
Kini tibalah mereka di depan sebuah rumah gedong lantai dua. Ruby cukup terkejut mengetahui bahwa wanita yang menyukai suaminya itu, ternyata anak orang kaya.
"Ayo masuk... Anggap saja rumah sendiri. Ayah dan bunda, lagi gak disini. Mereka masih di kota Sibolga." Ujar Khairiah ramah.
Setelah masuk ke rumah yang interior klasik itu. Ruby mendudukkan bokongnya Di sofa empuk warna coklat. Begitu juga dengan Khairiah yang memilih duduk satu sofa dengan Ruby. Dan Ali duduk dihadapan kedua wanita itu.
Ali sungguh tercengang mengetahui fakta kalau Khairiah anak orang yang sangat kaya. Ia tahu sih Khairiah anak orang kaya, karena ke kampus Khairiah mengendarai mobil. Tapi, ia tak tahu kalau Khairiah sekaya ini. Rumahnya aja gedong. Tapi, koq mau kuliah di tempatnya. Kenapa gak kuliah di tempat yang bagus. Di Jakarta atau di luar negeri misalnya.
"Seneng bisa bertemu denganmu." Memegang lembut tangan Ruby. Hal itu membuat Ruby terkejut. KHairiah ramahnya kebangetan.
"Oouu.. Iya, saya juga. Aku pernah lihat kamu dan su, suamiku viral di Sosmed." Jawab Ruby gugup. Ia merasa seperti sedang di persidangan saat ini, suasananya sangat menegangkan.
"Yuk kita bicara di kamar!" meraih tangan Ruby, agar bangkit. "Pak, antarkan Abang Ali ke kamar nya." Menatap sang pelayan.
"Baik non." Menundukkan kepala penuh hormat. "Ayo tuan, kamar nya di sebelah sana." Ujar pelayan pria itu ramah. Ali mengikuti langkah sang pelayan. Sedangkan Ruby mengikuti langkah Khairiah.
Sesampainya di dalam kamar yang luas dan megah itu. Khairiah langsung melempar tubuh nya di ranjang empuk itu. Sedangkan Ruby, masih berdiri dengan canggung.
__ADS_1
"Ayo duduk di sini kak." Khairiah kini sudah mengubah posisinya jadi mereng berpangku kepala. Menepuk ranjang kosong di sebelahnya.
Ruby dengan canggungnya mendudukkan bokongnya di ranjang itu. Kedua matanya kini menyoroti ruang kamar yang luas itu. Kamar mandinya saja, lebih luas dari kamar nya Ruby di kampung.
"Heran ya? wajar sih heran. Tapi, kalau aku gak heran koq lihat kakak. Ya, karena aku tahu semua tentang kakak dan Abang Ali." Khairiah membuka percakapan penuh kepercayaan diri.
"Dia cerita padamu?" tanya Ruby mulai kesal, ingin menyalahkan Ali kembali.
"No... No... No... Abang Ali mana pernah ceritain tentang kakak." Khairiah mengerakkan telunjuknya.
"Terus kamu tahu dari mana?" Ruby yang juga punya sikap sombong. Mulai menunjukkan sikapnya. Apalagi kalau ada orang lebih dari dia sok nya. Dia gak terima.
"Gak malu kamu, ngaku terang terangan menyukai suami orang." Hihihi... Ruby menertawakan Khairiah.
"Emang kakak ngakuin dia sebagai suami. Kan tidak! bahkan kakak datang ke kota ini, mau jumpai kekasihnya yang keberadaannya tak diketahui." Khairiah bicara sombong.
"Sok tahu kamu."
__ADS_1
"Emang aku tahu semua. Termasuk kejadian kamu mau diperkosa di hotel. Makanya jadi wanita jangan ganjen."
Khairiah menampilkan ekspresi kesal pada Ruby yang juga ikut kesal. Koq banyak sekali yang mau ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka.
"Bagimu suami mu tak berharga. Karena kamu membencinya. Dimata orang yang membenci, apa yang kita lakukan memang selalu salah. Ya seperti Abang Ali yang selalu salah di matamu. Sebenarnya bukan Abang Ali yang salah, tapi pikiranmu itulah yang salah dan perlu di reparasi. Pikiranmu itu mirip seperti badak. Tahu hewan badak kan? badak itu tidak akan bisa melihat kebaikan pada orang lain karena selalu terhalang oleh culanya sendiri." Jelas Khairiah nyolot.
"Kamu ...!"
Ruby geram, tangan nya sudah melayang ingin menampar mulutnya Khairiah, yang lancar seperti jet mengamatinya seperti badak.
"Berani kamu, ini di rumahku loh." Menatap tajam Ruby.
Khairiah sudah tahu semua sikap dan perbuatan Ruby pada Ali. Tentu saja ia dapat infonya dari Fauzan. Digosok uang, semua info didapatkan.
Ruby merasa harga dirinya hancur. Ia keluar dari kamar itu dengan berlinang air mata. Hari ini sudah dua orang menyudutkannya. Memberikannya kritikan pedas.
Ruby yang sedang kesal. Akhirnya memilih pergi dari rumah itu. Khairiah tidak menyangka Ruby benar benar pergi. Karena saat Ruby keluar dari kamar itu. Khairiah tak menyusulnya.
__ADS_1
Ia menyadari kepergian Ruby, setelah ia turun ke lantai satu, menjumpai Ali di kamarnya dan menanyakan keberadaan Ruby. Tentu saja Ali dibuat heran dengan pertanyaan Khairiah. Karena sejak tadi ia tak berjumpa dengan Ruby. Ali memilih istirahat di kamar itu. Karena ia merasa kepalanya ingin pecah. Saking sakitnya, memikirkan masalahnya dengan Ruby.
TBC