
"Masih pagi, gak usah kamu ceramahin aku." Ketus Ruby menantang.
"Gak usah suruh suruh aku." Jawab Ali cepat, dengan nada menantang juga.
"Waaaww... Berani kamu. Mau ku laporin sama ayah?" Ruby melototkan kedua matanya.
"Silahkan anda melapor. Tentu aku akan buat pembelaan. Aku juga akan katakan, sikap kakak yang tak beradab."
"Sikap yang mana? kamu jangan ngarang. Dari awal aku sudah gak mau nikah denganmu." Ujarnya menatap sinis Ali yang masih berdiri dekat kompor.
"Emang siapa yang mau menikah dengan kakak?" tanya Ali dengan percaya dirinya.
"Hei, aku cantik dan berpendidikan. Tentu banyak yang mau denganku. Termasuk kamu!" Menunjuk dengan ekspresi kesal.
"Banyak yang mau?" Ali menautkan kedua alisnya dengan ekspresi wajah tak percaya. "Calon suamimu saja meninggalkanmu." Tegas Ali tertawa kecil. Meledek Ruby.
Praakk...
Gelas yang ada di tangannya Ruby terjatuh. Ia terkejut bathin mendengar ucapan Ali. Jika membahas hal itu, ia akan droop. Mood nya jadi rusak.
"Awas kamu!" menunjuk Ali, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Hihihi...
Ali merasa lucu dengan tingkah sang istri. Istrinya itu aneh, apa sudah setres karena ditinggal cowoknya.
"Aduuhh... Kasihannya?!" ujarnya sendiri, ia masih senyam senyum karena mengingat interaksi mereka pagi ini.
"Jangan harap, aku mau kamu tindas lagi." Ali yang merasa lapar, memutuskan untuk memasak.
Tentu saja wangi masakan Ali, merebak ke seluruh penjuru dapur dan ke seluruh ruangan di rumah itu, hingga mengundang selera untuk segera mencicipinya.
Ruby yang tadinya kesal pada Ali. Menghampirinya juga ke dapur. Ia sudah siap berdandan dan akan berangkat kerja.
"Ayo kak kita makan dulu!" Ali tersenyum tipis pada Ruby yang berdiri di ambang pintu dapur.
"Aku bukan kakakmu, jadi gak usah panggil aku kakak." Jawabnya kesal, ia gak suka dengan sikap Ali pagi ini yang sok akrab.
"Oohh... iya aku lupa, kalau kamu itu sudah jadi istriku."
__ADS_1
"Heii... Aku tak izinkan ya mulutmu itu sebut aku istrimu." Menunjuk kesal Ali dengan wajah merah padam. "Siapa juga yang sudih punya suami cacat."
Deg
Walau sudah sering orang mencacinya, terkait fisiknya. Tetap saja, hati terasa ngilu mendengar disaat ada orang lain mencaci kekurangan kita.
Ali pun akhirnya bungkam. Ia menyiapkan peralatan makan di atas meja. Tentu saja ia menyiapkan peralatan makan untuk dua orang.
"Ayo makan!" ujarnya lembut, mendudukkan bokongnya, tak mau menatap ke arah sang istri lagi.
Ruby yang merasa tak enak hati, karena terlanjur mencaci Ali. Memutuskan tak mau ikut sarapan. Ia meninggalkan dapur.
Ali mengejar Ruby ke ruang tamu, tentu saja berjalan pincang. Ia harus memastikan Ruby sarapan dulu. Saat ia sampai di ruang tamu. Ternyata Ruby sedang mengeluarkan motornya.
Ali pun akhirnya terdiam di tempat. Ingin membantu Ruby mengeluarkan motor dari rumah. Ia tak bisa. Tangannya hanya satu yang berfungsi dengan baik.
"Apa lihat lihat? gak bisa bantuin. Gak usah jadi penonton." Ujar Ruby dengan muka masam. Ia kesal dengan nasib dirinya yang punya suami cacat. Padahal di angan angan dan impian suaminya adalah pria tampan dan kaya. Eehh.. Dapat jodoh miskin, cacat lagi. Siapa coba yang tak kesal, sampai ke ubun-ubun.
"Tunggu sebentar, aku buatkan bekal untuk kamu bawa." Ujar Ali berdiri di teras rumah.
"Gak, mulai saat ini. Aku gak mau makan masakanmu lagi. Nanti kamu buat guna guna lagi."
"Apa? kalau gak bener, gak usah marah aku ngomong gitu." Jawab Ruby cepat. Menyalakan mesin motornya dan tancap gas.
