Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Hikmah


__ADS_3

"Eemmmm.. Seminggu lagi, aku dapat cuti. Maukah kamu temani aku ke kota Medan? aku mau cari langsung Abang Agam ke rumahnya."


Deg


Permintaan macam apa itu? seorang suami mengantarkan sang istri kembali pada pacarnya. Aneh....


Ali diam membisu, tidur masih membelakangi Ruby. Ternyata istrinya itu baik baikin dia dari tadi pagi, karena ada maunya.


Sabar....


Sabar..


Ali mengusap lembut dadanya yang terasa sesak dan sakit itu. Sesakit ini mencintai orang yang tak menyukai kita. Bicaranya asal asalan, sungguh tak mau menjaga perasaan orang lain


"Ali.... Sebenarnya aku bisa pergi sendiri ke kota Medan. Jikalau kamu tak mau. Tapi, aku, aku merasa kurang aman."


Hiks


Hiks


Hiks


Ruby kembali terisak, yang mendengar nya pasti jadi ikutan sedih.


"A--li... Ka--mu mau kan?" bicara dengan tersedu sedu.


"Iya, terus kalau pria yang kamu cintai itu ternyata tak menginginkan kamu lagi. Misal, ia telah menikah, bagaimana?" Ujar Ali, ia kembali membalik badannya menghadap ke arah Ruby yang tengah duduk di atas ranjang.


Hua...


Hua..


Hua..


Bukannya dijawab malah menangis. Ali jadi kesal melihat sifat cengeng nya sang istri. Kirain mentalnya kuat, karena kan Ruby sikapnya bar bar.

__ADS_1


"Aku yakin, ia belum menikah." Masih bivara sambil menangis.


"Baiklah, aku akan temani kamu." Ali kembali membalik badannya, membelakangi Ruby.


Huufftt


Ruby bisa melihat kalau Ali sedang menarik napas berat. Karena punggung pria itu terlihat naik turun.


"Kalau ia benar benar mengkhianatiku, mungkin tak ada gunanya lagi aku hidup." Ujar Ruby lirih.


"Kalau manusia bodoh ya mikirnya gitu. Hanya karena pria asing, mau bunuh diri. Gak mikirkan perasaan orang tuanya. Ya bagus jugalah kalau kamu mikirnya begitu. Aku juga jadi bebas dari pernikahan menyiksa yang penuh sandiwara ini."


Deg


Nyut..


Kali ini ucapan Ali terasa menyayat hati. Ruby yang tadi menangis dengan penuh ratapan. Kini melap air matanya dengan terbengong.


"Gara gara pria tak jelas, kamu mau menghancurkan hidupmu sendiri. Dasar cinta... Penderitanya tiada akhir..!" Pungkas Ali dengan nada menyindir.


"Yang ku alami lebih parah. Aku dipaksa menikah dengan wanita yang tak mencintaiku. Setiap hari aku dihina hina, karena aku cacat dan miskin. Apa kamu pikir itu tak sakit? itu sakit, sangat sakit. Tapi, aku tak mau terpancing. Karena aku tahu diri. Sudah hukum dunia memang, orang miskin itu direndahkan!"


Tubuhnya Ali bergetar saat mengatakan itu semua. Ia masih memilih memunggungi Ruby. Ia malu menunjukkan wajah sedihnya.


"Berarti kamu belum memaafkan aku?" kali ini bicara Ruby melemah.


"Kalau aku tak memaafkan kamu. Mungkin kamu sudah berjumpa dengan malaikat mungkar nakir."


"Apa...?"


Ruby bergidik ngeri mendengar jawaban Ali. Ia baru menyadari sikapnya yang sangat jahat itu.


Memang benar, banyak sekali kasus pembunuhan karena dendam sakit hati. Baru juga ia membaca berita. Seorang pelayan membunuh majikannya. Karena dihina terus.


"Ali maafkan aku ya? aku waktu itu khilaf. Aku tak akan mengulanginya lagi. Kamu jangan dendam ya? aku belum mau mati."

__ADS_1


Ali jadi mau tertawa mendengar ucapan sang istri yang terdengar penuh ketakutan itu.


"Tadi katanya milih mau mati, jika Abang Agamnya berkhianat. Sekarang kenapa jadi takut mati." Celetuk Ali, mengulum senyum. Malam ini suasana hatinya benar benar rasa nano nano.


"Gak, gak jadi. Aku masih sayang ayah dan mama."


Tok


Tok


Tok


"Ali .... Ruby ... Kalian sudah tidur? air masuk ke dalam rumah.. Banjir...!" teriak haji Zainuddin di balik pintu kamar mereka.


"Apa....?" Ali bangkit, ia pun tersadar. Kalau sebenarnya air sudah masuk ke kamar mereka. Tapi, masih sedikit. Bahkan Alas tidurnya sudah meresap air.


"Astaga.... !" Ali dengan cepat melipat ambal alas tidurnya tadi, yang sudah basah. Kamarnya sudah kemasukan air, tapi masih sedikit.


Ali keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, begitu juga dengan Ruby.


Mereka bekerja memindahkan barang barang yang rentan rusak, jikalau kena air. Satu jam mereka beres beres rumah yang kemasukan air itu. Rumah mereka yang kemasukan air tidak lah tinggi. Hanya ketinggian 5 cm.


"Ayo kita tidur lagi, karena besok pagi. Kita butuh energi extra untuk bersih-bersih " Ujar Haji Zainuddin. Merangkul mama Nisya UN masuk ke kamar.


Sepeninggalan kedua orang tuanya. Ruby akhirnya masuk ke kamarnya. Tentu saja diikuti oleh Ali.


Sesampainya di kamar itu. Dia malah berdiri dengan bengongnya. Karena ia sedang mikir, mau tidur di mana?


"Ranjang ini masih cukup, kalau kamu mau. Kamu bisa tidur di sini." Ruby menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Ali yang memang sudah kantuk. Tak banyak komentar lagi. Ia menyeret kakinya yang gemetar itu ke arah ranjang. Jujur ia nervouse sekali saat ini. Ruby mengizinkannya tidur seranjang dengannya


"Aku buat pembatas ya. Aku takutnya nanti kakiku melayang ke kamu, jika tak dibuat pembatas." Ujar Ruby lembut, membuat guling sebagai pembatas mereka di tengah.


Ali yang gugup, hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ruby. Kemudian pria itu melirik Ruby yang tidur telentang dengan kedua tangan saling tertaut di atas perut. Ali sempat mikirnya ia bakal di punggungi. Ternyata tidak.

__ADS_1


TBC


__ADS_2