR an, karena Ruby bersikap baik padanya saat ini.


"Sudah, ATM bapak sudah bisa digunakan. Ada lagi yang bisa kami bantu?" Masih bicara lembut dengan senyum mengembang.


Ali jadi salah tingkah. Kalau dapat perlakuan lembut dan baik seperti ini. Ali memilih ATM nya rusak saja setiap hari. Jadi ia bisa mendengar suara lembut dan sopan nya Ruby, seperti saat in.


TBC

__ADS_1


Tinggalkan jejak like komentar positif vote hadiahnya say.


__ADS_2