
Ali dibuat panik, karena sang istri kabur dari rumahnya Khairiah. Bahkan ponsel istri nya itu tak bisa dihubungi.
"Gak usah panik begitu bang. Dia bukan anak kecil lagi. Kota ini bukan tempat baru untuk nya. Kan dia kuliah di sini." Ujar Khairiah berusaha menenangkan Ali yang terlihat panik. Hilir mudik di beranda rumah itu.
"Iya Khai, semoga ia baik baik saja. Khai, masih boleh kah, aku sewa supirmu?" tanya Ali dengan wajah penuh harap.
"Emang mau pulang malam ini?" tanya Khairiah heran. Saat ini sudah pukul sebelas malam.
"Iya, aku yakin. Ruby sudah pulang ke kota Sibolga." Jawab Ali masih dengan wajah cemasnya.
"Baiklah.... Yuk kita ke kota Sibolga." Ujar Khairiah semangat.
Ali tentu saja tak ada hak melarang Khairiah ikut dengannya. Karena ia sedang dibantu oleh wanita itu.
Sepanjang perjalanan Ali memilih tidur. Ia tak mau merusak organ tubuh dalam nya dengan begadang lagi. Karena sudah dua malam ia begadang gara gara Ruby yang rewel saat diperjalanan.
Saking lelahnya tubuhnya. Ali baru terbangun setelah sampai di depan rumah kontrakannya. Sungguh ia sangat lelah.
"Ya ampun bang, kamu itu sudah seperti kerbau tahu.. " Celutuk Khairiah menertawakan Ali, yang akhirnya bisa dibangun kan juga.
"Oouuhh... Iya, maaf ya Khai. Aku lelah sekali." Jawab Ali, mengusap usap wajahnya yang terasa tegang. Karena baru saja terbangun.
"Iya, gak apa apa. Santai saja bang." Bicara masih memperhatikan Ali yang terlihat siap siap hendak turun dari mobil.
"Ayo turun, aku buatkan kalian minum dulu." Ali mana merasa enak, langsung mengusir Khairiah dan supirnya. Walau mobil yang akan menjemput Khairiah sudah parkir di depan rumahnya.
Khairiah yang punya karakter humble, tentu saja mau diajak singgah di rumah kontrakan mereka.
Saat masuk ke dalam rumah itu, tak ada tanda keberadaan manusia di dalamnya. Itu tandanya Ruby belum sampai. Hal itu membuat Ali jadi was was.
"Kak Ruby belum sampai?" tanya Khairiyah setelah duduk di ambal yang di gelar Ali di ruang tamu.
"Seperti nya begitu. " Jawabnya tersenyum tipis. Berusaha menyembunyikan dirijua yang dirundung kekhawatiran.
__ADS_1
Khairiah, manggut - manggut mendengar penjelasan Ali.
"Aku ke dapur dulu ya!" Ali beranjak dari ruang tamu itu, setelah menyimpan tas ranselnya. Ia pun berjalan pincang ke arah dapur.
Saat Ali sibuk membuat minuman di dapur. Ia pun dikejutkan dengan suara ribut di ruang tamu.
"Ngapain kamu ke rumahku? keluar kamu...!" teriak Ruby seperti orang kesetanan pada Khairiah.
Ali mempercepat langkahnya menuju ruang tamu. si kUda liar terlihat berkacak pinggang dengan penampilan kusutnya, menantang Khairiah.
"Ini juga mau keluar, rumah kecil gini disombongkan. Syukur syukur kalau rumah sendiri." Ujar Khairiah kesal menatap remeh Ruby, yang menunjukkan sikap perlawanan.
"Abang Ali, hati hati ya? kalau gak tahan, aku siap menangkap...mu..!" ujar Khairiah dengan nyengir kuda. Langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam mobilnya. Karena terlihat Ruby terpancing dan hendak mengejarnya.
"Astaghfirullah.....!" Ali mengusap usap dadanya yang dari semalam selalu bergejolak karena tingkah sang istri yang semakin aneh saja.
"Sabar... Sabar...!" ucapnya masih mengelus dadanya.
Kini Ruby terlihat berjalan ke arahnya.
Ali kembali menggelengkan kepalanya. Semua serba salah.
