
Ruby meminta izin pada Ali, agar mengizinkan Agam datang berkunjung lagi ke rumah mereka. Dan Ruby cerita ingatan Agam sudah pulih total. Dan kedatangan Agam, ingin mengetahui apa yang terjadi pada Ruby setelah ia kecelakaan. Karena Ruby dan Agam tak membahas itu di dalam telepon. Tapi, Agam sebenarnya sudah tahu, kalau Ruby sudah menikah dengan Ali dan sudah punya anak.
Tentu saja Agam mencari info semua tentang Ruby saat ia lupa ingatan. Dia punya uang, itu hal kecil buatnya.
"Ali... Kamu jangan pergi kerja dulu. Agam sudah dekat mau ke sini." Ujar Ruby dengan ekspresi wajah tegang.
"Ya sudah kamu jumpai saja dia. Kenapa harus menghalangiku, aku harus kerja. Sudah sepuluh hari libur. Dan soal Aysha. Nanti Bibi Sekar yang akan jaga. Lagian, aku me kampus hanya ada satu mata kuliah." Jawab Ali lembut, dengan ekspresi wajah biasa. Tapi, jangan tanya, hatinya sangat hancur saat ini.
"Ini tentang kejelasan hubungan kita."
Deg
Hancur berkeping-keping sudah Ali mendengar ucapan sang istri. Lagian mana dibolehkan nya Agam menjumpai istrinya itu. Ia mengatakan itu, ingin mengetes Ruby.
"Semua terserah kamu, kalau mau kembali padanya, aku gak bisa melarang. Tapi, Aysha akan ikut aku."
"Kamu bicara apa sih?" ujar Ruby kesal, meninggalkan Ali di teras rumah dan masuk ke kamar dengan bersungut-sungut.
Hhuufftt..
Ali menghela napas dalam. Ia mendongak, guna menghalau air matanya yang ingin tumpah ruah di pipinya. Ia tak boleh sedih. Ia sudah siapkan hatinya jauh jauh hari. Ia harus pergi cari nafkah.
__ADS_1
Baru juga melangkah, sebuah mobil mewah warna hitam Lexus berhenti di halaman rumah. Ali tak terkejut lagi. Ia tahu siapa yang datang, siapa lagi kalau bukan Agam.
"Assalamualaikum... !" ujar Agam tersenyum tipis.
"Walaikum salam!" Ali juga menampilkan ekspresi wajah ramahnya.
"Abang Ali, apa kabar." Pria tampan dengan outfit mahal itu menjulurkan tangan padanya. Pria itu sangat wangi. Ali saja menyukai wangi pria dihadapannya ini. Ia yang tadi sedikit kesal dibuat rileks seketika saat wangi itu menyeruak di indera penciumannya.
"Baik." Ali menyambut tangan itu.
"Aku ingin keluar, anda tak boleh bertamu sekarang. Karena di rumah ini hanya ada istri dan anakku!"
Agam membelalakkan matanya mendengar ucapan Ali. Ia takjub dengan sikap Ali, yang terlihat sangat menjaga Marwah keluarganya. Selain itu, Agam memperhatikan lekat penampilan Ali. Apalagi yang dinilai kalau bukan fisiknya yang cacat.
Kini mobil mewah itu, sudah parkir di sebuah restoran mewah di kota Sibolga. Yang punya ruangan private.
"Langsung saja, kamu mau bicara apa. Aku tak punya banyak waktu." Ujar Ali masih berusaha menampilkan ekspresi wajah tenang. Tapi, hatinya, kini berkecamuk sudah.
"Aku sangat mencinta Ruby." Agam bicara penuh ketulusan.
"Dia istriku!" kini Ali terpancing sudah. Mukanya tegang dan memerah.
__ADS_1
"Aku tahu itu. Dari informasi yang ku dapat. Ruby tak menyukaimu."
"Kalau tak menyukai, tak mungkin ada anak." Sahut Ali cepat. Atmosfer di ruangan itu memanas sudah
"Aku tahu semua yang terjadi pada kalian."
"Ruby yang cerita?" selidik Ali.
Agam terdiam sejenak.
"Tak perlu kamu tahu aku dapat informasinya dari mana." Jelas Agam serius.
"Kalau kamu tetap mempertahankan rumah tanggamu selamanya dengan Ruby. Kamu dan dia akan tersiksa. Ia masih mencintaiku."
Nyut.
Sakit rasanya mendengarkan pria lain mengetahui perasaan sang istri. Ali merasa jadi pria tak punya harga diri.
"Setahuku, orang mencintai seseorang pasti ingin melihat orang yang dicintainya bahagia. Ruby hanya bisa bahagia denganku. Aku punya segalanya. Aku juga akan besarkan putri kalian penuh cinta dan tentu akan menyekolahkan nya di tempat yang bagus dan elit."
"Jangan ukur taik yang kering." Ujar Ali geram. Menggebrak meja kuat, Agam sampai terperanjat. Kemudian Ali meninggalkan tempat itu, tanpa ada kejelasan dari pembicaraan mereka.
__ADS_1
TBC