Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Memasak


__ADS_3

Saat ini jantung nya Ali berdegup sangat cepat. Ia sedang merasakan ketakutan yang sangat luar biasa. Ini pengalaman pertama ia berurusan dengan seorang wanita yang ada kaitannya dengan asmara.


Ia juga terbilang tak punya teman wanita selama ini. Keterbatasan fisiknya yang membuatnya minder untuk mendekati wanita. Walau sebenarnya di kampus, banyak wanita yang ingin dekat dengannya. Tentu saja ingin dekat bukan karena mau jadi kekasihnya. Tapi, karena ia pinter.


Dug


Dug


Dug


Huuftt...


Ia menghela napas dalam, dan menghembuskannya pelan. Ia tak lupa untuk membaca doa dalam hati, membaca kan ayat kursi dan suroh Al-Ikhlas. Agar wanita yang mengancamnya tadi siang, yang tak lain Istrinya, tak memakai maki dan menghinanya.


Kreekk .


Deg


Deg


Jantungnya benar benar tak bisa diajak kompromi.


Kepala nya nyelenong masuk terlebih dahulu, setelah ia berhasil membuka pintu kamar mereka.


Ia melihat sang istri sudah tertidur di atas ranjang. Dan ia kembali dikejutkan dengan sebuah tikar yang tergelar di lantai beserta satu bantal. Itu artinya ia dilarang tidur seranjang dengan sang istri.


Hhuufftt..

__ADS_1


Ali mengelus elus dadanya yang masih berdebar debar itu. Tak apa disuruh tidur di lantai beralaskan tikar. Yang penting ia tak direpeti dan di hina.


***


Dua Minggu pun berlalu.


"Ayah, Mak. Masa cutiku sudah habis. Aku harus ke kota, kembali bekerja." Ujar Ruby lembut dan sopan. Menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


Kini mereka sedang makan malam. Ada juga Ali di tempat itu.


Ali sangat susah menebak pikiran Ruby. Di hari pernikahan Ruby terus menghinanya. Dan di malam ya hingga hari ini, dua Minggu sudah mereka menikah. Ruby tak pernah menghina atau mencacinya. Tapi, istri nya itu tak pernah mengajaknya bicara sepatah katapun. Dan jika di hadapan kedua orang tuanya. Ruby bersikap biasa saja. Seolah mereka baik baik saja.


"Nak, kamu sudah menikah. Gimana kalau kalian teruskan saja usaha ayah. Urus peternakan ayam kita aja, hingga pemasarannya. Kerja di bank itu capek. Bukannya kamu pernah ngeluh dan ada rencana ingin berhenti." Jawab sang ayah.


"Gak ayah." Jawabnya cepat.


Ruby tadinya ingin berhenti kerja, jikalau sudah menikah dengan Agam. Mereka sudah sepakat setelah menikah akan menetap di Singapura. Karena di sana juga ada usaha keluarganya Agam.


"Kalau kamu kerja lagi di bank, suamimu harus bolak balik ke kota dan ke sini, urus kerjaan." Ujar sang ayah, ia sangat ingin putrinya itu meneruskan usahanya.


"Ya gak apa apa Ayah. Lagian kan aku kuliah di kota." Ali menimpali, Ia melirik ke arah Ruby yang menatapnya tajam.


Ya dari rumah mereka ke kota, hanya menempuh waktu perjalanan 1 jam naik motor atau angkot, jika ngebut 40 menit sampai.


Dulu Ruby dan Agam satu tempat kuliah, beda jurusan. Mereka kenal di Kota Medan. Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan Ruby tinggal di Kabupaten Tapanuli Tengah. Ibukotanya Pandan. Tapi, Ruby kerjanya di Kota Sibolga. Yaitu sebuah Kotamadya. Kota Sibolga itu adalah kota terkecil di Indonesia dan terkenal dengan kota ikan. Ali kuliah di kota Sibolga.


"Oohh iya ya, ayah sampai lupa, baguslah. Besok pagi kita akan sama sama berangkat ke kota Sibolga. Kita Carikan rumah kontrakan untuk kalian. Kan gak mungkin kalian tinggal di kos an Ruby.

