Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Permintaan aneh


__ADS_3

"Apa salahku padamu sudah begitu besar. Hingga kamu terlihat enggan untuk memberi maaf?" Bicara dengan nada penuh penyesalan. Bahkan kini mata indahnya sudah terlihat berkaca-kaca.


Sungguh Ali dibuat tercengang dengan sikap Ruby malam ini. Wanita angkuh dan sombong itu minta maaf padanya. Sikap Ruby yang berubah drastis, malah membuatnya membisu.


"Aku sangat mencintainya. Aku sangat syok disaat hari pernikahan itu. Tega dia tak datang di hari pernikahan kami." Bicara dengan derai air mata yang menggenang. Seperti air hujan, yang seperti nya sudah menggenang di halaman rumah mereka.


Saat ini bukan hanya Ruby saja yang sedih. Ali juga tak kalah sedihnya. Dianggap apa dia oleh Ruby. Wanita itu tak merasa bersalah membahas Agam padanya. Seorang istri menceritakan pria lain kepada suani sendiri.


"Aku tahu kamu tak akan memaafkan aku Ali. Aku memang jahat. Tak seharusnya aku melampiaskan kekesalan itu padamu. Hatiku yang hancur, membuat pikiran tak jernih. Dan dipaksa menikah denganmu."


"Ya, karena aku pria cacat dan miskin. Makanya kamu tak menyukaiku." Ali yang tak tahan mendengar curhatan Ruby, memotong cepat ucapan sang istri. Untuk apa buatnya mendengar kisah istrinya itu dengan pria lain.


"Seandainya bukan aku pria yang dijadikan haji Zainuddin sebagai pengganti pengantin pria. Mungkin kamu tak akan sesetres itu. Apalagi jikalau pria itu tampan dan kaya juga." Ali kini terlihat tegar saat bicara. Tatapan mengurus tajam kepada Ruby.


"Tidak, tidak seperti itu. Jikalau pun bukan kamu yang disuruh ayah jadi pengganti pengantinnya. Sikapku akan tetap sama, seperti sikapku padamu." Jelas Ruby panik, ia tak mau Ali salah paham.


Duar


Duar


Duar


Suara petir kembali terdengar saling sahut menyahut. Yang membuat Ruby ketakutan. Ia bahkan menutup telinga nya dengan kedua tangan nya. Tak sanggup mendengar suara petir yang seperti habis menyambar sesuatu.


Huufftt.

__ADS_1


Ali menghela napas panjang. Masih menatap ke arah Ruby yang terlihat ketakutan. Tapi, kini wanita itu sudah menjauhkan tangan nya dadi kedua telinga nya.


"Tak perlu menghina orang untuk meluapkan kebencian. Tak perlu menunjukkan kebencian kita pada seseorang. Karena jikalau suatu saat kamu perlu orang yang kamu benci. Maka kamu tak akan malu minta tolong Padanya."


"Iya, aku salah. Dan atas kesalahan yang ku perbuat aku telah dapat hukumannya. Aku, aku tak akan mungkin lagi bisa kembali pada Abang Agam." Ujarnya dengan terisak. Wanita itu terlihat sangat rapuh.


Raut muka Ali langsung murung mendengar ucapan Ruby yang kembali membahas Agam.


"Aku gak bisa komentar untuk hal itu. Tapi yang jelas, kalau kamu sibuk mikirin dia. Yang ada kamu akan semakin tersakiti. Jikalau pria yang kamu inginkan itu, benar benar mencintai mu. Dia pasti datang untuk menikahimu." Walau hati terasa sakit membahas ini dengan Ruby. Ali tetap menunjukkan sikap peduli pada istrinya yang tak pernah menghargai perasaannya itu.


Hu... Hu.. Hu.. Hu..


Ucapan Ali membuat Ruby tersinggung. "Aku yakin dia sangat mencintaiku. Aku yakin, ada sesuatu yang terjadi padanya. Makanya hingga saat ini, aku tak dapat kabar tentang nya." Melap ingus dengan tisu yang diraihnya dari atas nakas di sebelah tempat tidurnya.


"Eehhmmm.. Al, Ali... Kesepakatan satu tahun itu masih berlaku kan ?" tanyanya Ragu.


"Gak usah nunggu satu tahun Kalau kamu mau sekarang juga, kamu bisa pergi dari hidupku. Kejar pria itu. Aku yang akan jelaskannya pada ayah." Sahut Ali dengan perasaan yang hancur.


"A, Aku, sebenarnya aku kurang yakin. Ia masih mau menerimaku Karena kamu tahukan aku sudah tak pe, perawan lagi." Ujarnya dengan tersedu-sedu. Ruby jelas sangat sedih. Mahkota yang dari dulu dijaganya malah direnggut oleh Ali.


Ali yang terkejut dengan ucapan Ruby, kembali mendudukkan tubuh nya. Menatap tajam Ruby yang terlihat gugup dan menangis.


"Aku, aku tak menyalahkanmu. Aku tahu malam itu, aku yang salah. Aku sudah ingat semua. Aku yang memaksamu. Hua.... Hua... Hua.." Ruby tak tahan lagi, tangisnya pun pecah, sekencang nya angin dan sederasnya hujan malam itu.


"Aku sudah tak suci lagi. Mana mungkin Abang Agam, mau denganku.. Hiks. hiks.. Hiks..!"

__ADS_1


"Kalau ia tulus mencintaimu. Dia tak akan mempermasalahkan itu. Uangnya kan banyak, kaya. Nanti kamu operasi ke Korea Selatan. Buat kamu jadi virgin lagi." Ujar Ali cepat, entah keberanian dari mana ia dapatkan bicara seperti itu pada Ruby yang terkenal bar bar.


Puukk..


Bantal melayang ke arah Ali. Ia yang melihat bantal itu melayang di udara, dengan cepat ditangkapnya dengan tangan kanannya.


"Aku serius, kamunya bercanda! Hua Hua hua...!" Ruby kembali menangis histeris. Menatap kesal Ali yang terlihat bete itu.


"Aku juga serius." Ali malah meletakkan bantal yang dilemparkan Ruby di atas ambal. Ia pun meletakkan kepalanya di atas bantal empuk itu. Seempuk bantal di hotel bintang lima.


"Ali, aku ingin berteman baik denganmu. Maafkan aku?!" Mengatupkan kedua tangannya. Ali pun mengubah posisi nya jadi mengahadap Ruby.


"Iya, aku sudah memaafkanmu. Kalau aku tak maafkan, mana mungkin aku kembali." Ujarnya serius dan terlihat tulus.


"Terimakasih ya Ali." Ekspresi wajah Ruby terlihat legah.


"Iya." Ali kembali membelakangi Ruby. Bagaimana pun hatinya hancur saat ini.


"Eemmmm.. Seminggu lagi, aku dapat cuti. Maukah kamu temani aku ke kota Medan? aku mau cari langsung Abang Agam ke rumahnya."


Deg


Permintaan macam apa itu? seorang suami mengantarkan sang istri kembali pada pacarnya. Aneh....


TBC

__ADS_1


__ADS_2