
Hari ini, acara tujuh bulanan kehamilan Ruby tengah berlangsung di rumah orang tuanya. Harusnya acara itu dilaksanakan di rumah orang tuanya Ali. Tapi, karena Ali tak punya orang tua. Jadinya diadakan di rumah Haji Zainuddin.
Acaranya sangat sederhana mengusung adat Batak angkola. Dihadapan kedua pasangan suami-istri yaitu Ali dan Ruby telah terhidang makanan pangupa upa, yang dikemas di talam besar, kemudian ditutup dengan daun pisang, serta diikat dengan tali rapia warna kuning dan ditengahnya dihiasi bunga kertas.
Nasehat demi nasehat dari kedua orang tua, tokoh agama dan adat, telah didengarkan seksama oleh Ali, begitu juga dengan Ruby. Pasangan suami istri terlihat memaknai dengan dalam, nasehat dan petuah dari orang yang ditua kan itu. Dimana mereka akan melakoni peran baru yg tentunya lebih menantang dan penuh tanggung jawab. Yaitu akan menjadi orang tua.
Mendengar nasehat nasehat itu cukup membuat Ali cemas penuh kekhawatiran. Karena dalam pernikahan mereka, hanya ialah yang serius melakoninya. Memikirkan itu semua cukup membuat kepalanya sakit pusing tujuh keliling.
"Tumben kamu datang kesini Ali?" Fauzan mendudukkan bokongnya, setelah membuka pintu untuk Ali. Saat ini Ali sedang bertamu ke tempatnya Fauzan.
Ali tak menanggapi cepat pertanyaannya Fauzan. Ia malah melorotkan tubuhnya di lantai kamar itu. Ekspresi wajah putus asa jelas tercetak.
"Kamu kenapa? berantem dengan Ruby?" menilik Ali dengan kening mengerut. Baru juga tadi siang, kalian suap suapan di acara tujuh bulanan. Lah sekarang sudah berantem."
"Aku gak bertengkar dengannya Fauzan." Sahut Ali lemas.
"Terus kamu kenapa?"
"Kapan ya kita bisa jadi orang kaya?" ujar Ali dengan mata menerawang.
__ADS_1
Hahaha..
"Pak Ustadz? kamu gak lagi oleng kan? bukannya kamu yang selalu nasehati aku. Jangan biarkan dirimu mengejar dunia, biarlah dunia yg mengejarmu. Ketika kau kejar akhirat maka dunia akan mengikuti. Apa yang ada di dunia ini tak akan dibawa mati." Jelas Fauzan, dengan ekspresi herannya melihat Ali saat ini.
"Entahlah Zan, akhir akhir ini aku merasa tak tenang. Aku sering bermimpi Ruby pergi dengan kekasihnya." Masih bicara dengan mata yang menerawang.
"Kamu bisa berdosa jika mempercayai mimpi. Mungkin kamu terlalu memikirkan Ruby, takut kehilangannya. Maka terbawa di lam bawa sadarmu." Jelas Fauzan.
"Jelas aku takut kehilangannya. Ia adalah wanita yang akan jadi ibu dari anakku." Kini mata menerawang itu berkabut sudah.
"Eehhmmm... Jangan terlalu mencintai manusia. Apalagi manusianya seperti Ruby." Ujar Fauzan malas.
"Bucin akut stadium empat, ya gini. Dibilangin,
gak berterima." Ujar Fauzan malas.
Hhuufftt...
"Entahlah Zan " Ali mengusap wajahnya kasar. Ia juga terlihat memijat keningnya yang terasa pening.
__ADS_1
Ngung
Ngung
Ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Ia merogohnya malas, karena pria itu sedang tak tertarik untuk berbicara saat ini dengan orang lain. Kecuali dengan Fauzan. Sahabat yang selalu mengerti masalah nya. Walau ia tak bercerita. Fauzan, seperti dukun saja. Mengetahui semua yang terjadi pada Ali.
"Ruby ..!" ucapnya gugup, saat melihat nama kontak yang memanggil.
Hahaha..
"Dapat telpon dari istrimu saja, kamu nervousenya kebangetan Li." Ledek Fauzan, merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.
Ali tak menanggapi ucapan Fauzan. Ia Deng cepat mengangkat telpon istrinya itu.
"Kamu di mana? ini sudah pukul 10 malam. Sudah saatnya tidur."
Pertanyaan lembut sang istri di ujung sana. Membuat suasana hatinya Ali yang mendung, seketika cerah dihiasi pelangi.
TBC
__ADS_1