
Ali sangat mencintai Ruby sejak dulu. Bahkan ia sering meminta pada Allah, agar bisa berjodoh dengan wanita itu. Doanya terkabul, walau untuk mendapatkan cinta sang istri, dia harus banyak berkorban. Tentunya di sini lebih banyak berkorban perasaan. Karena ia terus saja dihina oleh Ruby.
Pagi ini keluarga besar Ali, bertolak ke kampung. Karena di sana akan diadakan lagi pernikahan antara Ruby dan Ali. Agar mereka kembali bersatu, tak bisa hanya dengan rujuk. Karena Ruby sudah ditinggalkan Ali lebih dari setahun. Yang bisa rujuk itu, hanyalah suami mentalak istri yang masih dalam massa Iddah.
Ya, Ali menuliskan kata talak di secarik kertas. Karena ia ingin memberikan kebahagiaan pada sang istri, agar bisa menikah dengan Agam. Tapi, ia hanya mentalak satu Ruby. Ia melakukan itu, karena ia merasa sangat berat untuk berpisah dengan wanita itu.
Ali dan Khairiah juga tak pernah melakukan pertunangan atau ada rencana untuk menikah. Karena Ali tak pernah mengutarakan niat untuk menikah dengan wanita itu. Tapi, khairiah selalu berusaha mengambil hati Ali.
Bisa dikatakan Ali traumah berurusan dengan hal asmara. Berurusan dengan satu wanita saja sudah buat hidupnya pusing dan minder, terkait cacat fisik ia alami. Dan jikalau ia menerima ajakan Khairiah untuk menikah, padahal hatinya masih tertaut pada Ruby. Itu tidaklah baik untuk kedepannya dan tak bisa dipungkiri nantinya akan selalu ada masalah. Apalagi ia sudah punya buah hati dari pernikahan nya bersama Ruby.
Haji Zainuddin dan Mama Nisya dibuat terkejut dengan kembalinya Ali. Doa doa nya selama ini diijabah Allah.
"Ali.... Terima kasih sudah mau kembali pada Ruby." Tangis haji Zainuddin pecah dalam pelukan Ali setelah acara ijab kabul selesai.
Tak hanya ayah mertuanya yang menangis. Ruby tak kalah emosional nya saat ini. Air matanya tak bisa dibendung lagi, mengucur deras membasahi pipinya. Ia merasa sangat sedih. Semua peristiwa yang dulu, sikap jahatnya pada Ali melintas di pikirannya. Hal itu membuat malu pada sang suami.
Ruby yang emosional itu, malah meminta maaf lagi kepada Ali di depan keluarga besar dan para saksi. Ia sungguh telah menyadari sikapnya yang salah selama ini. Harusnya hanya acara menyalin suami dan sang suami mencium kening dan ubun ubun sang istri. Tapi, kali ini malah ada acara maaf maafan yang menguras emosi.
"Iya, aku memaafkanmu istriku. Dan aku juga minta maaf. Karena aku sadar, aku juga dulu bukan suami yang baik."
Hua
Hua
Hua
Tangisnya Ruby semakin pecah. Ia langsung memeluk Ali dengan berderai air mata.
"Ayah.... Ayah...! takyut....!"
Aysha yang tadinya ada dalam genggaman sang nenek, ibunya Ali. Kini menghampiri kedua orang tuannya itu. Menarik jas yang dikenakan Ali. Mengaduh pada ayahnya itu. Kalau ia merasa takut, melihat ayahnya dipeluk Ruby yang menangis histeris itu. Aysha sangat takut melihat orang yang menangis.
__ADS_1
"Sini sayang..!" Ruby meraih Aysha dalam gendongannya. Tapi, Aysha menolak mentah mentah. Karena ia belum merasa nyaman dengan Ruby. Mereka baru kemarin bertemu. Aysha belum percaya kalau Ruby adalah ibunya.
Hua..
Hua .
"Mana Mammah Khai..? mana Mamma Khai, ayah....?" rengek Aysha pada sang ayah dengan berderai air mata. Aysha sangat kehilangan Khairiah, yang sejak tadi pagi tak diihatnya, mulai dari berangkat dari Jakarta ke kota Sibolga, tepatnya di kampung mereka.
"Mam Khai kerja sayang " Ujar Ali dengan senyum bahagia nya. Akhirnya keluarga kecilnya bersatu juga.
"Kelja? berarti entar lagi pulang? ini kan sudah soree ayah.?" ujarnya dengan ekspresi wajah kembali ceria. Karena senang, sebentar lagi Mam Khairiyah nya pulang kerja. Dsn mereka akan bermain bersama.
"Iya sayang." Jawab Ali, mencium gemesh putrinya yang cantik dan sangat pintar itu.
