
"RUBY..!"
Akhirnya nama itu terlafaz juga dari mulutnya. Setelah bertahun tahun, pria itu mengharamkan nama itu disebut olehnya. Setelah sekian tahun, kenapa mereka malah bertemu di tempat keramaian ini. Padahal Ali sama sekali tak mau tahu tentang Ruby dan seluruh keluarga besar mertuanya. Bukan karena ia benci. Tapi, karena ia tak sanggup mendengar kenyataan yang jelas akan melukai hatinya.
"ALI...!"
Teriak wanita itu berlari kencang menghampiri Ali yang mematung di tempat, dengan sang putri yang merengek minta cepat masuk ke tempat time zone itu.
"Ali..."
Bibir wanita yang selalu menghinanya, kini terlihat gemetaran, memanggil namanya. Yang kini Sudah ada di hadapannya dengan berlinang air mata.
"Aliii..!"
Bruuggkk
Ia langsung memeluk Ali yang masih mematung karena tak menyangka akan melihat ibu dari anaknya Itu. Perlakuan Ruby itu tentu saja membuatnya terkejut. Hingga ia sampai terjungkal satu langkah kebelakang saat Ruby memeluknya yang masih menggendong sang putri.
"Pelgi... Pelgi.. eppas.... Eppass... Ayahku..."
Teriak Aysha, memukul mukul kepala Ruby yang sedang memeluk Ali dan diri nya. Saat ini Aysha merasa mereka sedang terancam. Karena ada orang yang tak ia kenal, tiba tiba saja menyerang mereka.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat Ruby menangis histeris. Ambruk di hadapan Ali. Sehingga Ruby terlihat seperti menyembahnya.
Dalam seketika mereka jadi pusat perhatian khalayak ramai. Dan sudah dikerumuni. Melihat hal itu membuat Ali yang tadi terbengong kini menatap sekitar. Sang asisten, terlihat menghalau orang yang Ingin mengabadikan moment itu.
Hiks... Hiks... Hiks...
Ruby tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia sangat sedih mendapati sang putri memukul mukul dirinya, dipertemuan pertama mereka. Makanya ia langsung putus asa.
"Khai, bawa Aysha ke mobil." Ujar Ali panik, memberikan Aysha kepada Khairiah.
Ali yang akhirnya tersadar akan semuanya, membantu Ruby untuk bangkit. Ruby akhirnya dipapah pria itu dan sang asisten berusaha membubarkan kerumunan, agar Ali dan Ruby keluar dari tempat itu.
Ruby sangat terkejut akan sikap putrinya Aysha. Tubuhnya layu seketika. Wajah pucat seperti tak di aliri darah. Badan terasa panas dan juga menggigil.
__ADS_1
"Ruby, kamu kenapa?" Ali merasa Ruby sedang tak baik baik saja.
Wanita itu hanya bisa menatap Ali dengan tatapan mata penuh kesedihan. Air mata tak berhenti mengucur deras. Sedangkan bibir rasanya terkunci. Tak ada tenaga menjawab pertanyaan Ali.
"Kamu baik baik saja kan?" bertanya penuh kekhawatiran. "Yudi... Kamu gendong Ruby.!" titahnya pada sang asisten. Karena Ali melihat Ruby seperti tak ada tenaga lagi untuk melangkah menuju tempat parkir.
Ruby menggeleng, tak mau digendong asistennya Ali.
"Kamu kenapa?" Ali sungguh dibuat sangat mengkhawatirkan Ruby.
"Gak apa apa." Akhirnya ia buka suara dengan lemah.
Akhirnya mereka sampai juga di parkiran. Terlihat Aysha sedang dalam gendongannya.
"Ayah.... !" teriaknya ingin melepaskan diri dari Khairiah. Ia tak mau ayahnya itu, memapah wanita yang tadi memeluk mereka.
"Mammah.... Eppas...!" ujarnya dengan suara karas.
Ruby tentu saja bisa mendengarnya. Karena kini ia sudah ada di sisi mobil terparkir. Aysha yang memanggil Khairiah Mama, membuatnya semakin down.
"Mammah.... Aku ingin sama ayah...!" berontak dalam gendongan Khairiah. Sehingga gadis kecil itu lepas. Berlari kencang ke arah Ali. Dan langsung menarik tangan Ruby, agar lepas dari rengkuhan sang ayah.