__ADS_1


"Eemm... Gak usah ayah. Menurutku, kami gak usah tinggal sama. Kan Si Ali, ke sini lagi urus peternakan. Jadi untuk hemat pengeluaran, aku tetap di kos an ku saja.


"Gak, gak. Ayah gak setuju. Kalian gak boleh pisah. Sebaiknya suami istri harus tinggal serumah." Tegas Haji Zainuddin.


Ruby yang terlihat kesal, menundukkan kepalanya. Malas susah berdebat. Ia sudah diancam sang ayah. Di malam setelah pernikahan saat ia ngamuk.


Haji Zainuddin mengatakan. Jika Ruby tak mau menerima Ali sebagai suami, ia akan di keluarkan dari daftar keluarga. Untuk apa punya anak yang tak bisa dengarkan kata orang tua dan buat malu. Dulu ayahnya sudah melarang nya untuk tidak menikah dengan Agam. Tapi, Ruby ngotot, dan ini lihatlah hasilnya.


Acara makan malam pun selesai. Ruby terlihat mempacking barang-barangnya begitu juga dengan Ali. Walau ada dua manusia yang di dalam ruangan itu. Mereka tak pernah komunikasi. Ali sebenarnya ingin bicara, tapi terlihat ekspresi Ruby tak ingin diajak bicara. Jadilah Ali yang penakut pada wanita ikutan diam.


Pagi pagi sekali mereka sudah berangkat ke kota Sibolga. Saat diperjalanan Haji Zainuddin mengatakan rumah untuk mereka tempati sudah ada. Haji Zainuddin yang punya koneksi banyak, tentu dalam waktu satu jam, sudah dapat rumah yang siap untuk ditempati oleh pengantin baru itu.


Sebelum memasuki rumah untuk mereka tempati. Terlebih dahulu Ruby mengajak Ayah, Ibu beserta suaminya ke kos an nya. Tujuannya tak lain untuk mengambil barang barangnya.


Ini pertama kali Ali datang ke kos an Ruby. Kamar Kos an nya tidaklah besar. Hanya berukuran 3x3 meter. kamar mandi sudah ada di dalam. Di dalam kamar itu ada tempat tidur ukuran 3 kaki. Tv, lemari dan kulkas. Jikalau dibandingkan dengan kamar nya Ali yang di Mesjid tentu, kamarnya Ruby ini sangat mewah untuknya.


Semua barang barangnya Ruby di kos an lama, diangkut ke rumah baru. Kecuali ranjang. Karena ranjang itu milik si empunya kos.


Kini mereka sudah sampai di rumah yang mereka kontrak. Rumah mungil dengan satu kamar. Yang di hadapannya ada view pantai yang bersih. Ruby menyukai model rumah itu. Lingkungan nya juga bersih walau dekat pantai.


Semuanya saling bergotong royong mengatur barang barang yang di tempat kan di rumah itu. Haji Zainuddin senang sekali. Ternyata putrinya itu gak suka membantah lagi, atau protes soal Ali yang jadi suaminya. Haji Zainudin jadi semakin percaya pada Ali, jikalau pria itu bisa membimbing putrinya.


Walau tangan sebelah kirinya Ali tak berfungsi dengan baik. Ia tetap ikut bekerja membersihkan rumah dan mengangkat angkat barang. Hingga sore pun tiba, orang tuanya Ruby, izin pulang. Tinggal lah pasangan pengantin baru itu di rumah.


Baru juga mobil sang ayah meninggalkan rumah. Mereka berdua pun masih berdiri di halaman rumah itu. Dan Ali dikejutkan dengan sang istri yang mengajak nya bicara.


"Aku lapar, kamu tahu agama kan? beli kan aku makanan sekarang. Kalau kamu tak ada duit belikan aku makanan. Kamu masak sekarang..!" ujar Ruby dengan tatapan benci dan penuh jijik menatap Ali yang membuat hati Ali berdenyut sakit mendengarnya.

__ADS_1


Ia tak masalah disuruh memasak, tapi cara bicaranya Ruby yang kasar yang membuatnya tersinggung. Dua minggu mereka tinggal di rumah Haji Zainuddin. Ruby tak pernah berucap kasar lagi. Tapi, hari ini, ia kembali direndahkan.


TBC


__ADS_2