
Saat ini Ali merasa sangat bahagia sekali. Senyum lebar tak pernah lepas dari wajah tampannya. Hal itu disebabkan karena Ruby mau makan satu wadah dengannya sore tadi. Bahkan mereka menggunakan sendok yang sama. Hanya saja tak suap suapan seperti yang dilakukan oleh mertuanya. Rasa bahagia itu membuat Ali sangat euforia dan itu berlanjut hingga malam.
"Bapak sudah kantuk banget ini Ali. Main caturnya dilanjutkan besok saja." Hajime Zainuddin kembali menguap setelah mengakhiri permainan caturnya dengan Ali. Dan pria itu malah langsung bangkit dari duduknya.
"Oouuww.. iya pak." Sahut Ali sopan, masih dengan senyum mengembang, menyimpan catur pada tempatnya.
Malam ini, Ali terus saja kalah dalam main catur. Biasanya kalau haji Zainuddin mengajak nya main catur, dia selalu menang. Ia sedang tak konsentrasi, karena asyik melamun kan kejadian di pondok saat makan mie bareng Ruby. Ali merasa moment itu sangat lah romantis. Apalagi Ruby sesekali tersenyum padanya. Walau kadang ekspresi wajah sang istri mendadak berubah, disaat melihat ke arah tangannya.
Kejadian sore tadi, sangat menambah kadar cintanya Ali pada Ruby. Seperti nya rasa cinta yang ia rasakan, sudah seperti bunga yang dapat tumbuh dan berbunga tanpa bantuan musim.
"Kenapa malah bengong di situ? emang gak mau tidur?" Haji Zainuddin yang baru keluar dari dapur, menegur Ali yang bengong di depan kamarnya Ruby. Sontak Ali dibuat terkejut. Ali pikir ayah mertuanya itu sudah tidur.
"I--yaa pak, ini mau tidur " Ujarnya tergagap, menekan cepat handle pintu kamar itu, Karena grogi. Dan ia pun menutup cepat pintu itu.
Huufftt...
__ADS_1
Ali merasa bulu kuduknya meremang saat ia memasuki kamar istrinya itu. Ia yakin, Ruby yang sedang ia belakanginya menatapnya intens. Mungkin dengan penampilan sexynya. Karena Ruby punya kebiasaan tidur dengan pakaian sedikit minim. Ia
Dug
Dug
Dug
Debaran jantung sudah tak bisa diajak kompromi, saking nervouse nya ia satu kamar dengan istrinya itu.
Dooorr...
Ali sangat terkejut saat mendengar suara sang istri. Ia sampai merasa sedang ditembak dengan senpi dan tepat di jantung hatinya.
Dengan debaran jantung yang tak teratur ia memutar tubuhnya yang terasa kaku.
__ADS_1
"Iya nih, aku gak tahu mau tidur di mana. Kamar yang ada di mesjid sudah di tempati Irul dan Fauzan." Jawab melirik lirik Ruby yang sudah duduk dengan berselonjor di atas ranjang. Sedangkan Ali masih membeku di depan pintu kamar itu.
"Ya sudah tidur di sini saja. Tapi, maaf mungkin kita belum bisa tidur satu ranjang." Ujar Ruby datar. Ia memang tipe wanita yang tak bisa membohongi hatinya. Saat ini, ia merasa tak nyaman tidur seranjang dengan Ali. Makanya ia tak mau Ali tidur di ranjang yang sama dengan nya.
"Ya gak apa apa. Aku sudah biasa koq tidur di lantai." Kini ekspresi wajah bahagia itu berubah jadi mendung. Tadinya Ali beranggapan Ruby sudah mau menerimanya. Ternyata ia terlalu jauh berharap.
"Bukan seperti itu. Aku itu tidurnya lasak. Aku gak mau kamu nanti kena imbasnya." Jawab Ruby sedih, memperhatikan Ali yang tengah menggelar ambal di ruang kamar itu.
Sebenarnya soal tidur lasak bukanlah masalah buat pasangan yang saling mencintai. Karena hal seperti itu malah membuat pasangan itu lebih romantis. Tapi kan mereka bukan pasangan yang saling mencintai.
Ruby juga masih merasa risih jika dekat dekat dengan Ali. Tapi, entah kenapa, ia akhir akhir ini merasa sangat kasihan pada suaminya itu. Ia merasa sudah sangat jahat sekali. Karena sikapnya yang dahulu.
"Iya, aku tahu maksudmu Ruby. Gak apa apa koq. Diizinkan tidur di kamar ini. Aku sudah senang." Jawabnya tersenyum tipis. Membaringkan tubuhnya di atas ambal itu sambil menghela napas berat. Ia harus memperbanyak sabar dalam menghadapi sang istri, yang dengan terang terangan menunjukkan sikap tak suka padanya.
Ruby yang sensitif dan sangat emosional tak menanggapi ucapan Ali lagi. Ia pun akhirnya memutuskan untuk tidur saja.
__ADS_1
TBC