Malam harinya acara pun berlanjut, yaitu acara syukuran serta minta doa, atas dilangsungkan nya kembali pernikahan Ali dan Ruby. Sejak mulai acara. Aysha tak mau lepas dari sang ayah. Jadilah Ali membawakan acara minta doa itu, dengan membawakan Yasin dan tahtim, sedangkan Haji Zainuddin bawakan tahlil dan Doa.
Aysha yang pintar nya kebangetan sudah hapal sepuluh suroh pendek. Bahkan ia bisa mengikuti bacaan suroh Yasin. Padahal ia baru berusia dua tahun. Kenapa bisa seperti itu, karena ia punya ayah yang mendidiknya dengan baik. Sejatinya anak anak pertama kali mendapat didikan dari kedua orang tuanya. Jika anak sudah terdidik dalam keluarga, maka niscaya anak itu akan berprilaku baik. Dan di sini peran ayahlah yang sangat dibutuhkan. Baik buruk nya seorang anak itu, tergantung didikan sang ayah.
"Ya ibu memang harus tidur denganmu sayang " Memeluk sang putri gemes yang memunggungi nya.
"Iihh... Leppas... Gak mau dipeluk ibu ballu. Gak enak, gak nyaman." Keluh anak kecil itu berontak dari pelukan Ruby. Ia pun langsung memeluk sang Ayah. Saat ini Aysha ada di antara kedua orang tuanya.
"Eemmmm... Ya DECH. Kalau begitu Ibu peluk ayah saja." Ruby berpindah tempat ke belakang Ali. Ia pun memeluk Ali dari belakang.
Suuuurrr..
Dag
Dig
Dug
__ADS_1
Jantung nya Ali berdebar kuat. Ia pun mematung sudah. Terkejut dengan sikap Ruby yang memeluknya tanpa ada rasa canggung itu. Padahal ia masih merasa enggan pada Ruby. Masih ada ras takut mendekati sang istri. Takut kena amuk, kena sambar macan betina. Maklum lah sudah dua tahun berpisah. Tiba tiba nikah dan sekamar. Tentu rasanya jadi sangat mendebarkan.
Aysha memperhatikan wajah sang ayah yang tegang. Ia beranggapan Ali tak suka dipeluk Ruby.
"Iihh... Ayah takut Bu. Leppas.,...!" menjauhkan tangan Ruby yang membelit perut sixpack nya Ali.
Deg
Ruby pun tersadar, mungkin suaminya itu belum memaafkan nya. Siapa tahu Ali mau menerimanya, karena kehadiran Aysha dalam pernikahan mereka.
"Iihh.. Lepasin ayah..!"
Ruby pasrah saja disaat tangan nya dijauhkan sang putri dari tubuh sang suami. Bahkan ia menarik diri. Jadi terdiam seribu bahasa.
Ali tahu Ruby tersinggung. Ia pun akhirnya mengubah posisi tidurnya dari miring jadi terlentang. Melirik Ruby yang terlihat sedih.
"Ayah... Lihat aku, Pelluk akyu..Ayyah...!" rengek Aysha, cemburu sudah ia. Karena sang ayah terus saja menatap ibu baru.
"Eemm . Iya sayang..!" Aysha yang ada di sebelah kanannya Ali, merentangkan tangan kanannya itu. Dan dengan cepat Aysha bergelung manja berbantal tangan sang ayah. Ali pun memeluk Anaknya itu gemes. Ruby sangat terharu melihat kedekatan Ali dan putri mereka. Sungguh Ali pria yang sangat baik. Ayah yang baik tentu suami yang baik juga.
"Aku hanya punya satu tangan, saat ini aku tak bisa peluk kamu. Tapi, aku sangat ingin dipeluk kamu seperti tadi." Ujar Ali dengan mata berkaca-kaca.
Air mata Ruby langsung mengucur deras. Ia menangis dan langsung memeluk Ali. Memasrahkan kepala nya di atas dada bidangnya Ali.
Tangan kanannya Ali yang dibuat Aysha sebagai bantal, berusaha menggapai kepala sang istri. Ia pun membelai kepala nya Ruby lembut.
"Jangan menangis, nanti Aysha jadi takut. Nanti saja nangisnya kalau Putri kita sudah tidur." Ujar Ali lembut. Ia menggerakkan kepalanya menjangkau kepala Ruby dan mengecup nya. Kekakuan Ali yang romantis membuatnya senang. Sedangkan Aysha dibuat bingung dengan ucapan dan kelakuan sang ayah terhadap Ruby.
"Ayyahh.. Koq cium kepala ibu ballu. Sama Mamah khairiah, gak pernah ciuman." Celetuk Aysha, heran dengan sikap sang ayah pada Ruby sang ibu baru.
TBC
__ADS_1