
Ali jadi tak tega melihat Ruby yang terduduk dengan berderai air mata menatapnya dan sang putri dengan sedihnya. Ia mendekati Ruby, mencoba menurunkan sang putri dari gendongannya, tapi Aysha tak mau lepas.
"Kamu berdirilah, kita bicara dengan pikiran tenang." Ali yang masih memegang Aysha dalam gendongannya, tentu saja tak bisa membantu Wanita itu bangkit. Karena ia hanya punya satu tangan.
Ruby dengan sekuat tenaga yang ia punya, mencoba bangkit dan mendudukkan tubuhnya di sofa yang ia duduki tadi. Ia masih menangis sesenggukan.
"Soal Aysha yang sikapnya tak baik tadi. Kamu gak usah masukkan dalam hati. Seiring berjalannya Waktu, ia juga nanti akan tahu kalau kamu adalah ibunya. Aku tak ada niat untuk buat kamu menderita, aku bawa Aysha pergi dari hidupmu, agar kamu bisa bahagia dengan pria yang kamu cintai itu. Kalau ternyata kamu tidak jadi kembali padanya, dan menyalah kan aku lagi. Maaf ya Ruby. Aku tak akan terima atas sikapmu yang menyalahkan aku lagi.
"Kalau benar kamu telah memilihku. Harusnya kamu cerita padaku. Apa tujuanmu masih tetap bersikap baik pada Agam." Jelas Ali datar.
"Aku pikir kamu baik baik saja, karena kamu tetap baik padaku dan tak menanyakannya." Tegas Ruby dengan ekspresi wajah sedihnya.
Hhuufftt...
Ali menghela napas berat. Ia kini kembali duduk di sofa dengan sang putri duduk di pangkuannya. Munculnya Ruby hari ini cukup membuat pikiran nya pusing. Apalagi dengan pernyataan Ruby yang mengatakan Wanita itu memilih nya, bukan Agam. Ada kesalah pahaman diantara mereka. Ia juga salah, tak ada kesabaran dan langsung main pergi bawa putri mereka.
"Tidak, aku tak pernah baik baik saja. Apalagi dengan pertemuan kita hari ini."
"Aku dan Ali akan menikah!"
__ADS_1
Khairiah muncul, langsung memotong ucapan Ali.
Wanita itu takut Ali kembali pada Ruby.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu sekarang Ruby? Kamu sudah ditalak Ali, kenapa kamu gak kawin aja sama kekasihmu."
Ruby tentu saja tak suka mendengar ucapan Khairiah. Tapi, ia bisa apa. Ia memang salah juga. Jadilah ia memilih diam.
"Ini urusanku dengan Ruby. Sebaiknya kamu gak usah ikut campur." Ali menatap lekat Khairiah yang kini berdiri di sebelahnya, dengan wajah masamnya.
"Gak pernah kamu kapok, masih saja kamu lemah kalau sudah berhadapan dengannya." Menjawab kesal ucapan Ali, dan melirik Ruby dengan masam. "Ayo sayang, ikut mama..!" Khairiah mengambil Aysha dari pangkuan Ali. Meninggalkan tempat itu dengan kesalnya. Kehadiran Ruby, pasti akan menghancurkan mimpinya yang tinggal menunggu hari akan terwujud.
Tak ada alasan untuk tidak mau menerima kembali Ruby, jika memang wanita itu masih mau membina biduk rumah tangga dengannya. Karena Sudah ada Aysha yang jadi pengikat mereka. Walau Khairiah baik, ia tak ada rasa spesial pada wanita Itu. Di hatinya memang hanya ada Ruby.
"Aku tahu aku salah, aku tahu diri. Aku akan pergi." Ruby bangkit dari duduknya. "Jikalau Aysha besar nanti, mengerti dengan masalah orang dewasa. Katakan padanya. Bahwa akulah ibunya, bukan Khairiah." Ujarnya dengan berderai air mata, tak sanggup menatap Ali. Ia sungguh malu, karena anak sendiri membencinya. Bahkan mengatakannya orang gila. Ruby menarik diri. Ia tak mau merusak kebahagiaan Ali lagi.