"Siapa sekarang yang meninggalkan dan ditinggalkan. Bukannya kamu yang pergi tanpa pamit. Mana hapenya dimatikan." Ali tak mau harga dirinya diinjak injak lagi.
"Daya hape ku mati bukannya dimatikan." Kini Ruby menangis dengan sesenggukan, melempar kan mangkuk plastik yang ada di atas meja makan kepada Ali.
"Ya Ampun.. Kasar kali jadi wanita. Kalau gak marah marah, main kekerasan. Itu mangkuk, kalau pecah. Bakal kurang perabot di rumah ini " Ali meraih mangkuk plastik yang tergeletak di lantai. Dan menyimpannya di rak piring.
"Kalau istri nya hilang ya dicariin. Ini malah berduaan dengan wanita lain." Ujarnya kesal pada Ali.
Sikapnya Ruby lagi pagi sangat membingungkan.
"Emang kamu merasa jadi istriku?" tanya Ali, menantang tatapan tajamnya Ruby.
__ADS_1
"Gak!"
"Ya sudah, ngapain marah marah." Ucap Ali santai, ia kini fokus membuat teh untuk nya juga untuk Ruby.
"Ini semua gara gara kamu!" menunjuk nunjuk Ali kesal.
"Iya, iya.. Gara gara aku. Karena aku yang miskin dan cacat ini. Perlu kamu ketahui, kalau aku pria sempurna dan mapan. Kamu bukan seleraku, kamu bukan levelku. Sampai di sini kamu paham...!" Menatap tajam Ruby yang menantangnya.
"Oouuww... Kamu mengangapku gak berkelas?" kembali berkacak pinggang, mengajak ribut Ali.
"Kamu merasa? bagus sekali kalau kamu merasa. Jangan sombong, karena kamu belum ada apa apanya. Lihatkan ada wanita cantik, baik, kaya raya mau denganku. Kalau gak ingat balas Budi pada Haji Zainuddin. Sudah sejak lama aku ingin lepas dari pernikahan aneh ini." Ali menyodorkan safu gelas susu pada Ruby. Ya wanita itu setiap pagi minum susu
"Minum dulu, agar pikirannya jernih. Gak usah mikir macem macem. Aku ini pria tahu aturan. Bukan seperti kamu, istri jadi jadian. Sudah punya suami, masih mikirin mantan yang gak jelas dimana keberadaannya. Kualat kamu, dosa besar durhaka pada suami. Selama kamu masih jadi istriku. Sikapmu yang tak taat lada suami, adalah dosa besar untukmu." Jelas Ali tegas. Entah keberanian dari mana ia dapatkan. Bisa bicara panjang dan lancar kepada Ruby.
"Pernikahan kita ini gak serius. Kamu jangan nakut nakuti aku."
"Gak serius bagaimana. Pernikahan kita sah di mata agama." Ali melirik kesal Ruby yang masih berdiri di sisi meja makan. "Dan di dalam rahimmu sedang tumbuh anak kita."
Sontak Ruby memegangi perutnya.
"Jangan pernah kamu coba coba menggugurkannya. Karena aku bisa marah besar. Aku akan laporkan kamu ke polisi." Beranjak dari tempat duduknya. Setelah Ali menghabiskan minumannya. Ia pun akhirnya masuk ke kamar mandi.
Huuu...
Ruby mencak mencak di dapur itu. Ia merasa hidupnya tak asyik lagi. karena sang suami, sudah berani beradu argumen dengannya. Bahkan ia diancam segala, mau dipenjarakan.
"Ya Allah... Kenapa hidupku jadi hancur begini...?" Ruby menggaruk garuk kasar kepalanya yang memang terasa jadi sangat gatal.
"Keluar.... Keluar kamu...! Aku mau mandi
...!" Ruby yang belum puas bertengkar dengan Ali. Menggedor gedor pintu itu dengan penuh amarah.
"Sabar... Antri dong .!" Sahut Ali dari dalam.
__ADS_1
Ali akhirnya tahu sudah, trik mengatasi sikapnya Ruby yang semena mena padanya. Ya caranya, ucapan kasarnya Ruby tak usah diambil hati. Diplesetkan aja, biar jadi lucu.
TBC