Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Aku korban


__ADS_3

"Ini semua gara gara kamu..! pasti kamu yang menceritakan padanya tentang hubungan kita."


Setelah kepergian Dirga, ternyata Ruby belum puas, akan kekesalan di hatinya. Ia kembali menumpahkan semuanya pada Ali. Ia juga menuduh Ali mulut ember.


Ali menatap tajam Ruby yang terus saja memojokkannya. Habis sudah stok kesabarannnya menghadapi Ruby. Tadinya Ali mengira Ruby sudah berubah. Ternyata wanita itu tak akan pernah sadar.


"Apa... Kenapa melototkan mata padaku? menantang, menantang aku?" teriaknya kesal pada Ali.


Ali menggelengkan kepalanya lemah. Heran dengan sikapnya Ruby. Ia yang lelah malah duduk di lantai mobil, membelakangi sang istri, yang dadanya naik turun karena emosi.


"Hidup berumah tangga atau sebuah perkawinan itu, dapat diumpamakan seperti dua insan yang sedang menakhodai sebuah bahtera dan membawanya berlayar jauh ke tengah lautan dan samudera. Dalam perjalanannya meniti arus kehidupan untuk sampai ke seberang (tujuan), pastilah akan menemui beragam jenis situasi, hambatan dan cobaan. Gelombang dan bahkan badai, dalam berumah tanggap-pun akan selalu menjelang.


"Aku sadar, dalam pernikahan ini, hanya aku yang serius melakoninya. Karena aku tahu ijab kabul itu bukanlah hal yang bisa dimain mainkan, itu hal yang sakral. Saat ini, aku sedang diuji hebat, oleh sikapmu Ruby. Sanggupkah aku bertahan menakhodai kapal yang selalu ingin kau hantam ke baru karang.


"Semua yang terjadi padamu, seolah akulah penyebabnya. Padahal aku di sini yang jadi korban. Aku selalu kamu rendahkan. Karena aku yang miskin dan cacat ini. Aku sadar akan kelemahan ku itu. Makanya aku terus diam dan sabar akan sikapmu yang terus melukai hatiku.


"Ku pikir kamu telah sadar, ikhlas menerima takdir yang datang. Tetapi ternyata tidak. Semua kamu katakan gara gara aku. Aku bukan pria bodoh, yang menceritakan aib sendiri pada orang lain. Hubungan antara suami dan istri yang baik adalah bagaikan pakaian. Artinya bahwa suami dan istri adalah perhiasan dan sekaligus sebagai penutup aib di antara keduanya. Mana mungkin aku cerita pada Abang Dirga.


"Aku bisa memaklumi sikapmu ini. Kamu sangat benci aku, karena aku yang cacat dan miskin. Tapi, asal kamu tahu, hanya kamulah manusia yang selalu menilai aku rendah dan hina. Kamu pikir tak ada wanita yang mau denganku? ada....!"


Ali memutar lehernya, menoleh kepada Ruby yang duduk di jok mobil dengan tercengang.


"Tapi, keburu aku sudah menikah denganmu dan aku termakan Budi dengan Haji Zainuddin."

__ADS_1


Ruby terdiam mendengar ucapan Ali yang panjang lebar itu.


"Soal kehamilanmu yang kamu melimpahkan semua kesalahannya padaku. Emang siapa yang minta ditiduri. Asal kamu tahu, kamu yang menyosor terlebih dahulu. Aku saja kalau ingat itu semua, geli. Geli lihat tingkahmu yang melebihi kuda liar. Ya sama dengan sikapmu sekarang yang seperti penghuni kebun binatang."


"Kamu... Berani kamu ngatain aku..?" Tangan Ruby yang melayang di udara tertahan sudah. Dan kini Ali sudah berdiri, memegang kuat tangan sang istri yang hendak menamparnya.


"Aku belum spesifik mengatai ngatai, kamu sudah marah begini. Bagaimana dengan kata kata pedasmu selama ini padaku. Kamu pikir ku tak sakit hati. Mau sampai kapan kita seperti ini terus?" Menghempaskan tangan Ruby kasar. Dan wanita itu pun termehok sudah.


"Soal kehamilan itu, kamu gak bersyukur. Suamimu yang menghamilimu. Gimana kalau pria breng-sek itu yang menjamahmu malam itu? dasar kamu gak punya pikiran. Dirimu saja yang kau pikirkan. Gak pernah kamu mikir tentang orang tuamu."


