
Ruby dipersilahkan duduk di kursi yang ada di beranda rumah megah itu. Ia diminta menunggu. Karena perlu dilaporkan kepada tuan rumah, kalau ada tamu ingin bertemu. Karena, sebelum nya Ruby belum. buat janji.
Ruby duduk di kursi empuk itu dengan tidak tenangnya. Ia tak sabar ingin mengetahui tentang Agam kekasihnya. Kenapa Agam tidak datang di hari pernikahan. Sedangkan orang tuanya saja datang. Dan kenapa orang tuanya Agam. Sejak hari itu juga tak bisa dihubungi olehnya.
Ia perlu tahu semua itu. Jikalau benar Agam, mengkhianatinya. Sudah menikah, seperti yang dikatakan orang tuanya dan Ali. Dia akan mencoba menerima kenyataan pahit itu. Tapi, hati kecilnya mengatakan Agam tidak mungkin mengkhianatinya. Makanya ia bersih keras, ingin tahu kabar tentang Agam.
"Ru-- by...!" suara wanita paruh baya, membuyarkan lamunannya Ruby Yang sibuk menduga duga tentang keadaan Agam.
"Bou." Ruby bangkit dari duduknya masih dengan perasaan berkecamuk. Ia menjulurkan tangan nya. Ibunya Agam yang bernama Siti, langsung menyambut tangan yang hendak bersalaman itu. Mereka pun akhirnya berpelukan. ( Bou, sebutan untuk ibu mertua dalam suku Batak Angkola. Ya saking dekatnya dengan ibunya Agam. Ruby sampai bertutur Bou pada ibunya Agam)
Keduanya kini duduk di bangku yang sama. Tangan kedua wanita itu masih saking bertaut. Ruby sangat dibuat penasaran dengan ekspresi ibunya Agam, yang terlihat sedih. Bahkan kedua mata wanita paruh baya itu sudah berkaca-kaca.
"Bou apa kabar nya?" tanya Ruby sopan. Ia tak boleh langsung menanyakan Agam sang kekasih.
__ADS_1
"Ya seperti yang kamu lihat sayang." Ujar Ibu Siti lemah, tapi ia tetap tersenyum pada Ruby. "Kamu kurusan sekarang. Apa kamu sedang hamil sayang?" memperhatikan lekat Ruby dari kepala hingga kaki. Wajar ibunya Agam bertanya seperti itu. Karena Ruby sudah menikah dengan Ali, selama lima bulan.
Ruby cukup terkejut mendengar pertanyaan ibunya Agam itu. "Bou, koq nanya seperti itu?" Ruby tak bisa menahan kesedihan di hatinya lagi. Ia harus tahu tentang Agam.
"Ya kamu sudah menikah, sangat wajar jikalau hamil." Ibu Siti masih menatap lekat Ruby. Menilai Ruby dari penampilannya. Bahkan wanita itu memperhatikan tangan Ruby, yang pembuluh darahnya saat ini terlihat sangat jelas.
"Gak bou, aku belum hamil." Ruby membuang pandangannya. Ia tak sanggup menatap ibunya Agam. Ia sudah ingin menangis saat ini. Ia juga sudah tak sabar ingin mengetahui kabar nya Agam.
Huufftt..
"Bou, Abang Agam di mana? kenapa tak ada kabarnya. Bou juga tak bisa dihubungi lagi, sehari setelah pernikahanku yang dipaksa itu." Ruby bertanya dengan air mata yang berderai.
Pertanyaan itu membuat Ibunya Agam, terlihat syok. Wanita itu malah terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
"A--pakah Abang Agam tak datang kepernikahan kami, karena ia punya wanita lain Bou. ?" Ruby menggoyang pelan lengan wanita yang terlihat syok di hadapannya. Ruby sudah tak sabar lagi ingin mengetahui segalanya.
"Bou.... Kenapa diam? apa yang terjadi sebenarnya?" Ruby terlihat histeris, terus menggoyang tubuh ibunya Agam, yang memilih membisu. "Apa nenek yang memaksa Abang Agam, tidak datang ke pernikahan kami. Dan menikahkannya dengan wanita pilihannya?"
Wanita paruh baya di hadapannya akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap lekat Ruby. Mulutnya terlihat terbuka, ingin mengatakan sesuatu. Tapi, bibir wanita itu kembali mengatup.
"Aku ingin penjelasan Bou? di mana Abang Agam, apa dia di rumah ini?" Ruby bangkit dari duduknya. Berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Abang... Abang Agam...! kamu di mana? tolong jelaskan semuanya padaku?" berteriak-teriak di dalam rumah megah itu. Ruby seperti nya sudah kehilangan kewarasannya.
"Ruby.... Kamu di sini..?" suara pria itu terdengar dari lantai dua. Ruby langsung mendongak.
TBC
__ADS_1
"