
Ruby sudah selesai minum obat, bahkan wanita itu sudah tertidur di kamar nya. Ia Isa cepat tidur. Karena sang ibu memijatnya. Ruby drop, karena setres, ditambah kelelahan dan tidak teratur makan. Itulah keterangan yang didapat dari dokter. Salah satu penyebab Ruby sakit.
Mama Nisya menutup pintu kamar sang putri dengan pelan. Berjalan ke ruang tamu yang masih sedinding dengan kamar Ruby. Ia memperhatikan sang suami dan sang menantu yabg terlihat serius membahas pekerjaan. Karena memang Haji Zainuddin mau memperbesar peternakan ayamnya.
Haji Zainuddin dan Ali sama sama menoleh ke arah Mama Nisya yang duduk ikut bergabung dengan mereka.
"Sudah tidur Ruby ma?" tanya Haji Zainuddin pada sang istri. Yang kini wajahnya terlihat di tekuk seperti jeruk purut. Ekspresi wajah sang istri membuat Haji Zainuddin heran dan bingung.
"Sudah." Jawabnya singkat, melirik Ali dengan muka kusut itu.
Tatapan tak bersahabat sang ibu mertua, membuat Ali terkejut dan jadi tak tenang. Ia cepat cepat menundukkan kepalanya. Ruby pasti sudah mengadukan kejadian tadi pagi.
Tak apa apa, kalau ia disalahkan. Ia akan tegas. Karena pernikahan ini memang tak sehat. Tak ada gunanya dilanjutkan hingga satu tahun. Kenapa coba harus menunggu satu tahun, kalau memang tetap harus berpisah.
"Ayah, kalau bahasan kalian sudah selesai. Kita perlu bicarakan tentang pernikahan anak anak anak kita ini." Ujar Mama Nisya dengan berat. Ia terlihat menghela napas panjang setelah bicara.
"Ma, kita tak boleh ikut campur urusan anak anak. Biarkan mereka yang selesaikan, kalau mereka ada masalah." Sahut haji Zainuddin datar. Ia tahu istrinya itu tak suka dengan Ali.
__ADS_1
Huufftt..
"Ali, ibu merasa ada yang janggal dengan penjelasanmu tadi."
Ali menoleh ke ibu mertua. "Penjelasan yang mana Bu?" ujarnya dengan raut wajah cemasnya. Ia akan sangat malu, jika Ruby menceritakan kelakuannya. Yang pamer keperkasaan.
"Soal Ruby, yang katamu saat kamu keluar rumah. Ia masih baik baik saja. Emang kamu keluar rumah jam berapa?" Mama Nisya menilik tajam pada Ali yang kini terlihat takut menatapnya.
"Pukul satu Bu. Setelah selesai sholat Dzuhur." Jawabnya pelan, karena takut salah bicara.
"Pukul satu? berarti Ruby gak pergi kerja hari ini?" selidik Mama Nisya lagi, yang membuat Ali tak tahu harus jawab apa. Karena ia tak mau jawabannya nanti beda dengan jawaban Ruby. Tapi, kalau Ruby sudah cerita dengan ibu mertuanya. Kenapa ia dicecar banyak pertanyaan. Berarti Ruby gak ada cerita.
"Pak, kita harus tahu apa masalah mereka. Ibu yakin, mereka ini sedang tidak baik baik saja. Tadi saat aku masuk ke rumah ini. Di sini ada bantal, buku buku di dalam kardus, tas Ali dan semua barang Ali ada di luar." Ujar Mama Nisya dengan herannya.
"Eemmm.. Masalah nya ada pada putrimu ma. Jangan salahkan Ali. Lihatlah kerjaan putrimu itu. Tentu Ruby yang meminta Ali tidur di luar. Bapak yakin inilah alasannya. Kenapa Ruby selalu menolak kedatangan kita ke rumah ini. Ya karena ini." Ujar Haji Zainuddin menggeleng penuh kekecewaan tak percaya dengan kelakuan sang putri yang tak menghormati sang suami.
"Ini salah bapak. Harusnya Ruby jangan dinikahkan dengan Ali. Kan mereka gak saling cinta. Soal malu karena pernikahan batal, itu hal biasa. Paling orang orang seminggu dua minggu bergunjing tentang hal itu. Tapi, dengan pernikahan paksa ini. Sudah buat putri kita hancur." Jelas Mama Nisya dengan muka masamnya melirik Ali yang kini hanya bisa menunduk.
__ADS_1
"Dia harusnya yang bersyukur. Ali mau menikah dengannya. Dengan gagalnya pernikahan, karena ditinggal sang mempelai pria itu juga sangat memalukan Ma. Sudah kita ikhlas saja menerima takdir ini. Kita jangan ikut campur akan utusan mereka. Ayah yakin, Ali bisa jadi suami yang baik untuk Ruby" Haji Zainuddin menepuk kuat pundak Ali yang tertunduk itu. Hingga mengejutkannya.
"Perbanyak sabar ya nak. Seperti janji kita, jikalau sudah satu tahun. Kalian belum bisa rukun. Aku ikhlas, kamu melepaskan Ruby. Itu artinya Ruby bukan wanita yang beruntung, karena tak bisa memilikimu."
"Ayah... Koq bilang seperti itu. Untung apa yang didapat Ruby jika jadi istrinya Ali." Menatap tajam sang suami. Kemudian meraih bahu Ali.
"Ali, kamu jangan tersinggung. Kamu harusnya tahu diri. Keadaanmu yang seperti ini tak akan bisa membahagiakan Ruby. Lihatlah keadaanmu, apa yang dibanggakan darimu." Bicara dengan mata berkaca-kaca, kecewa karena punya menantu cacat dan miskin.
"Ma, jaga bicara mama." Haji Zainuddin melototkan kedua matanya pada sang istri.
Ali tersenyum tipis, guna menutupi sakit hatinya karena kembali disepelekan. Gak istri gak ibu mertua sama sama merendahkannya.
"Kita sudah bahas ini di rumah Ma. Mama sudah janji dukung anak kita. Bapak Yakin, Ali yang terbaik untuk Ruby. Jangan nilai orang dari fisik dan materi. Asal ibu tahu, kecantikan ketampanan bisa luntur. Kepribadian yang abadi. Soal harta, harta bisa dicari ma. Mama gak ingat gimana perjalanan hidup kita. Dulu juga kita tak punya apa-apa. Kita bisa seperti ini, sejak kita bertemu dengan Ali." Jelas Haji Zainuddin dengan tegas. Yang membuat mama Nisya terdiam. Sedangkan Ali dibuat terperangah dengan ucapan sang ayah mertua.
"Sana Mama temani Ruby tidur. Kami masih mau melanjutkan pekerjaan."
Mama Nisa beranjak dari ruang tamu dengan raut wajah masam. Ia diceramahi didepan menantunya. Malu dong!
__ADS_1
TBC