
Ruby akhirnya menyadari keberadaan Ali di tempat itu. Hal itu membuat suasana hatinya jadi buruk. Ia tak mau semua temannya nanti akhirnya tahu, kalau ia sudah menikah dengan pria cacat dan miskin itu. Karena sebagian teman sekampungnya ada yang tahu kalau ia menikah dengan Ali. Tapi, sampai saat ini, pernikahannya belum dibahas sesama temannya. Kalau mereka melihat Ali ada di tempat itu juga, tentu akan jadi perbincangan.
"Sialan.. ngapain sih sipincang itu datang ke acara ini?" Ruby membathin, menatap ke arah Ali yang terlihat sedang bicara dengan temannya.
Selama dua bulan ditinggal Ali. Ia merasa hidupnya bahagia, karena matanya tak tercemari melihat suami cacatnya itu. Memang sepertinya kebenciannya pada Ali sudah berkarat akut.
"Ruby, dengar dengar kamu sudah nikah ya? koq gak undang undang sih?" celetuk teman seangkatan mereka, yang sekarang kerja di kota Medan.
Pertanyaan spontan seorang wanita bernama Mikha, membuat Ruby terkejut. Ekspresi wajahnya langsung berubah tegang. Ini hal yang ditakutinya, malah ada yang membahasnya.
"Katanya anak seorang pengusaha. Bener gak sih?" melemparkan pertanyaan kepada seluruh teman teman lainnya, mengerlingkan tatapan mata, sebagai tanda. Aksi membully akan segera dimulai. Yaitu membuat Ruby sebagai obyek perbincangan saat ini.
Ruby langsung melototkan matanya pada teman sekampungnya, yang tahu tentang kejadian saat pernikahan. Ia mencurigai pasti teman sekampungnya itu yang menceritakan tentang pernikahannya, yang tak jadi menikah dengan pria kaya dan tampan, tapi malah menikah dengan pria miskin dan cacat.
"Katanya sih begitu, tapi kenyataannya kan gak seperti itu?" ujar Rina salah satu temannya yang sok sok pura tak tahu, tapi nyatanya tahu semuanya.
"Tunggu, tunggu, koq aku jadi bingung dengarnya. Ceritain yang jelas dong!" ujar teman lainnya yang bernama Dina, pura pura bingung untuk membuat topik pembicaraan semakin menarik dan buat penasaran.
__ADS_1
Ruby semakin tak tenang. Memang acara reunian sering dibuat jadi acara gosip, ajang pamer kesusksesan dan lain sebaginya. Dan saat ini terlihat acara jadi lebih fokus cari kelemahannya.
"Emmm.... Apa hidupku sebegitu berarti nya hingga kalian begitu penasaran? kita kesini mau senang senang kan? mau kangen kangen nan dengan teman lama. Jadi please deh, kita gak usah bahas tentang perkuliahan bagi yang kuliah, pekerjaan bagi yang bekerja. Atau bahas suami atau istri, bagi sang sudah menikah." Jelas Ruby dengan senyum tipis. Ia sedang menyembunyikan keresahannya.
"Iya sih, tapi kan harus ada topik yang mau dibahas." Celetuk Mikha.
"Eehhmmm Aku permisi dulu. Aku mau jumpai ketua panitia. Untuk tahun depan, kita ubah saja konsep reuninya. Konsep yang lebih positif daripada gini acara gosip dan ajang pamer." Ujar Ruby, langsung pergi dari tempat itu, untuk menghindari banyaknya pertanyaan soal dirinya.
Harusnya acara reuni diadakan untuk hal positif. Seperti mengadakan bakti sosial sebagai kegiatan positifnya daripada membicarakan hal2 hal yang tidak penting - Sebisa mungkin menyembunyikan status sosialnya, minimal tidak terlalu mencolok - Merangkul kawan-kawannya yang kurang beruntung untuk lebih aktif dalam acara baksos tersebut , supaya mereka merasa benar-benar dibutuhkan, kalau perlu datangi rumahnya, dibujuk bahwa tenaganya benar-benar dibutuhkan. Sedikitnya itu akan membuat rasa percaya dirinya tumbuh. So, jangan biarkan acara reuni itu mempunyai nilai kurang, bukan ajang pamer, atau bukan ajang ngerumpi gak jelas begitu, tapi jadikan acara reuni itu memiliki nilai lebih, menjadi acara yang ditunggu-tunggu setiap orang, bermanfaat bagi peserta reuni dan bermanfaat bagi orang lain.
Ruby memilih pergi dari tempat itu. Rasanya berada di tempat itu sudah seperti neraka. Karena kehadiran Ali di acara itu.
"Hei Ruby, koq malah keluar?" ia kini tengah di hadang seorang pria yang dulunya Abang kelasnya.
Mereka sedang berada di lorong hotel. Ruby memerhatikan penampilan pria itu dari ujung kepala hingga kakie
"Eemm... Abang Roy, kamu juga koq disini?" tanyanya menatap malas Roy.
__ADS_1
Roy adalah pria yang sejak mereka SMA menyukai Ruby. Tapi Ruby tak suka sama sekali pada.lm Roy.
"Eemmm... Acaranya membosankan. Tadinya ingin pulang. Tapi, katanya di sana ada tempat nongkrong asyik. Kita ke sana saja yuk?!" Roy bicara sopan, sehingga cara bicara itu membuat Ruby penasaran.
"Tempat apa emang?' tanyanya ingin memastikan.
"Seperti club gitu."
"Gak, aku gak suka ke club'." Jawab Ruby cepat.
"Ya sudah kita karaokean saja. Tempat nya asyik juga, ada di rooftop."
Ruby nampak berfikir. Sepertinya nongkrong di rooftop hotel ini asyik juga. Mana viewnya pantai lagi.
"Baiklah...!" Ruby akhirnya mau menerima ajakan Roy, nongkrong di rooftop.
TBC
__ADS_1