
Pukul sembilan malam kedua orang tuanya Ruby sudah kembali ke rumah. Dan kini tinggal lah pasangan yang baru saja baikan. Ali yang masih merasa enggan pada Ruby. Akhirnya memutuskan bekerja di ruang tamu. Ia sedang banyak dapat job, membantu mahasiswa mengerjakan skripsi.
Sudah dua jam ia bekerja, ia sebenarnya sudah kantuk. Tapi, entah kenapa ia merasa takut masuk ke kamar sang istri. Padahal ia sudah diminta Mama Nisya, harus tidur sekamar dengan Ruby.
"Aku lapar....!"
Suara itu mengangetkannya. Ali sedang berbaring di atas ambal. Tangannya terlihat menimpa keningnya.
Ali sontak mendudukkan bokongnya dengan cepat.
"Eemmm... Lapar?" tanya Ali heran. Tadi, setelah orang tuanya Ruby pulang. Ia baru selesai makan martabak.
"Iya lapar... " Rengek Ruby menghentakkan kakinya kesal.
"Mau makan apa?" tanya Ali mengulum senyum. Ruby sudah seperti wanita pada umumnya. Ada manja manja merajuknya. Ali suka sikap manja seperti itu.
"Piscok, tapi harus banyak coklat dan kejunya." Ujarnya masih dengan wajah merajuk tak jelas.
__ADS_1
"Uwuh.... Baiklah. Itu makanan masih wajar. Sebentar, aku keluar carinya dulu. Semoga masih ada penjualnya tengah malam begini."
"Gak mau dibeli, maunya kamu yang masak." Ujar Ruby masih sok merajuk.
"Emang ada pisang di rumah?" Ali bergegas ke dapur. Ia pun memeriksa dapur mini mereka. Ya ada pisang raja, yang dibawa haji Zainuddin tadi.
"Baiklah calon ibu anakku.. Silahkan ditunggu sebentar ya!" ujar Ali semangat. Senyum kebahagiaan itu tak pernah lepas dari wajahnya yang tampan.
Tenyata doa doanya selama ini, diijabah Allah. Ruby seperti nya sudah mau menerima keberadaannya.
Ruby memperhatikan lekat Ali yang menyiapkan pisangnya. Penampilan Ali yang hanya memakai kemeja lengan pendek, membuat semakin terlihat jelas, tangan Ali yang sebelah kiri yang pertumbuhannya tak normal. Tapi, ternyata tangan itu, bisa digunakan untuk menahan sesuatu. Seperti saat ini. Pisang yang ada di atas talenan. Di tahan tangan kiri yang mengecil itu. Sehingga Ali bisa membelah pisang itu jadi tiga bagian.
"Itu minyaknya sudah panas..!" tegur Ruby, melihat Ali seperti salah tingkah.
"Ooouuww.. iya." Ali mematikan kompor gas itu. "Kamu tunggu di kamar saja, nanti kalau sudah masak, aku antar ke kamar." Ali melirik Ruby, yang sedang menilik ke arahnya.
Jujur, Ali merasa minder. Kalau diperhatikan dengan lekat.
__ADS_1
"Ooouuhh.. Iya, cepat ya. Aku lapar banget soalnya." Ruby tahu, Ali merasa tak leluasa. Dia pun akhirnya masuk ke kamarnya.
Huuffttt..
Ali menarik napas panjang. Tatapan Ruby tadi membuatnya grogi. Ia benci, dirinya yang terlihat lemah di hadapan Ruby. Ditatap saja, sudah salah tingkah.
Ali kembali konsentrasi memasak pisang coklat keju itu. Setelah dua puluh menit. Piscok jadi juga. Parutan keju dan coklat lumer, tercium wangi dan buat selera. Ali jadi ingin mencicipinya. Tapi, entah kenapa ia takut untuk memakannya. Padahal ia sendiri yang memasaknya.
"Eehh... !" Hampir saja piscok yang berada di wadah nya jatuh dari tangannya Ali. Karena terkejut mendapati Ruby yang tiba tiba nongol di hadapannya. Saat Ali berbalik badan.
"Kenapa gak nunggu di kamar saja " Tanya Ali.
"Mau makan di sini." Ruby mendudukkan bokong nya di kursi meja makan.
Ali mengangsur piscok ke hadapan sang istri. Ruby langsung menyomot piscok yang masih panas itu.
"Pakai sendok Dek!"
__ADS_1
Ruby mengangkat wajahnya, cukup terkejut mendengar Ali memanggil nya dek.
TBC