"Terkait kekasihmu yang hilang. Mau sampai kapan kamu ratapi? mikir... " Ali menunjuk kepalanya Ruby dengan penuh amarah. Ruby Melototkan matanya pada Ali. Tak terima ditunjuk tunjuk.


"Aku akan benar benar cerai darimu, setelah anak kita lahir. Dan jangan pernah mencoba untuk menggugurkannya. Sempat kamu gugurkan. Ku laporkan kamu ke pihak berwajib."


Brakk...


Hua.... Hua.... Hua...


Ruby menangis histeris di dalam mobil itu. Ia belum siap dengan semua hal yang menimpanya. Kekasihnya ternyata mengalami kecelakaan dan ia sekarang malah hamil anaknya Ali. Pria yang ia tak inginkan. memikirkan hal itu semua membuatnya pusing dan setres.


Ali mendudukkan bokongnya di trotoar. Ia sedang berfikir keras. Siapa yang bisa diminta tolong i, terkait mendapat kan supir. Ia pun akhirnya kepikiran kepada Khairiah. Seingat dia, Khairiah itu asal orang tuanya dari kota Medan. Tapi, orang tuanya tugas di kota Sibolga. Tentu Khairiah punya saudara banyak di kota itu.


Ali akhirnya menelpon Khairiah. Dan kebetulan sekali Khairiah sedang di kota itu. Ali sangat senang, Khairiah ternyata mau membantunya.

__ADS_1


"Ali....!"


Ruby yang masih meratapi nasib di dalam mobil. Dikejutkan dengan suara seorang wanita memangil suaminya itu. Ia yang penasaran membuka kaca pintu mobil. Nampaklah seorang wanita cantik menghampiri Ali.


Tadi setelah meluapkan kekesalannya. Semua ucapan Ali, berterima di kepala nya Ruby. Ya dia yang salah, ia yang tak bisa berfikir dengan dewasa. Ia selalu meledak ledak. Mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, padahal yang ia katakan semua nya adalah salah.


"Cewek itu..?" Ruby tahu cewek itu. Itu adalah wanita yang sedang bersama Ali, saat Ali berulang tahun di counter hape.


Ruby terperangah, mendapati khairiah begitu baik pada Ali. Dan kini wanita itu berjalan ke arahnya.


"Eemmm... Hai... Aku Khairiah, pengangum suamimu." Ujar Khairiah ramah, menyodorkan tangannya untuk berjabat pada Ruby yang terbengong di dalam mobil. Keningnya bahkan mengerut, heran dengan Khairiah.


"Aku Ruby." Walau terkejut bathin, mendengar ucapan Khairiah. Ruby terlihat berusaha menyikapi sikap Khairiah yang lebay dengan ramah.


"Ini sudah sore, gimana kalau kalian lanjutkan perjalanan esok hari saja, malam ini kalian nginap di rumahku." Tawar Khairiah ramah kepada Ruby.


Ruby menatap ke arah Ali, yang ekspresi wajahnya terlihat tegang dan murung.


"Terserah padanya saja." Jawab Ruby tersenyum tipis pada Khairiah. Kemudian wanita itu cepat cepat menundukkan kepalanya. Ia malu menunjukkan wajah sembabnya pada Khairiah.


"Gimana sih kalian, aku tanya Abang Ali. Bilangnya nanyain padamu. Tanyain kamu, bilangannya terserah pada Abang li. Baiklah, aku putuskan kalian nginap di rumahku malam ini." Khairiah memberi kode pada supirnya, mengambil alih mobil yang ditumpangi Ruby dan Ali.


Ruby yang masih dalam keadaan tidak stabil kejiwaannya atas hal hal mengejutkan yang terjadi hari ini, hanya bisa pasrah. Ia juga sebenarnya ingin istirahat. Badannya sakit semua. Semoga ia bisa istirahat di rumah wanita yang mengaku sebagai pengagum suaminya itu.

__ADS_1


Ruby yang tak ada rasa pada Ali. Tentu saja tak cemburu akan ucapan Khairiah. Dia memang bener bener benci sekali dengan Ali. Pernah terbersit di hati, menganggap Ali sebagai teman. Tapi, dengan masalah ia hamil. Ia kembali benci pada Ali.


TBC


__ADS_2