Ali mengusap usap dadanya yang terasa sakit dan sesak itu. Sanggupkah ia bertahan selama satu tahun hidup bersama dengan istrinya itu? Haji Zainuddin tak mengijinkannya untuk menceraikan Ruby.
***
Ruby melajukan motornya dengan perasaan kacau. Ia masih belum terima dengan nasibnya yang ditinggalkan Agam dan malah menikah dengan Ali si pria miskin dan cacat.
"Ya Allah... Kenapa kamu beri aku cobaan seberat ini? kenapa aku harus menikah dengan Ali? kenapa Ya Tuhan?" Ucapnya terisak sambil menyetir. Ia langsung membuka kaca helm nya. Untuk melap air matanya yang jatuh tanpa permisi itu. Karena ia merasa penglihatan nya sudah berkabut.
"Bagaimana nasibku kelak? mana mungkin aku bisa bahagia bersanding dengan pria cacat?" keluhnya lagi masih mengendarai sepeda motornya.
"Bagaimana aku menjelaskan pada teman temanku soal aku yang dihari pernikahan malah menikah dengan pria lain? eeehh... tunggu, tunggu.. Seperti nya teman kerjaku gak tahu apa yang terjadi. Karena mereka sedikit pun gak curiga soal Ali." Ruby yang tak percaya diri punya suami seperti Ali. Sudah meniatkan dalam hati, tak akan pernah mengenalkan Ali lagi pada teman kerjanya.
Kalau ada acara sosial di kantornya, ia tak akan pernah akan mau ajak Ali si pria cacat itu.
Sesampainya di kantor. Tentu teman teman kompaknya Ruby menyambutnya dengan antusias. Ucapan selamat kembali ia terima dari teman kerja yang tak bisa hadir dalam resepsi pernikahannya. Ia juga banyak dapat pujian dari kawannya. Yang mengatakan bahwa suaminya sangat tampan. Ia dan sang suami pasangan serasi. Apalagi saat itu Ali pakai kaca mata mahal. Kesannya Ali seperti seorang eksekutif muda saja. Jas yang dikenakan Ali, bisa menutupi cacat fisiknya.
__ADS_1
Ruby hanya tersenyum kecut. Menanggapi coletehan teman kerjanya. Gimana reaksi kawannya kalau tahu, calon suaminya lari di hari pernikahan dan digantikan oleh suami yang cacat dan miskin. Padahal Ruby sempat cerita, kalau suaminya kaya dan tampan.
Ya Allah... Lindungi aku dari aib ini. Kenapa aku dapat suami cacat? haruskah aku cepat cepat pisah darinya? tapi, ayah mengancamku? sempat aku dan Ali bercerai, aku tak akan dianggap anak lagi oleh orang tuaku?
Ruby tak henti hentinya bermonolog. Mereka yang sudah apel pagi dan dilanjutkan briefing pun tak konsentrasi lagi mendengarkan apa yang dikatakan oleh pimpinannya.
"Eehhmm.. Pengantin baru, Ruby.. ada yang mau ditanyakan?" tanya Pak Subroto pimpinan Ruby di divisinya.
Ruby masih melamun, memikirkan masalah hidupnya.
"Ruby.. Ruby Azahra..?"
"Eeehh iya pak." Jawabnya kikuk, ia mendengar pak Subroto memanggil dengan suara keras
"Hadeuhh... pikiran nya masih tertinggal di rumah ternyata." Ujar Pak Subroto tersenyum tipis.
"Maklum pak, pengantin baru." Celetuk salah seorang pegawai berjenis kelamin pria.
Hihihi..
Beberapa karyawan tertawa, melihat ekspresi wajah Ruby yang bingung.
"Apa.. Kenapa?" tanyanya pada teman di sebelahnya.
"Pak Subronto nanyak. Semalam kamu tidurnya jam berapa?"
"Oohh.. Itu." Ruby kini menatap ke arah atasannya
"Lapor pak, aku baru bisa tidur setelah jam dua."
Kwkekwkkek
Ruby kembali jadi bahan tertawaan. Itu akibat banyak pikiran dan durhaka pada suami. Di luar rumah jadi bahan ledekan orang.
Ruby semakin bingung. Ia kenapa jadi bahan tertawaan di pagi ini.
Ia pun akhirnya tersadar, apa arti dari kawannya yang tertawa cekikikan. Ia akhirnya menunduk, malu sudah.
TBC
__ADS_1
Novel ini ternyata sepi... 🙂