Tubuhnya Ruby bergetar hebat, yang kini sudah lepas dari rengkuhan Ali.
Melihat hal itu membuat khairiah kasihan pada Ruby yang pucat dan gemetaran itu. Ia pun merangkul Ruby. Auto Ruby menatap nya sendu.
"Ayo Al, kita pulang. Kamu dam Aysha di depan. Biar aku yang urus Ruby." Khairiah membantu Ruby masuk ke dalam Mobil, mendudukkan Wanita itu duduk dibarisan kedua. Sedangkan Ali dam Aysha duduk di bangku sebelah supir.
Mobil melaju membelah jalanan yang lumayan macet itu. Dan suasana di dalamnya cukup menegangkan. Apalagi Aysha tak mengizinkan sang ayah menoleh ke arah Ruby dan Khairiah.
"Ayah...Siapa memang tante itu?" celutuk Aysha, karena ia heran dengan tingkah sang ayah yang selalu saja mencoba menoleh ke belakang.
Ali terdiam, ia tak tahu harus jawab apa. Ia takut juga salah jawab. Ia dan Aysha kan tak pernah dianggap oleh Ruby sebagai bagian dari hidupnya.
"Ayah...!"
__ADS_1
"Ya sayang..." Ali berusaha menenangkan sang putri yang terlihat rewel, karena kehadiran Ruby di tengah tengah mereka.
"Tante itu cyaappa ayah..?"
Aysha Kalau gak dapat jawaban apa yang ia mau, maka ia tak akan puas.
"Ayyahh...!" rengeknya mulai kesal.
"Iya sayang, nanti di rumah ayah cerita ya sayang..?" memeluk sang putri erat, dengan perasaan yang berkecamuk. Pikirannya tidak tenang. Kenapa Ruby terlihat sedih, dan seperti orang yang putus asa. Itu bukan kepribadian wanita Itu.
Di Jok barisan kedua, Ruby hanya diam dengan air mata yang tak kunjung berhenti, keluar dadi mata indahnya. Sikap sang putri yang menolak kehadirannya, membuatnya sangat sedih dan merasa tak dingin kan.
"Kamu baik baik saja kan Ruby?" Khairiah yang duduk di sebelahnya, memegang Tangannya yang terasa dingin.
Ruby mengangguk dan melirik wanita itu sekilas dengan berusaha tersenyum tipis.
Ali yang duduk di kursi sebelah kemudi. Melirik Ruby daei spion, ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Ruby dua tahun ini.
Sesampainya di pelataran rumahnya Ali, yang sangat besar. Bisa dikatakan mansion. Landasan pesawat saja ada di lantai paling atas. Kekayaannya tak kalah dengan kekayaan Agam.
Ruby terbengong mendapati kenyataan kalau Ali kini sudah tinggal di rumah gedong nan mewah. Ia melirik Khairiah yang masih memegangnya, saat berjalan masuk ke dalam rumah itu. Sedangkan Ali menggendong sang anak, yang ditempatkannya pasrah di dadanya.
"Duduk dulu ya Ruby. Biar ku minta pelayan menyiapkan makanan." Ujar Khairiah ramah, langsung beranjak dari ruang tamu itu. Padahal Ruby ingin menanyakan, apakah ia dan Ali sudah menikah. Karena tak mungkin Ali sekaya ini, kalau gak menikah dengan Khairiah. Karena Khairiah memang dari keluarga kaya.
Sepeninggalannya Khairiah, Ruby kembali menitikkan air mata. Jika benar Ali sudah menikah dengan Ruby. Ia hanya bisa mendoakan agar mereka bahagia.
Eeehhmm...
Deheman itu membuyarkan lamunan Ruby. Ia pun menatap Ali dengan canggungnya. Penampilan suaminya itu sangat berbeda dari yang dulu. Lebih tampan dan sangat dewasa. Otot otot tubuhnya Terlihat semakin liat.
"Kamu apa kabarnya?"
Syurr...
Air mata Ruby malah mengalir sangat deras dan tak terbendung. Ia merasa dadanya sakit sekali, teringat masa lalu.
__ADS_1
"Kabarku tak baik." Jawabnya lirih. Ya Ruby tipe Wanita yang tak bisa berpura pura. Ia terlalu black blakan. Dan kadang ia sering salah ambil sikap atau keputusan.
TBC