Ucapan Ruby membuat Ali sedikit geram dan gemesh. Tadi bilangnya milih dia, tapi kini kenapa malah ingin pergi.
"Kalau kau ingin pergi, kenapa kamu muncul lagi. Maumu Apa sih?" ujar Ali dengan nada penuh kekecewaan. Kenapa istrinya itu sangat gengsi menawarkan diri untuk rujuk lagi dengannya.
__ADS_1
Keduanya beradu pandang. "Aku ingin kita bersatu lagi. Tapi, sepertinya itu tak mungkin lagi. Selama dua tahun ini aku hidup dibayang bayangin oleh kesalahanku padamu. Sikapku yang kasar padamu, ucapanku yang tajam itu membuatku jadi membenci diri sendiri. Harusnya aku bersikap biasa saja padamu. Jadi, disaat kita berpisah, aku tak merasa bersalah seperti ini. Tapi, melihatmu hidup bahagia dan sukses. Aku, aku harus tahu diri. Seperti yang kamu katakan dulu, kalau kau jadi orang sukses, aku bukanlah tipemu." Bicara dengan mengelus dadanya yang masih sesak dan berdebar debar itu.
Ruby memang sudah memutusakan ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Ali. Bahkan disaat Agam sudah sembuh total. Ia tak mau kembali pada pria itu. Tapi, jika kesalah pahaman membuat mereka harus berpisah. Ia ikhlas, karena ternyata Ali sudah sukses. Setidaknya ia bisa tenang, putrinya itu hidup dengan sangat baik. Tadinya Ruby mengira, Ali akan hidup dalam kemiskinan. Makanya ia terus mencari keberadaan Ali dan sang putri. Dan tak diduga, mereka malah bertemu di kota jakarta. Disaat Ruby sedang ada urusan pekerjaan daei kantornya.
"Kalau benar merasa bersalah, kenapa tak minta maaf!"
Ruby menghentikan langkahnya mendengar ucapan tegasnya Ali. Ia pun membalik tubuhnya yang lemah itu. Air mata masih saja mengalir deras dari mata indahnya. Kenapa pria itu bersikap seolah masih mengharapkannya? haruskah ia yang harus mengemis cinta? kalau Ali ingin seperti itu. Ia akan buang ego dan memohon lada Ali, agar mereka kembali rujuk.
"Maafkan semua kesalahanku!" mengatupkan kedua tangan di hadapan Ali dengan penuh rasa bersalah yang dalam. "Beri aku kesempatan sekali lagi, untuk jadi istri dan ibu yang baik."
Ruby berlutut di hadapan Ali. Pria itu jadi tak tega melihatnya. Dengan kikuknya, Ali meminta Ruby bangkit. Entah kenapa ia merasa jadi salah tingkah, saat tangannya menggenggam tangan Ruby, saat ia membantu wanita itu untuk bangkit.
"I--ya." Jawabnya dengan mengulum senyum. Ia merasa sangat bahagia sekali. Jujur Ali sangat mencintai Ruby. Dikasari saja ia tetap sabar. Apalagi jikalau sang istri sikapnya lemah lembut seperti ini. Mana bisa dia menutupi perasannya.
Baginya Ruby adalah dewi penolong. Saat pertama kali Haji Zainuddin membawa nya ke rumah. Ruby lah yang langsung memberikan Ali makan. Saat itu sifatnya Ruby sangat baik padanya. Dan itu bertahan hingga Ruby kelas 9. Setelah Ruby masuk jenjang pendidikan tingkat SMA. Sikap wanita itu mulai berubah. Ia tak jadi teman mainnya lagi.
Kebaikan Ruby disaat remaja itulah, yang membekas dalam di sanu barinya. Ia begitu mencintai wanita itu. Sejak ia merasakan yang namanya suka kepada lawan jenis. Sering ia berdoa, agar bisa berjodoh dengan Ruby. Dan saa Haji Zainuddin memintanya menikahi Ruby. Tentu ia sangat senang waktu Itu. Tapi, ia gamang sekali. Apalagi Ruby menunjukkan sikap permusuhan.
TBC
__ADS_1