
Hubungan pasangan suami istri itu semakin hari semakin membaik. Apalagi Ruby sudah bisa merasakan ketulusan hatinya Ali. Wanita itu juga gak merasa malu lagi, jikalau jalan bareng dengan Ali. Baik ke kondangan, maupun di tempat keramaian lainnya.
Pagi ini mereka sedang mengantarkan Haji Zainuddin dan Mama Nisya untuk berangkat umroh. Titik kumpul jemaah itu di Mesjid Raya Sibolga. Kemudian peserta umroh bertolak ke Kota Medan dengan naik bus. Dan Dari kota Medan menuju tanah suci, naik pesawat melalui bandara internasional Kuala Namu.
"Kenapa ayah dan mama jadwal berangkat umrohnya disaat aku sudah dekat mau lahiran." Ujar Ruby sedih, menatap lekat Ali yang duduk di sebelahnya. Kini mereka sudah di perjalanan mau pulang ke rumah. Ada Fauzan yang jadi supir pribadi.
"Kan lebih capat lebih baik. Lagian di sana mereka hanya dua belas hari." Ali menyeka air mata sang istri. Walau Ali marasa masih canggung melakukan hal romantis itu. Ia tetap menepis rasa canggung itu. Semoga dengan lahirnya putri mereka. Ruby bisa melupakan Agam dan menerimanya jadi suami seutuh nya.
"Iya sih, tapi kalau aku lahiran mendadak gimana? siapa yang akan urus aku nanti." Ujar Ruby sedih.
"Heeii... Itu anakku, ya akulah yang akan urus kamu." Ali tersenyum lebar pada Ruby.
"Mana mungkin itu, nanti yang mandikan aku siapa?" Ya, Ruby dan Ali memang sudah kompak. Tapi, mereka belum pernah kontak fisik secara intim. Jadi, Ruby sedikit malu, jika setelah lahiran. Ali yang kawani dia ke kamar mandi.
"Bahas begituan di kamarlah, saat kalian lagi berduaan. Gak kasihan kalian lihat aku yang dari tadi kupingku terasa panas." Celetuk fauzan, melirik Ali dan Ruby dari spion.
__ADS_1
"Maaf ya Zan!" Ujar Ali tersenyum tipis. "Makanya kamu kawin." Timpalnya lagi.
Huufftt
Belum ada modal Ali. Kamu tahu sendiri. Gadis sekarang maharnya susuai dengan tingkat pendidikannya. Gak mungkin kan aku cari istri buta huruf." Jelas Fauzan dengan frustrasinya.
"Iya, sabar aja. Aku yakin, nanti juga kamu akan dapat jodoh yang baik." Ujar Ali, kini penglihatannya fokus ke badan jalan.
"Iya, semoga aku dapat istri yang hatinya tidak mencintai pria lain."
"Emang kamu masih mencintai pria lain?" tantang Fauzan, menatap tajam melalui spion kepada Ruby yang juga melotot padanya.
Nyutt...
Rasanya hati Ali berdarah tanpa disayat. Sakit... Dan perih. Benar Ruby masih mengharapkan Agam. Padahal mereka tinggal menunggu hari, agar dapat melhat sang putri lahir ke dunia.
__ADS_1
Ruby melirik Ali yang kini wajahnya mendadak murung. Tahu ucapannya salah. Ruby malu sendiri, dia pun memilih diam, dengan pandangan fokus ke badan jalan.
Dan kini tak ada suara di dalam mobil itu. Hanya deru mesin mobil yang terdengar jelas.
Sesampainya di rumah orang tuanya Ruby. Ali dengan cepat membantu Ruby melepas kaos kaki istrinya itu. Karena perut buncit menghalangi menjangkau kakinya. Sebenarnya sih ia bisa melakukannya. Tapi, agak susah. Ali yang tak mau melihat istrinya itu susah, selalu membantu Ruby memakai kaos kaki atau sepatu.
"Aduuhhh.. Perutku koq mules ya Al..?!" keluhnya, saat hendak beranjak dari tempat duduknya. Ya tiga hari terakhir ini Ruby sering mengalami perut mulas seperti kontraksi. Tapi, kata ibu bidan itu kontraksi palsu. Karena diperiksa alat kela-minnnya Ruby, belum ada bukaan untuk lahiran. Lagi pula usia kandungannya masih 38 minggu. Kata bidan normalnya sih 40 minggu anak lahir. Walau ada juga sebenarnya di kehamilan 38 minggu sudah lahiran. Dan tanda tanda mau melahirkan pun tak ada seperti air, darah atau lendir.
Makanya Ruby sedih, disaat ia mau lahiran. Orang tua nya malah pergi umroh.
"Aduuhh... Sakit...!" Wajahnya meringis kesakitan. Ali dibuat panik. Ia memegang perutnya Ruby. Membacakan ayat suci Al -Quran.
"Jangan lagi kamu mengaji di perutku, sepertinya aku mau lahiran ini...!" Ujar Ruby lemah. Rasanya tiba tiba koq sakit sekali.
TBC
__ADS_1