Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Caci maki


__ADS_3

Ruby terbangun, ia merasa seluruh badannya remuk redam. Kedua mata mengerjap. Ia kucek matanya berkali kali. Saat membuka mata, ia begitu terperangah mendapati dirinya dalam keadaan polos. Ternyata Ia tertidur hanya ditutupi selimut hingga bagian dada.


Sekelebat ia teringat dengan kejadian di restauran, saat Roy mengajaknya makan malam. Mengingat itu, ia panik. Dengan cepat menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Memeriksa ranjang yang sepreinya sudah acak acak an. Dan terdapat banyak bekas cairan di atas seprei itu dan juga bercak darah.


“Ini.. Ini.. Aku..!” Ujarnya panik, ekspresi wajah ketakutan terlihat jelas di wajah pucat nya. , ia belum sadar sepenuhnya di mana ia berada sekarang. " Ada darah, ada bercak darah.” Ujarnya menutup mulutnya dengan jemarinya. Ia sungguh terkejut mendapati dirinya telah dinodai.


“Tidak, tidak,” Ujarnya panik, mengedarkan pandangan ke penjuru kamar yang ia tempati, ia pun tersadar, kalau ia sekarang berada di dalam kamarnya, bukan di kamar sebuah hotel.


"Siapa, siapa pelakunya, Ali kah?” Ucapnya,. menutup cepat mulutnya tak menyangka ia dan Ali sudah melakukan hubungan suami istri. Ia yakin, Ali yang menodainya. Karena saat ini ia berada di kamarnya.


Seketika slide slide permainan mereka tadi malam, melintas di benaknya. Ia tak menyangka, ia dan Ali bermain sehebat itu. Karena ia akhirnya mengingat semua kelakuannya. Bahkan ia sudah ingat, kalau ia yang memaksa Ali.


“TIDAKK…” Teriaknya sangat frustasi. “Tidak…. Ya Tuhan, kenapa ini semua terjadi.” Ujarnya dengan menangis histeris.


Di dapur, Ali yang mendengar teriakan Ruby. Dibuat jantungan. Ia langsung memegangi dadanya yang berdebar-debar. Tamatlah riwayatnya, akan terjadi lagi perang dunia ke tiga.


Ia yang sedang memasak dengan cepat mematikan kompor. Bagaimana pun ia penasaran degan keadaan Ruby saat ini.


Kreekkk…


“Bajingan kau..!”


Baru juga pintu terbuka setengah, dan kepala belum sepenuhnya nongol, sebuah lampu tidur terlihat melayang ke arahnya. Kedua matanya membulat penuh melihat lampu hias itu hendak mengenainya dan dengan cepat ia kembali menutup pintu kamarnya Ruby.

__ADS_1


PRAkkkk..


Peng


Peng


Lampu hias menabrak pintu, pecah berserakan di lantai kamar.


“TIDAK…. Tidak… Najis.. kurang aja kau pria cacat, pincang… Dasar laki laki tak tahu diri, beraninya ambil kesempatan dalam


kesempitan...." Teriak Ruby penuh emosi.


" HuHuHu… Dasar laki laki cacat..!” Umpatnya penuh kebencian dengan suara isak tangis keputusasaan.


kota Meda. Tepatnya ke rumah orang rua Agam. Tapi, kalau sudah begini, mana


mungkin ia bisa kembali lagi  pada Agam.


Ia sudah tak perawan


“Dasar pria cacat.. Pincang… Beraninya kau lakukan ini padaku..”


Hu… Hu.. Hu… Tangisan Ruby terdengar sangat menyayat hati. Tangisannya seperti wanita yang dinodai segerombolan perampok saja.

__ADS_1


 Ali yang mendengar Amarah sang istri dibuat sedih dan merasa bersalah. Harusnya ia tak melakukan  itu, harusnya ia melakukan segala cara, agar Ruby bisa sadar tanpa mereka melakukannya. Tapi, ia tak bisa menahan diri, Ruby yang terlebih dahulu mencumbunya.


“Jahat… Jahat kamu Ali..! Kamu menghancurkan mimpi mimpiku.!”


Ruby masih saja menagis menegluarka uneg uneg di hatinya.


Ali yang tak mau membuat suasana lebih buruk, akhirnya memutuskan kembali ke dapur. Memasak sarapan untuk mereka, sekaligus mencuci pakaian Ruby yang sudah menggunung di tempat kotor. Sepertinya istrinya sudah sebulan gak mencuci.


Sudah satu jam berlalu, Ruby masih menangis di dalam kamarnya. Meratapi nasibnya, yang dinikahi pria cacat miskin.


Umpatan sang istri tentu saja membuatnya tersiggung mendengaer keluh kesah sang istri tentang dirinya yang jadi suami wanita itu. Apalagi kesuciannya sudah diambil Ali.


Tok


Tok


Tok


“Assalamualaikum…Ruby…!”


Terdengar suara Mama Nisya dibalik pintu mengucap salam. Ali cukup terkejut mengetahui kedua orang tua Ruby datang ke rumah. Ia takut juga kena marah. Secara ia sudah meninggalkan Ruby selam dua bulan.


“Assalamu alikum..!”

__ADS_1


“Walaikum salam..!” Jawab Ali dengan perasan tak tenang karena takut pada kedua mertuanya.


__ADS_2