
“Assalamu alikum..!”
“Walaikum salam..!” Jawab Ali dengan perasan tak tenang karena takut pada kedua mertuanya.
Ceklek
Ali langsung menyunggingkan senyum manis, seraya membuka pintu lebar untuk mertuanya.
"Mana Ruby Ali?" tanya Mama Nisya penuh kekhawatiran.
"Ada di kamar Bu." Sahut Ali sopan. Kirain ia bakal dimarahi, karena ia tiba tiba berada di rumah itu. Secara Ali kan meninggalkan Ruby selama dua bulan.
Mama Nisya melewatinya dengan tergesa-gesa menuju kamar.
Sedangkan Haji Zainuddin langsung menariknya ke dalam pelukannya.
"Ali, bapak mohon bersabarlah untuk membimbing istrimu. Bapak yakin, suatu saat ia akan sadar dengan kelakuannya dan kalian akan hidup bahagia kelak." Ujar Haji Zainuddin lirih masih memeluk Ali. Yang juga membalas pelukannya hangat.
Ali sebenarnya merasa tak enak hati pada ayah mertuanya itu. Karena ia merasa tak berguna sebagai suami. Meninggalkan istri selama dua bulan, hanya karena mementingkan ego. Dalam berumah tangga harus ada salah satu yang mengalah. Api dilawan dengan air. Tapi, ia kurang sabar dalam menghadapi Ruby.
"Iya ayah, aku akan bertahan sampai titik darah penghabisan." Ujarnya dengan tertawa kecil. Mengurai pelukan haji Zainuddin.
"Kamu ini, bapak serius. Kamunya bercanda." Haji Zainuddin menepuk pelan bahunya Ali. Kemudian menggiring Ali untuk duduk di atas ambal yang lembut di ruang tamu itu.
__ADS_1
Ya, setelah kepergian Ali dari rumah itu, ruang tamunya Ruby dihias lebih indah dan digelar alas duduk sdengan ambal lembut. Bukan tikar plastik lagi, seperti alas tidurnya Ali.
"Fauzan menelpon bapak tadi malam. Katanya Ruby dilecehkan teman kalian saat acara reuni. Ayah panik dengarnya. Tapi, setelah Fauzan menjelaskan kalau Ruby sudah aman denganmu. Akhirnya Ayah bernafas legah." Jelas Haji Zainuddin menatap lekat Ali, yang terlihat cemas.
"Iya ayah. "Ujarnya dengan rasa bersalah. Ia tak bisa menjaga istri sendiri.
"Jadi sudah bagaimana keadaan Ruby. Dia tidak apa apa kan?" selidik Haji Zainuddin, menunduk untuk melihat lebih jelas wajah Ali yang sejak tadi menunduk dengan air muka penuh kecemasan.
Ali cemas dan bingung, tak mungkin dia mengatakan Ruby sedang tak baik baik saja. Ruby sudah diperawainya tadi malam. Bahkan malam itu mereka melakukan nya sampai lima ronde. Tentu saja Ruby yang selalu minta tambah. Hingga wanita itu ambruk tak berdaya. Karena tenaga nya terkuras habis. Tiba pagi sadar, malah marah marah. Sampai melempar lampu hias segala.
Tapi, ekspresi wajah bingung dan cemas itu mendadak berubah jadi sumringah. Karena ia teringat kejadian ganasnya Ruby bermain di ranjang dengannya. Nikmat permainan itu masih terasa sampai saat ini.
"Ali kamu kenapa? tadi nampak gelisah sekarang kenapa jadi senyam senyum tak jelas begini?" Selidik Haji Zainudin menyentuh bahunya Ali.
Hua., Hua... Hua...
Dari tadi memang Haji Zainuddin mendengar samar samar Isak tangis Ruby dari dalam kamar. Tapi, kini koq makin terdengar jelas. Ternyata pintu kamar sedang dibuka sang istri. Dan kini terlihat menghampiri mereka.
Air muka Ali mendadak berubah jadi tegang. Karena Mama Nisya yang menghampiri mereka, dengan tatapan tak bisa diartikan.
Ali semaki bingung, disaat Mama Nisya semakin mendekatinya dan
Bruuggkk
__ADS_1
Ia dipeluk erat oleh ibu mertuanya itu. "Terima kasih telah menyelamatkan nama baik keluarga untuk kedua kalinya Ali. Ibu mohon, jangan pernah tinggalkan Ruby lagi. Tadinya ibu kurang setuju kamu jadi suaminya Ruby. Tapi, sekarang ibu sangat berharap kamu bisa jadi suami terbaik untuk Ruby." Mama Nisya menangis tersedu-sedu dalam dekapan Ali.
Kedua bola mata Ali bergerak kesana kemari. Ia cukup terkejut dengan reaksi Mama Nisya dan Haji Zainuddin. Tadinya ia mengira ia akan dimarahi.
"Ia Bu, Ali minta maaf ya. Karena, Ali sempat meninggalkan Ruby." Ujarnya dengan perasaan bersalah. Mengurai pelukan sang ibu mertua.
"Ia nak, kamu tak ada salah. Ruby yang salah, ia tak bisa bersyukur. Mungkin disebabkan karena ia belum bisa menerima semua yang terjadi padanya. Ibu harap, kamu lebih bisa memahami dan ngertiin perasaan dia." Ujar Mama Nisya tersenyum tipis pada Ali.
"Putri ibu itu egois. Pingin dimengerti tapi gak mau ngertiin orang." Jawab Haji Zainuddin dengan wajah masam nya. kecewa sekali pada Ruby yang manja.
"Kalau sudah salah, pasti bilangnya anak ibunya. Kalau bener, katanya anak ayahnya " Ekspresi Mama Nisya kesal sudah.
"Eemmm.... Sudah sudah, kita jangan ribut, gara gara Ruby. Sekarang kita berdoa saja, agar cepat dapat cucu." Haji Zainuddin memperhatikan lekat Ali, terutama pada bagian lehernya. Sontak Mama Nisya mengikuti pergerakan bola mata sang suami. Ia pun dibuat terkejut dengan lehernya Ali yang penuh dengan cu-pangan.
Mama Nisya yang jadi malu sendiri, melihat menantunya itu. Tadi dia tak terlalu memperhatikannya. Ia dengan cepat menutup mulutnya yang sempat menganga saking terkejutnya melihat penampakan Ali, yang kini hanya memakai kaos oblong warna putih, lengan pendek itu.
Ali dibuat bingung dengan tatapan kedua mertuanya. Otaknya gak sampai ke apa yang dilihat kedua mertuanya.
"Ya sudah lanjut kan cerita Kalian pak. Mama bantu Ruby bersih bersih. Itu kamar mereka sudah seperti kapal pecah. Sepertinya ada tsunami semalam di rumah ini." Ujar Mana Nisya mengulum senyum. Sontak Ali sadar dengan tingkah kedua mertuanya.
Ia pun bangkit dari duduknya cepat, berjalan ke dapur tanpa sepatah kata. Ia sudah sangat malu. Ia akhirnya sadar. Pasti sejak dari tadi kedua mertuanya memperhatikan stempel yang diberikan Ruby di lehernya.
Ya tidak hanya stempel yang ditinggal kan Ruby untuk Ali saat mereka bercinta. Tapi, goresan kukunya sudah seperti garpu di punggungnya.
__ADS_1
TBC