Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Cari tempat beranak


__ADS_3

"Iya Dek, iya sayang....!" sebentar, aku cari Fauzan dulu ke Mesjid." Ujar Ali panik, ia berlari cepat ke Mesjid yang jaraknya dari rumah Haji Zainuddin hanya kelang satu rumah. Saat sampai di basecamp Mesjid itu. Tak ada Fuazan di sana. Mesjid juga sedang sepi. Karena memang waktu sholat Dzuhur belum tiba. Masih pukul 10 pagi.


"Ya Allah... Si Fauzan ke mana?" ujarnya panik, berlari kembali ke rumah mertuanya. Saat ini di kampung itu sedang sunyi. Karena masyarakat disitu sedang beraktifitas cari Rezeki.


"Ma... Sakit... Ma...!" Ali yang sudah ada di teras rumah dibuat panik dengar tangisan sang istri. Selama tiga hari ini, Ruby masih bisa merasakan sakit yang tiba tiba muncul. Tapi, kalau saat ini. Ia tak tahan lagi.


"Iya sabar, aku ambil perlengkapan dulu." Ali berlari ke kamar. Mengambil tas perlengkapan melahirkannya Ruby.


Ruby sudah ambil cuti lahiran. Jadi sejak itu mereka memilih tinggal di rumah orang tuanya Ruby.


"Mana si Fauzan..!" Ujar Ruby dengan muka berkerut menahan sakit. Apalagi sakit yang ia rasakan sudah hampir tak berzeda lagi.


"Dia gak ada di Mesjid. Tunggu sebentar di sini. Aku carikan becak dulu ke simpang." Rumah mereka yang agak masuk gang. Jarang dilewati becak motor. Jadi harus ke jalan besar.


"Iya, cepat...!" ujar Ruby. Mengangkat tas nya ke teras rumah. Ia juga mengunci rumah mereka. Kemudian ia merasakan sakit yang parah itu, memilih duduk di kursi. Dengan memegangi pinggangnya yang terasa mau patah.


"Ya Allah... Begini rasanya mau lahiran... Aduhhhh.. Aku gak mau lagi.. Sakit sekali...!" keluhnya dengan kesusahan menelan ludahnya. Bahkan kini keringat sebiji jagung sudah membasahi kening wanita itu.

__ADS_1


"Lama sekali dia cari becaknya. Apa dia gak bisa lari lebih cepat. Ahdeuuhhh.... Nasib punya suami cacat dan miskin ya gini. Ya Tuhan ku..... Berilah aku kebahagiaan...!" Wanita kalau sudah panik, mulutnya jadi kurang terkontrol. Apalagi tipe wanita nya seperti Ruby yang karakternya frontal.


"Di sini bang... Berhenti..!" ujar Ali heboh dan panik. Saat menunjukkan alamat rumahnya. Ia melompat dari becak itu. Berlari dengan pincang ke teras rumah.


Ia memapah sang istri berjalan ke becak.


Huhuhuhu ..


Ruby menangis, biasanya seorang suami, akan menggendong istrinya yang kesakitan saat mau lahiran. Seperti yang dilihatnya di Tv dan di sekitarnya. Dan moment itu tak akan pernah dirasakannya. Karena suaminya cacat.


Hua..


Wanita itu semakin kencang saja menangis. Ia sudah duduk di jok becak.


"Kita ke mana bang?" tanya tukang becak. Melirik ke arah mereka.


"Ke rumah sakit ." Jawab Ali cepat.

__ADS_1


"Rumah sakit di kota bang. Satu jam ke sana." Sahut Supir becak.


"Iya ya?" Ali nampak bingung. Selama ini mereka chek up ke rumah sakit. Pakai kartu BPJS. Mereka membuat BPJS, karena katanya anaknya sungsang.


"Bang, bawa aku ke Bidan Nur. Itu juga bagus." Ujar Ruby dengan napas yang tersengal sengal. Apalagi kini sakitnya minta ampun.


"Tapi sayang, kamu mau di operasi."


"Ke situ dulu. Di cek dulu... Siapa tahu dia gak sungsang lagi. Minggu lalu, saat kita cek kandungan ke bidan Nur. Katanya gak sungsang lagi." Jelas Ruby meringis kesakitan.


"Bang cepat ke Bidan Nur."


"Ini sudah di depan rumah bidan Nur. Tapi, tutup!" jelas Abang tukang becak. "Kalau gak kita ke Puskesmas saja bang. Nanti BPJS nya bisa dipakai di sana."


"Bukan soal BPJS nya bang. Gak usah pakai BPJS. Aku masih bisa biaya istriku. Sekarang di mana tempat yang cepat untuk bantu istriku lahiran." Ujar Ali panik, masih merangkul Ruby yang terus saja meringis kesakitan.


"Kalau mau dekat, ya ke puskesmas saja bang." Sahut Abang tukang becak, ngegas motornya. Syukur jalanan sudah mulus.

__ADS_1


TBC


__ADS_2