
"Dok, aku ingin aborsi, sekarang..!"
"Haaaahhhh...! ibu gak salah bicara?" tanya Dokter heran, menatap Ruby dan Ali secara bergantian.
Bukan hanya dokter yang terkejut, Ali tak kalah terkejutnya. Pria itu saking terkejutnya, jadi membeku di tempat. Ia memilih membisu, karena jikalau ia buka suara. Bukan tak mungkin Ruby akan berang dan malah marah marah padanya. Yang akhirnya membuat keributan di ruang praktek itu.
"Bu, itu melanggar hukum. Kami tak bisa melakukan permintaan ibu. Melakukan aborsi, sangat membahayakan, bisa terjadi perdarahan hebat yang bisa mengancam nyawa, juga bisa terjadi infeksi rahim. Infeksinya tidak hanya di rahim saja, bahkan bisa sampai ke saluran tuba, sehingga dapat terjadi radang panggul atau bisa sampai sepsis (komplikasi), serta dapat menyebabkan hamil di luar rahim atau kemandulan kelak."
Ekspresi wajah Dokter berang saat ini. Ia kesal dengan Ruby yang tak menghargai dirinya dan calon anaknya.
Ruby terdiam, ia menunduk dengan menitikkan air mata. Ia tak mau mengandung anaknya Ali. Ia masih ingin kembali pada Agam. Karena ia yakin, Agam masih hidup.
"Aborsi telah diatur dalam Undang-Undang tentang Kesehatan Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. Aturan tersebut menegaskan bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi berdasarkan pasal 75 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 (UU Kesehatan). Artinya tindakan aborsi tidak diizinkan, kecuali dengan alasan kedaruratan medis ibu dan bayi, serta bagi korban pemerkosaan."
"Aku ini korban pemerkosaan." Ujar Ruby dengan tak tahu malunya.
__ADS_1
"Whaat......?"
Pak Dokter menatap ke arah Ali dengan herannya. Tak mungkin pria yang sangat bersahaja di hadapannya melakukan hal keji itu.
"Makanya Dok, aku ingin aborsi. Aku belum siap untuk mengandung." Ruby memelas dengan derai air mata.
"Gak Bu, kami tak mau melakukan itu. Kalau gak ada lagi yang mau di konsultasikan, sebaiknya ibu dan bapak keluar..!" Menunjuk pintu keluar dengan muka kesal. Dokter itu bahkan tak mau menatap Ruby lagi.
***
Sedangkan Ruby yang duduk di bangku barisan kedua. Tak henti hentinya menangis. Ia sedang meratapi nasibnya. Yang sangat jauh dari impiannya. Seandainya ia tak hamil, kemungkinan besar kembali pada Agam, masih ada.
Huuuekkk...
HUuuekk...
__ADS_1
Ali langsung menoleh ke belakang, karena mendengar sang istri yang ingin muntah.
"Bang Dirga, kita menepi!" titah Ali pada sang supir.
Setelah mobil yang mereka tumpangi menepi. Ali dengan cepat membuka pintu mobil, membantu sang istri yang sedang muntah muntah itu.
"Ini gara gara kamu, aku gak mau hamil. Lihatlah aku jadi menderita." Memukul kuat dada Ali yang masih berdiri di sisi mobil. Sedangkan Ruby masih duduk di bangku.
Ali hanya diam seperti orang bodoh yang tak berdaya, di pukul pukul oleh Ruby. Sesekali Ruby menarik narik kemeja Ali, sebagai ekspresi kesalnya pada pria itu.
Ali tetap menahan diri, sabar atas sikap Ruby yang selalu semena mena padanya. Karena Ia tahu tempat. Tak mungkin ia meladeni kemarahan Ruby saat ini. Karena mereka sedang berada di jalan lintas.
Bang Dirga sang supir, dibuat heran dengan Ali dan Ruby. Pasangan ini terlihat aneh. Sang supir juga kasihan pada Ali. Ia terlihat seperti suami takut istri.
"Kalau dek Ruby merasa kurang sehat. Sebaiknya kita istirahat satu hari dulu di kota Medan ini. Memang wanita yang baru hamil seperti itu, muntah muntah, kepala pusing dan badan pegal pegal. Istriku juga seperti itu kalau sedang hamil." Ujar Bang Dirga, ia merasa perlu ikut campur. Semoga Ruby mengerti akan kondisinya dan lebih sabar.
__ADS_1
TBC