Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Kenyataan pahit


__ADS_3

"Ruby... Ruby.... Sadar sayang...?!" Ibunya Agam yang bernama Siti, terlihat berusaha keras menyadarkan Ruby. Menepuk pelan pipi pucatnya Ruby serta mendekatkan minyak kayu putih ke lubang hidungnya Ruby. Wanita paruh baya itu terlihat sangat mengkhawatirkan Ruby.


Belum juga ada tanda tanda wanita itu akan sadar.


Ali yang juga ada di dekat sang istri. Menoleh ke arah ibunya Agam. "Bu, boleh aku minta air putih di taruh di baskom kecil!" pinta Aki sopan.


"Iya, iya boleh nak." Ibu Siti meminta ART mengambil apa yang diminta Ali. Tak butuh waktu lama, apa yang diminta Ali sudah tersedia.


Ali terlihat menengadahkan tangannya, mulutnya komat Kamit. Sepertinya ia sedang membaca doa doa. Kemudian Ali mengambil air dalam baskom kecil itu, membasuhkannya lembut pada wajah sang istri. Ali melakukan hal itu sebanyak tiga kali. Dan usahanya berhasil Ruby tersadar.


Disaat tersadar wanita itu kembali menangis. Tapi, kali ini tangisannya tidak sekencang tadi.


"Syukurlah kamu sadar juga sayang..!" Mamanya Agam, meraih Ruby dalam dekapannya. Ruby yang lemah, tak membalas pelukan itu. Tangannya terasa layu tak bertenaga. Ia hanya menangis sesenggukan dalam dekapan ibu Siti.


"Sudah jangan menangis lagi. Yang bisa kita lakukan sekarang, hanya berdoa pada Allah. Agar keberadaan Agam ditemukan. Jikalau memang ia sudah tiada, semoga kita menemukan jasadnya." Ucap Ibunya Agam lirih. Masih memeluk Ruby yang masih menangis itu.


"Kamu dengarkan sayang, kamu jangan menangis lagi." Memegang kedua bahu Ruby, setelah pelukan keduanya berakhir. "Ini cobaan, kita harus sabar."


"Iya Bou, kasih kabar aku kalau keberadaan Abang Agam, sudah ditemukan." Bicara lemah, dengan derai air mata.


"Iya, Bou pasti kabari." Melap air matanya Ruby yang sudah menganak sungai di pipinya.


Ruby menoleh ke arah Ali, yang berdiri di sebelahnya. Pergerakan matanya Ruby diikuti oleh Ibunya Agam.

__ADS_1


"Nak, bawa Ruby periksa ke rumah sakit. Ibu perhatikan keadaannya ini lemah. Ia harus diperiksa, siapa tahu tekanan darahnya turun atau anemia " Ujar ibunya Agam ramah pada Ali, yang membuat Ali jadi merasa tak enak hati pada ibunya Agam.


Ternyata keluarga nya Agam, saat baik sekali. Padahal orang kaya. Baru kali ini, Ali bertemu dengan orang kaya yang hatinya sangat mulia.


"Iya Bu." Sahut Ali sopan.


"Ya sudah, ayo kita sarapan dulu." Meraih tangan Ruby, agar bangkit dari duduknya.


Ali menatap lekat Ruby, memberi kode agar mereka pulang saja. Karena kalau sampai sarapan di rumah itu, takut merepotkan.


"Terimakasih Bou, tapi kami harus pulang." Jawab Ruby lembut. Ternyata ia juga merasa enggan makan di rumah itu.


"Gak boleh menolak. Lihat keadaanmu, kamu itu pucat sekali. Gak boleh pulang kalau gak sarapan." Tegas Ibu Siti, bergantian menatap Ali dan Ruby.


Ali tersenyum kepada kedua orang tuanya Agam. Pantas Ruby sangat mencintai kekasihnya itu. Orang tuanya Aja sebaik ini. Mengetahui fakta ini, jikalau Agan memang masih hidup. Ia akan ikhlas melepaskan Ruby. Karena ia yakin Ruby akan sangat bahagia jika berada dalam keluarga kaya harta dan kaya hati ini. Mana mungkin dia memaksa Ruby terus bersamanya. Ia orang miskin dan cacat pula. Ia yakin, Ruby pasti malu bersanding dengannya.


Ajakan sarapan bersama pun tak bisa dielakkan. Bahkan Dirga sang supir, dipanggil untuk ikut sarapan.


Kedua orang tuanya Agam sangat ramah. Setelah sarapan, Ali masih diajak ngobrol sama Ayahnya Agam. Sedangkan ibunya Agam berpesan pada Ali, agar menjaga Ruby.


Pukul sepuluh pagi, mereka akhirnya meninggal kan rumah megah nan mewah itu. Ruby tak henti hentinya menangis di dalam mobil. Wanita itu masih syok, atas kabar yang didapatnya tentang Agam. Ali yang takut salah sikap, akhirnya memilih diam. Duduk dengan tidak tenang. Di jok sebelah sang istri


Ketidaktenangan hatinya selama ini terjawab sudah. Ia sangat yakin, ada hal buruk yang membuat Agam tak datang di hari pernikahan mereka. Dan ternyata kenyataannya sangat pahit dan menyakitkan. Ia tak akan bisa melihat kekasihnya itu lagi. Bahkan kuburannya sekalipun.

__ADS_1


Hueeekk....


Hueekk...


Ruby terlihat ingin muntah. Tangan kirinya menutup mulutnya, sedangkan tangan kanannya memegangi perutnya yang sekarang terasa di aduk aduk. Ia juga merasa kepalanya sangat sakit sekali.


"Ruby, Ruby ... Kamu kenapa?" Ali memegang bahu sang istri. "Kamu mau muntah lagi." Dengan hebohnya Ali mengambil plastik tempat belanjaan makanan ringan.


"Bang Dirga, kita menepi." Ujarnya setelah menyodorkan plastik kresek warna putih kepada Ruby. Plastik itu, akan digunakan untuk menampung muntahnya Ruby.


Hueekk...


Hueek...


Huekk..


Ruby dengan berlinang air mata, mengeluarkan isi perutnya yang sejak makan di rumahnya Agam, berontak ingin dikeluarkan.


Rasanya air liur pahit dan asam. Ini sungguh sangat menyakitkan. Setelah mengeluarkan semua apa yang dimakannya tadi. Kini Ruby merasa sedikit tenang. Ia pun menyandarkan tubuh nya, setelah meneguk air yang disodorkan Ali.


"Bang, kita ke rumah sakit saja." Titah Ali pada sang supir.


TBC

__ADS_1


__ADS_2